Bitcoin Menguat di Tengah Tekanan Emas, Analis Lihat Potensi ke US$100.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) menunjukkan ketahanan di tengah kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS. Pada perdagangan 29 September 2026, BTC kembali berada di kisaran US$84.000 setelah sempat turun ke sekitar US$82.500.
Menilik data Coinmarketcap, Rabu (30/9/2026) pukul 06.15 WIB, BTC naik 0,45% ke posisi US$83.801 setelah menyentuh level terendah sekitar US$82.516 pada perdagangan sebelumnya. BTC sebelumnya sempat mencapai level tertinggi sekitar US$87.315 pada pekan lalu.
Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS. Imbal hasil Treasury 30 tahun sempat mencapai 5,58%, sedangkan imbal hasil Treasury 10 tahun menyentuh sekitar 5,26%, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah kondisi tersebut, harga emas justru mengalami tekanan. Emas turun hampir 4% pada Senin (28/9/2026), sebelum bergerak di sekitar US$4.150 per troy ounce pada Selasa.
Baca Juga
Nasib Bitcoin di Tangan Data AS, Ini 5 Indikator yang Ditunggu Pasar
Sementara itu, pergerakan Bitcoin di atas US$80.000 menjadi perhatian pelaku pasar karena level tersebut sebelumnya dipandang sebagai area resistensi penting.
Melansir Coindesk, Rabu (30/9/2026) Direktur Global Macro Fidelity Investments Jurrien Timmer mengatakan, penembusan level US$80.000 dapat mengonfirmasi pola double bottom yang secara teknikal memiliki target US$100.000.
Dalam analisisnya, Timmer menunjukkan dua titik terendah Bitcoin pada sekitar US$60.033 dan US$57.742, dengan area sekitar US$82.800 sebagai puncak di antara kedua titik tersebut. Pola double bottom berbentuk seperti huruf W dan biasanya digunakan untuk mengidentifikasi potensi perubahan tren setelah harga menembus level resistensi.
Namun, pola teknikal tersebut tidak menjamin kenaikan harga. Bitcoin masih menghadapi risiko volatilitas, terutama di tengah kondisi makroekonomi global dan meningkatnya tekanan pada pasar aset berisiko.
Baca Juga
Bitcoin Relatif Stabil di Akhir Pekan Ini, Altcoin Menguat dan Bitget Mulai Pulihkan Penarikan
Selain faktor teknikal, pasar opsi juga menunjukkan adanya posisi pada level harga yang lebih tinggi. Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan pasar, call option Bitcoin dengan strike price US$90.000, US$95.000, dan US$100.000 termasuk kontrak dengan open interest besar di bursa Deribit.
Di sisi lain, analis Bitfinex menilai Bitcoin masih membutuhkan permintaan spot yang kuat untuk dapat menembus kembali level US$87.000.
Dengan demikian, level US$80.000 menjadi area penting yang perlu diperhatikan setelah Bitcoin mampu bertahan di atasnya. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada kekuatan permintaan, kondisi likuiditas global, serta perkembangan imbal hasil obligasi AS.
