Dua Katalis Positif Adaro Andalan (AADI), Harga Sahamnya Bakal Kembali Cetak ATH?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mendapat dua katalis dari kenaikan harga batu bara global dan rencana penjualan Kestrel di Australia. Kenaikan harga batu bara berpotensi menopang rata-rata harga jual (ASP) AADI, sementara transaksi Kestrel Coal Resources diperkirakan memberikan penerimaan bruto awal sekitar US$888 juta.
Dua isu tersebut telah mendorong harga saham AADI melambung hampir 30% menjadi Rp 12.275 dalam sebulan terakhir, bahkan saham emiten yang teraffiliasi dengan Garibaldi Thohir ini semapt menembus level tertinggi baru sepanjang masa Rp 12.925 pada intraday transaksi 10 September 2026.
Penguatan harga saham AADI jauh melampaui saham emiten batu bara lainnya, seperti PTBA hanya naik 28% dalam sebulan terakhir. Saham BUMI naik 11%, CUAN naik 7,60%, ITMG naik 5,23%. Sebaliknya saham BYAN terjun 40,35% dan ADMR turun 7,06% selama sebulan terakhir.
Baca Juga
HBA Batu Bara Agustus 2026, Kalori Tinggi Turun Jadi US$ 124,44
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan, tren kenaikan harga batu bara global diperkirakan dapat menopang rata-rata harga jual (ASP) ekspor AADI. Tren kenaikan ASP tersebut telah terlihat pada kinerja keuangan AADI kuartal II-2026. ASP AADI mencapai US$75,6 per ton, meningkat 15% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq) dan 13% secara tahunan (year-on-year/yoy). Di sisi lain, biaya relatif stabil, dengan kenaikan hanya 1% qoq dan 4% yoy.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut momentum kenaikan harga batu bara pada paruh kedua 2026 terutama didorong oleh permintaan dari China dan India. Pasokan domestik China terdampak inspeksi keselamatan yang lebih ketat. Sementara itu, India mengalami peningkatan permintaan impor di tengah persediaan yang lebih ketat serta gangguan pasokan domestik akibat cuaca.
Permintaan dari pembeli Asia lainnya juga menguat karena pelanggan berupaya mengamankan persediaan di tengah tingginya harga minyak mentah. “Pembeli masih mencermati potensi gangguan pada musim kemarau di sejumlah tambang Indonesia serta keterlambatan revisi RKAB,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas.
Selain kenaikan harga batu bara, katalis AADI berikutnya berasal dari penjualan Kestrel di Australia. BRI Danareksa Sekuritas menyebut transaksi tersebut masih menjadi perhatian dalam prospek AADI. Apalagi manajemen AADI masih mempertahankan target penyelesaian transaksi pada akhir kuartal III-2026.
Berdasarkan kepemilikan AADI sebesar 47,99% di KCG, estimasi penerimaan bruto awal dari transaksi tersebut mencapai sekitar US$888 juta. Potensi tambahan masih terbuka melalui pembayaran kontinjensi yang terkait harga selama periode lima tahun.
Baca Juga
Adaro Andalan (AADI) Salurkan Pinjaman hingga US$ 100,8 Juta ke Affiliasi Ini
Sementara itu, analis Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan dan Vanessa Taslim memberikan pandangan positif terhadap kinerja AADI pada semester I-2026. AADI berhasil meningkatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 10% menjadi US$473,8 juta. Capaian tersebut berada di atas proyeksi, terutama ditopang kenaikan ASP. “Kenaikan ASP menjadi faktor utama yang menopang kinerja laba AADI pada semester I-2026. ASP AADI meningkat 10% secara tahunan, bandingkan volume penjualan yang turun 1% yoy,” tulis riset Mandiri Sekuritas.
Kinerja tersebut membawa laba bersih AADI berada di atas perkiraan Mandiri Sekuritas. Sekuritas tersebut memberikan rekomendasi beli saham AADI dengan target harga Rp13.500 per saham. AADI menjadi saham pilihan teratas untuk emiten sektor batu bara.
Dengan demikian, terdapat dua target harga yang disebutkan dalam bahan riset, yakni Rp12.400 dari BRI Danareksa Sekuritas dan Rp13.500 dari Mandiri Sekuritas, dengan kenaikan ASP batu bara dan potensi penerimaan dari penjualan Kestrel menjadi katalis yang disoroti.
