Haji Isam Masuk Bayan (BYAN), Prospek Saham BYAN Makin Positif Usai Tambahan RKAB
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Masuknya Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama ke PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi angin segar bagi prospek emiten batu bara tersebut. Kehadiran pemegang saham baru dengan posisi strategis di bisnis batu bara, jasa pertambangan, dan logistik datang bersamaan dengan persetujuan tambahan kuota produksi 15 juta-20 juta ton bagi tiga anak usaha BYAN.
Pengendali Bayan (BYAN), Low Tuck Kwong dan putrinya Elaine Low, telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat sebanyak 10 miliar atau berksiar 30% saham BYAN dengan Jhonlin Baratama milik Samsudin Andi Arsyad atau yang dikenal sebagai Haji Isam. Penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat pada 16 September 2026.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, transaksi pelepasan sekitar 30% saham BYAN kepada Jhonlin Baratama tidak menunjukkan indikasi sebagai langkah akibat tekanan keuangan di level perseroan. “Kami belum melihat indikasi penjualan 30% ini didorong financial distress di level BYAN,” kata Liza, dikutip pada Selasa (22/9/2026).
Baca Juga
Menurut Liza, fundamental BYAN sebelum isu Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) mencuat masih cukup kuat. Pada semester I-2026, pendapatan BYAN tumbuh 7,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$1,74 miliar. Laba bersih juga meningkat 17,5% yoy menjadi US$410 juta. Selain itu, rasio utang terhadap EBITDA diperkirakan masih berada di bawah 0,5 kali.
Usai Jhonlin Baratama masuk, Bayan (BYAN) langsung mendapatkan tambahan kuota produksi batu bara sekitar 15 -20 juta ton untuk tiga anak usaha Bayan. Tambahan kuota tersebut mulai meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko penurunan produksi BYAN. Sebelumnya, Moody's memperkirakan produksi BYAN pada 2026 hanya sekitar 39 juta ton, turun dari 68 juta ton pada 2025.
Moody's juga sebelumnya memperkirakan penurunan produksi tersebut dapat membuat EBITDA BYAN turun sekitar 36% menjadi US$700 juta dari US$1,1 miliar. “Dengan tambahan kuota produksi 15 juta-20 juta ton, prospek kinerja BYAN menjadi lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya,” ungkapnya.
Meski demikian, Liza mengingatkan tambahan kuota produksi tersebut belum otomatis terealisasi seluruhnya tahun ini. Investor tetap perlu mencermati kemampuan BYAN mengonversi tambahan kuota tersebut menjadi produksi dan laba.
Haji Isam Punya Posisi Strategis
Transaksi Jhonlin Baratama merupakan secondary share sale. Dengan demikian, dana hasil transaksi tidak masuk ke kas BYAN, melainkan diterima Low Tuck Kwong dan Elaine Low sebagai pemegang saham penjual. Oleh karena itu, transaksi tersebut tidak memberikan fresh capital secara langsung kepada BYAN maupun mengubah neraca perseroan.
Namun, masuknya Jhonlin sebagai pemegang sekitar 30% saham BYAN menambah perhatian terhadap struktur kepemilikan dan pengendalian perseroan setelah transaksi. Aksi penjualan saham tersebut dinilai cenderung mengarah pada monetisasi pemegang saham atau restrukturisasi kepemilikan, bukan aksi penyelamatan keuangan. “Singkatnya, this is a shareholder monetisation event, not a capital raising by BYAN,” tegas Liza.
Hingga kini, belum ada keterbukaan mengenai peruntukan dana hasil transaksi oleh pemegang saham penjual. Termasuk nilai transaksi saham tersebut.
Baca Juga
Liza juga menilai Jhonlin memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan investor finansial biasa. Haji Isam memiliki posisi strategis di bisnis batu bara, jasa pertambangan dan logistik. Hal tersebut menjadi salah satu aspek yang menjadi perhatian pasar dalam melihat masuknya Jhonlin ke BYAN.
Meski demikian, Liza menegaskan belum ada bukti bahwa koneksi politik menentukan harga transaksi ataupun membuat penjual terpaksa menerima harga murah. Kementerian ESDM juga menyatakan bahwa persetujuan RKAB tidak berkaitan dengan transaksi Jhonlin-BYAN. “Jadi kita belum punya bukti bahwa political connection menentukan harga atau membuat seller 'terpaksa' menerima harga murah,” imbuh Liza.
Di sisi lain, valuasi saham BYAN tetap menjadi perhatian. Liza memilih menyebut saham BYAN memiliki valuasi yang richly valued, ketimbang secara langsung menyebutnya overvalued. Sebelum transaksi diumumkan, harga saham BYAN berada di sekitar Rp 11.525 per saham. Dengan harga tersebut, kapitalisasi pasar BYAN mencapai sekitar Rp 384 triliun atau setara 30 kali P/E 2025. Angka tersebut berada jauh di atas mayoritas emiten batu bara Indonesia yang menurut Liza masih berada di kisaran 6-8 kali P/E.
Menurut Liza, tambahan kuota produksi 15 juta-20 juta ton memperbaiki prospek kinerja BYAN. Namun, kesenjangan valuasi dengan perusahaan sejenis masih lebar. “BYAN mungkin tidak terlalu mahal dibanding sejarah valuasinya sendiri, tetapi tetap sangat mahal dibanding sector peers,” tandas Liza.
Saham BYAN Melemah 9,71%
Sementara itu, investor masih mencermati perkembangan transaksi Jhonlin-BYAN, termasuk harga transaksi 30% saham, struktur pengendalian setelah transaksi, serta kemampuan perseroan merealisasikan tambahan kuota produksi.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Uji Support 6.200, Sebaliknya Saham BIPI hingga CUAN Layak Dilirik
Dihubungi secara terpisah, Head of Research Retail and Technical Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyarankan investor untuk wait and see terhadap saham BYAN. Analis yang akrab disapa Didit tersebut memprediksi level support saham BYAN berada pada Rp11.100, sedangkan resistance berada di Rp12.700.
Berdasarkan data, isu masuknya Haji Isam sempat mendongkrak harga saham BYAN hingga Rp 18.650 pada peradgangan intraday 19 Agustus 2026. Namun demikian pada penutupan perdagangan BEI kemarin, saham BYAN ditutup justru melemah hingga akhirnya ditutup ke level Rp 11.850.
