Bitcoin Naik 6% Tembus US$ 81.000 di Tengah Kenaikan Yield Obligasi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) menguat sekitar 6% hingga menembus level US$ 81.000, meski kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan lonjakan harga minyak mentah kembali menjadi perhatian pasar.
Melansir CoinTelegraph, Senin (21/9/2026), pergerakan Bitcoin berlangsung di tengah meningkatnya kembali harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI). Harga WTI sempat turun ke sekitar US$ 94,8 per barel sebelum kembali naik dalam perdagangan sesi Asia dan berada di kisaran US$ 98 per barel.
Kondisi pasar minyak tersebut berkaitan dengan kekhawatiran terhadap pasokan global. Dalam laporan yang dirilis belum lama ini, International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa negara-negara dapat menghadapi kebutuhan untuk mengurangi konsumsi apabila gangguan pasokan berlanjut.
IEA sebelumnya telah melepas 400 juta barel dari cadangan darurat pada Maret, di tengah gangguan distribusi akibat penutupan Selat Hormuz.
Baca Juga
SEC dan CFTC Lanjutkan Regulasi Kripto, Bitcoin Berhasil Melaju di Atas US$ 81.000
Menurut IEA, arus minyak melalui Selat Hormuz pada Agustus tercatat sekitar 7,6 juta barel per hari, atau 13,1 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan sebelum perang AS-Iran.
IEA menyebut, apabila pasokan dari kawasan Teluk tetap terbatas dalam beberapa bulan mendatang dan cadangan komersial terus menurun dengan cepat, harga minyak yang lebih tinggi serta penurunan permintaan lebih lanjut dapat diperlukan untuk menyeimbangkan kembali pasokan dan permintaan.
Kenaikan harga minyak turut mendorong perhatian terhadap inflasi dan kebijakan moneter. Imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali meningkat di tengah ketidakpastian tersebut.
Yield obligasi AS tenor 30 tahun tercatat mencapai 5,34%, atau naik sekitar 90 basis poin pada hari tersebut. Kenaikan yield menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pasar kripto karena dapat mempengaruhi kondisi likuiditas dan selera investor terhadap aset berisiko.
Baca Juga
ETF Bitcoin Tertinggal dari Emas, JPMorgan Soroti Sikap Defensif Investor
Bitcoin Hadapi Ujian di US$ 82.000
Di tengah reli terbaru, analis dan trader Rekt Capital menilai Bitcoin kini menghadapi level penting untuk menentukan kelanjutan tren kenaikannya.
Menurut analisisnya, level US$ 82.000 menjadi area kunci yang perlu ditembus Bitcoin. Kegagalan melewati level tersebut berpotensi membentuk pola double rejection jika dibandingkan dengan pergerakan harga yang mengakhiri reli pada pertengahan Mei.
Bitcoin sendiri telah kembali berada di atas true market mean, yakni rata-rata basis biaya agregat Bitcoin yang diperoleh melalui pasar sekunder. Glassnode mencatat level tersebut saat ini berada di sekitar US$ 76.660.
“Hal tersebut menempatkan harga kembali di atas level penting dan kembali ke rezim bullish,” tulis Glassnode dalam unggahannya di X.
Selain itu, basis biaya Bitcoin yang dimiliki perusahaan melalui strategi corporate treasury berada di sekitar US$ 80.500. Level tersebut turut menjadi area penting yang diperhatikan pelaku pasar dalam melihat pergerakan Bitcoin saat ini.
Jika melirik data CoinMarketCap, Senin (21/9/2026), harga Bitcoin berada di level US$ 81.441,59 pada pukul 10.47 WIB, atau meningkat 1,40% dalam 24 jam terakhir, serta naik 5,05% dalam sepekan belakangan.
