Harga Minyak Turun Meski Perang Memanas, Ekspor Saudi dan Harapan Damai Jadi Penahan
Poin Penting
|
NEW YORK, Investortrust — Harga minyak dunia turun tajam pada perdagangan Senin (21/9/2026) ketika pelaku pasar melihat dua kemungkinan yang meredakan kekhawatiran pasokan. Yakni, pengiriman minyak Arab Saudi mulai pulih melalui rute lain dan terbukanya peluang diplomasi Amerika Serikat–Iran di sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Penurunan itu terjadi meskipun pertempuran di Yaman dan serangan yang diklaim kelompok Houthi terhadap sasaran di Arab Saudi masih berlangsung.
Dalam laporan Reuters karya Nicole Jao dan Shadia Nasralla yang terbit Senin (21/9/2026), kontrak berjangka Brent pengiriman November tercatat US$100,39 per barel pada pukul 11.02 waktu New York, atau 22.02 WIB. Angka itu turun US$3,48, sekitar 3,35%. Pada waktu yang sama, kontrak West Texas Intermediate atau WTI pengiriman Oktober berada di US$95,66 per barel, turun US$4,64 atau 4,63%, sedangkan kontrak WTI November berada di US$92,34 per barel. Brent sempat turun di bawah US$100 per barel selama sesi perdagangan. Kedua acuan mencapai posisi terendah sejak 9 September.
Angka sekitar US$102 untuk Brent dan US$98,27 untuk WTI dalam bahan awal menggambarkan harga pada saat pengamatan yang berbeda. Karena harga bergerak sepanjang sesi, angka tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai harga pada pukul 22.02 WIB. Perbandingan WTI juga perlu menyebut bulan kontraknya di mana kontrak Oktober akan segera berakhir, sementara kontrak November diperdagangkan pada harga yang berbeda. Dengan penanda waktu dan kontrak yang jelas, pembaca dapat melihat perkembangan harga tanpa mengira angka-angka tersebut saling bertentangan.
Baca Juga
Akankah Perang Iran vs AS Segera Berakhir, Bagaimana Tren Harga Minyak Mentah Dunia?
Faktor pertama yang menekan harga adalah ketahanan arus ekspor Arab Saudi. Serangan Houthi terhadap jaringan pipa East–West milik Saudi Aramco telah mengganggu sebagian pengiriman melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Namun, Saudi meningkatkan ekspor melalui Teluk Persia dan Selat Hormuz. Reuters mengutip catatan analis JPMorgan tertanggal 18 September 2026 yang menyebut data satelit menunjukkan aliran minyak Saudi melalui Hormuz rata-rata mencapai 2,9 juta barel per hari selama enam hari sebelumnya, naik dari sekitar 700.000 barel per hari pada Agustus. Perubahan rute ini membantu menjaga minyak Saudi tetap mencapai pasar, kendati infrastruktur dan jalur pengirimannya menghadapi ancaman.
Harapan diplomasi menjadi faktor kedua. Pada Minggu, 20 September 2026, Amerika Serikat dan Iran masih saling melontarkan ancaman, tetapi Presiden Donald Trump menyatakan terbuka untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan menghadiri Sidang Umum PBB di New York pada pekan itu. Reuters juga melaporkan, dengan mengutip laporan Al Jazeera, bahwa Iran telah menyampaikan syarat untuk kembali berunding melalui para mediator. Bagi pasar minyak, isyarat tersebut membuka kemungkinan meredanya gangguan pasokan. Pertemuan atau kesepakatan damai belum terjadi, sehingga penurunan harga mencerminkan harapan pasar, bukan penyelesaian konflik.
Baca Juga
BI Waspadai 'Higher for Longer' Suku Bunga Global Hingga 2027 gegara Harga Minyak Dunia
Risiko kenaikan harga belum hilang. Houthi mengklaim menyerang Riyadh dan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, sementara pertempuran antara kelompok itu dan pasukan pemerintah dukungan Arab Saudi berlanjut di Yaman. Serangan terhadap pipa East–West juga mempunyai dampak yang lebih luas: jalur tersebut digunakan Saudi untuk mengirim minyak ke Laut Merah ketika pengapalan melalui Hormuz terganggu. Apabila gangguan di kedua jalur memburuk bersamaan, kemampuan Saudi mengalihkan ekspor akan kembali diuji. Klaim serangan Houthi dan tingkat kerusakan fasilitas tetap perlu dibedakan dari informasi yang telah dikonfirmasi secara independen.
Arti penting kedua selat itu terlihat dari data Badan Informasi Energi AS, EIA. Dalam analisis yang diterbitkan 3 Maret 2026, EIA memperkirakan sekitar 4,2 juta barel per hari minyak mentah dan produk minyak melintasi Bab al-Mandab pada semester pertama 2025. EIA juga menjelaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia. Data tersebut adalah gambaran historis lalu lintas energi, bukan ukuran volume yang melintas pada 21 September 2026, tetapi membantu menjelaskan mengapa perkembangan keamanan di Yaman dan Teluk Persia cepat memengaruhi harga.
Dari sisi pasokan lain, Ketua perusahaan minyak nasional Libya, Massoud Suleman, mengatakan kepada Reuters pada 21 September bahwa produksi ladang minyak Sharara mengalami penurunan sebagian, tanpa menjelaskan penyebabnya. Informasi itu menjadi pengingat bahwa gangguan pasokan tidak hanya bersumber dari Saudi atau Iran. Namun, pada perdagangan Senin, pasar lebih kuat merespons bertambahnya pengiriman Saudi dan kemungkinan kemajuan diplomasi, sehingga harga minyak tetap melemah.
Pergerakan harga kali ini memperlihatkan cara pasar menimbang perang: serangan dan ancaman menaikkan risiko, tetapi harga dapat turun ketika minyak masih mengalir dan peluang perundingan terbuka. Arah berikutnya akan sangat bergantung pada realisasi ekspor Saudi, keamanan Hormuz dan Bab al-Mandab, serta apakah sinyal diplomasi AS–Iran berubah menjadi pembicaraan nyata.
