Peluang Kenaikan Bunga Fed Menguat, Yield Obligasi AS 10-Tahun Tembus 5%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kenaikan harga minyak akibat konflik AS-Iran memperkuat kekhawatiran inflasi, sehingga pasar makin yakin Federal Reserve akan menaikkan suku bunga. Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Pada Selasa (15/9/2026), imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi biaya pinjaman konsumen dan perusahaan, sempat mencapai 5,041%. Ini merupakan level tertinggi sejak Juli 2007. Pada transaksi terakhir, imbal hasil 10 tahun berada di sekitar 5,00%, naik lebih dari 3 basis poin.
Kenaikan imbal hasil terjadi menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang berlangsung selama dua hari dan berakhir pada Rabu (16/9/2026).
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Sentuh 5%, Pasar Tunggu Keputusan The Fed
Peluang Kenaikan Bunga Fed
Pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 94% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Ekspektasi tersebut menguat setelah inflasi AS pada Agustus masih berada jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang kembali mengubah kalkulasi pasar. WTI kembali menembus US$105 per barel, sementara Brent bergerak mendekati US$110, di tengah konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz yang praktis masih terblokir.
Hubungan antara harga minyak dan imbal hasil Treasury kini menjadi semakin kuat. Menurut BMO Capital Markets, korelasi satu bulan antara harga WTI kontrak terdekat dan imbal hasil Treasury 10 tahun telah mencapai 0,96. Angka tersebut menunjukkan hubungan yang sangat erat antara pergerakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi.
“US Treasury 10 tahun sangat sensitif terhadap ekspektasi inflasi, dan dengan indikator inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2%, kami meyakini korelasi yang kuat ini kemungkinan akan bertahan untuk sementara waktu,” kata Jonathan Liang, CIO fixed income dan FX Standard Chartered, dikutip CNBC.
Baca Juga
Minyak Brent Dekati US$ 110, Gangguan Pipa Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan Global
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat mendorong ekspektasi inflasi dan membuat bank sentral lebih sulit melonggarkan kebijakan moneter.
Steve Sosnick, chief strategist Interactive Brokers, mengatakan secara sederhana, kenaikan harga minyak akan meningkatkan ekspektasi inflasi.
“Biasanya, hubungan tersebut tidak sesederhana sekarang,” katanya. Namun, faktor geopolitik yang mendorong harga minyak dan inflasi global saat ini sangat dominan sehingga korelasi tersebut menjadi jauh lebih kuat.
“Selama harga minyak tetap kuat dan terus bergerak naik, hal ini akan memberikan tekanan terhadap suku bunga,” ujar Sosnick.
Kenaikan imbal hasil juga terjadi di berbagai tenor. Imbal hasil Treasury 30 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 5,367%. Sebelumnya, imbal hasil tersebut sempat menyentuh 5,401%, level tertinggi sejak Juni 2007.
Imbal hasil Treasury 2 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,669%, setelah sebelumnya menyentuh 4,688%, level tertinggi sejak Juli 2024.
Kenaikan imbal hasil jangka panjang menjadi perhatian khusus karena dapat merembet ke berbagai biaya pembiayaan dalam perekonomian AS, mulai dari kredit perumahan hingga pinjaman perusahaan.
Tekanan tersebut muncul ketika harga minyak kembali bergerak naik setelah sebelumnya anjlok di bawah US$70 per barel pada Juli.
Saat itu, pasar berharap nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran dapat mendorong deeskalasi konflik.
Namun, harapan tersebut pupus setelah serangan kembali terjadi dan persediaan minyak menurun. Harga solar, yang sangat penting bagi sektor transportasi dan logistik, bahkan baru-baru ini menembus US$6 per galon.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat kembali menekan konsumen dan dunia usaha.
Meski demikian, Direktur National Economic Council Kevin Hassett mengatakan inflasi AS menunjukkan tanda-tanda mulai mereda.
Menurut Hassett, jika melihat perkembangan inflasi dalam jangka pendek, terdapat indikasi bahwa laju kenaikan harga mulai melambat.
Pernyataan tersebut dapat menjadi salah satu argumen yang mendukung keputusan The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga. Namun, pasar tetap memberikan probabilitas sangat tinggi terhadap kenaikan 25 basis poin pada pertemuan kali ini.
Bagi pasar keuangan, kombinasi harga minyak di atas US$100, inflasi yang masih tinggi, dan kenaikan imbal hasil Treasury menciptakan situasi yang semakin rumit.
Jika harga minyak bertahan tinggi atau kembali melonjak akibat konflik Timur Tengah, The Fed berpotensi menghadapi dilema: menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi atau mempertahankan kebijakan agar tidak semakin membebani pertumbuhan ekonomi.
Dengan imbal hasil Treasury 10 tahun sudah menembus 5%, pasar kini tidak hanya menunggu keputusan The Fed, tetapi juga mencermati seberapa jauh konflik energi akan menentukan arah inflasi dan suku bunga AS dalam beberapa bulan mendatang.
