BI Waspadai 'Higher for Longer' Suku Bunga Global Hingga 2027 gegara Harga Minyak Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mewaspadai situasi tingginya tingka suku bunga dalam jangka waktu yang lama, atau higher for longer di perekonomian global pada tahun ini hingga 2027.
Fenomena higher for longer terjadi karena kenaikan harga minyak mentah diproyeksikan mendorong tingginya angka inflasi, yang berujung pada dorongan kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Aerikat (AS) the Fed ke depan.
"Jadi kami menyebutnya ini adalah situasi higher for longer, di mana kita akan menghadapi situasi fed fund rate yang sekarang diperkirakan 70% di bulan September-Oktober diperkirakan akan naik 25 basis poin lagi. Kemudian juga bond yield-nya yang terus juga tinggi," kata Destry saat paparan di Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jakarta, Senin (14/9/2026).
Destry menjelaskan perekonomian AS masih cukup solid. Meski demikian, inflasi sebesar 3,4% secara tahunan pada Agustus 2026 memunculkan kekhawatiran naiknya fed fund rate ke depan.
Kenaikan harga minyak, menurut Destry merupakan penyebab tingginya angka inflasi di Amerika Serikat.
"Hari ini minyak juga sudah menembus di atas US$ 100 (per barel) dan itu menyebabkan juga dolar indeks (DXY) terus mengalami peningkatan," ucap dia.
Baca Juga
Inflasi Energi Bayangi Ekonomi Eropa, ECB Kerek Suku Bunga ke 2,5%
Destry mengatakan DXY sudah hampir kembali menembus level 100. Pagi ini, dia mencatat DXY telah menembus level 99. Sekadar informasi, jika DXY (US Dollar Index) menembus level 100, artinya dolar AS sedang mengalami penguatan signifikan terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Sementara itu peningkatan juga terjadi pada tingkat imbal hasil atau yield US Treasury, atau surat utang AS. Destry mengatakan US Treasury bertenor 10 tahun sudah mendekati angka 5%.
"Padahal dalam kondisi normal paling hanya sekitar 3%" ujar dia.
Dengan kondisi ini, BI memproyeksikan inflasi AS pada 2027 akan bergerak di kisaran 3% - 3,3% secara tahunan. Kondisi ini dia yakini akan mengganggu perekonomian negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Tingginya tingkat yield surat utang AS, hingga penguatan dolar AS tentunya bisa mendorong terjadinya arus modal keluar.
"Karena dalam kondisi seperti ini yang terjadi adalah adanya flight to quality asset," ucap dia.
Untuk itu Destry memproyeksikan ke depan investor akan cenderung memilih aset dalam bentuk dolar AS, dan menginveskan dananya pada sektor-sektor teknologi, AI, hingga robotik, yang sayangnya sejauh ini belum dikuasai oleh Indonesia.
"Ini tentunya akan memberikan tekanan kepada emerging market, dan juga akan mempengaruhi sedikit banyaknya kebijakan yang akan kami ambil. Termasuk juga dalam mengelola capital inflow yang masih sangat kami harapkan (terjadi) ke depannya," kata dia.
