Sucor Sekuritas Bongkar Valuasi GOTO, Segini Harga Wajarnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dinilai kian menarik setelah batas bawah harga saham Rp 50 ditiadakan. Perbaikan profitabilitas, pertumbuhan bisnis fintech, serta pendapatan berulang dari kemitraan e-commerce menjadi sejumlah faktor yang menopang prospek saham GOTO.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas dalam riset terbarunya menginisiasi rekomendasi beli saham GOTO dengan target harga Rp 32 per saham. Rekomendasi tersebut didasarkan pada penilaian terhadap bisnis layanan on-demand, fintech, pendapatan jasa e-commerce, serta kepemilikan saham di Bank Jago. Harga saham GOTO saat ini belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kinerja operasional perusahaan.
Analis Sucor Sekuritas Keren Chow dan Niko Pandowo mengatakan, target harga Rp 32 tersebut dihitung berdasarkan metode sum-of-the-parts (SOTP), yaitu nilai Rp 8,7 triliun untuk bisnis layanan on-demand atau on-demand services (ODS), Rp 6 triliun untuk fintech, Rp 6,3 triliun untuk pendapatan jasa e-commerce, serta Rp 2,2 triliun untuk kepemilikan saham GOTO di Bank Jago (ARTO).
Baca Juga
Dari Market Cap Rp400 Triliun Jadi Rp34,21 Triliun, Saham GOTO masih Layak Dibeli?
“Setelah memperhitungkan kas yang diproyeksikan mencapai Rp 22,5 triliun pada 2026 dan mengurangi utang Rp 9,1 triliun diperoleh ekuitas GOTO sebesar Rp 36,6 triliun. Dengan harga sekarang, pasar telah mendiskon saham GOTO sebanyak 15% terhadap nilai bisnis berdasarkan perhitungan SOTP. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar rekomendasi buy dengan target harga Rp 32 per saham,” tulisnya.
Sucor Sekuritas melanjutkan bahwa profitabilitas menjadi salah satu faktor utama yang menopang prospek saham GOTO. Pada semester I-2026, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau profit after tax attributable to parent entity (PATMI) mencapai Rp 607 miliar. EBITDA disesuaikan atau adjusted EBITDA meningkat lebih dari dua kali lipat secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 1,92 triliun.
Pencapaian ini menunjukkan adanya perbedaan antara pergerakan harga saham yang melemah dan kinerja profitabilitas perusahaan yang membaik. “Perbedaan ini menjadi dasar pandangan bahwa valuasi GOTO mulai menawarkan peluang investasi setelah penyesuaian harga saham,” tulisnya.
Di sisi lain, bisnis fintech semakin berperan dalam menopang kinerja GOTO, terutama ketika bisnis layanan on-demand menghadapi tekanan dari kebijakan pembatasan komisi. Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih fintech meningkat 53% secara tahunan menjadi lebih dari Rp2 triliun. Jumlah pengguna aktif bertransaksi bulanan atau monthly transacting users (MTU) tumbuh 29% yoy menjadi 28,8 juta pengguna.
Baca Juga
Begini Proyeksi Harga Saham GoTo (GOTO) Usai Lepas dari Jerat ‘Gocap’
Pertumbuhan tersebut memperkuat peran ekosistem transaksi GOTO dalam mendukung distribusi produk pinjaman melalui GoPay. Basis pengguna yang telah terbentuk, ditambah data transaksi dan pembayaran, dinilai dapat mendukung proses penilaian kelayakan kredit.
Perubahan kontribusi laba juga mulai terlihat pada kuartal II-2026. EBITDA disesuaikan fintech mencapai Rp481 miliar, melampaui ODS yang sebesar Rp464 miliar. Ini menjadi kali pertama kontribusi EBITDA fintech melampaui ODS. Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan struktur sumber keuntungan GOTO, dari yang sebelumnya lebih bertumpu pada mobilitas dan layanan pengantaran menjadi semakin didukung oleh bisnis jasa keuangan.
Batas Komisi 8%
Terkait penerapan batas komisi 8% menjadi tantangan bagi bisnis ODS GOTO. Hal ini mendorong manajemen untuk menurunkan proyeksi EBITDA disesuaikan ODS untuk 2026 menjadi Rp 1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun. Namun, penurunan proyeksi tersebut diimbangi oleh peningkatan prospek bisnis fintech. Manajemen menaikkan panduan EBITDA disesuaikan fintech menjadi Rp 1,7-1,8 triliun dari sebelumnya Rp 1,4-1,5 triliun.
Baca Juga
Dengan perubahan tersebut, panduan EBITDA disesuaikan GOTO secara grup tetap dipertahankan pada kisaran Rp 3,2-3,4 triliun untuk 2026. Kenaikan proyeksi fintech menjadi penopang penting dalam menghadapi tekanan terhadap bisnis ODS. Perubahan komposisi laba ini juga mengurangi dampak penurunan prospek ODS terhadap panduan kinerja grup secara keseluruhan.
Faktor lain yang menopang prospek GOTO adalah kemitraan dengan Tokopedia. Melalui skema kerja sama tersebut, GOTO memperoleh pendapatan jasa atau service-fee revenue sebesar Rp 551 miliar pada semester I-2026, tumbuh 32% yoy. Model bisnis ini memberikan eksposur terhadap perkembangan ekosistem Tokopedia dan TikTok Shop tanpa mengharuskan GOTO menanggung seluruh beban operasional bisnis e-commerce.
Selain memperoleh pendapatan jasa, GOTO masih mempertahankan 24,99% kepemilikan saham di Tokopedia. TikTok sebelumnya juga berkomitmen menyediakan pendanaan lebih dari US$1,5 miliar untuk entitas gabungan tersebut tanpa menyebabkan dilusi lebih lanjut bagi GOTO berdasarkan ketentuan transaksi awal.
