Bumi Resources (BUMI) Tak Lagi Sekadar Batu Bara, Segmen Mineral Jadi Andalan Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bumi Resources Tbk (BUMI IJ) kini tengah memasuk tahap awal transformasi struktural yang signifikan. Sebagai pemilik cadangan batubara terbesar di Indonesia, perseroan mulai menggerakkan "mesin pertumbuhan kedua" melalui ekspansinya ke sektor mineral bernilai tinggi.
Kombinasi kebijakan batubara yang menguntungkan serta tingginya margin dari segmen mineral menjadi penopang utama prospek cerah saham BUMI ke depan. Hal ini mendorong MNC Sekuritas melalui riset permulaan menginisiasi rekomendasi beli saham BUMI dengan target harga Rp 300. Target ini mengimplikasikan enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA) sebesar 31,9 kali untuk 2026 dan 23,4 kali untuk 2027.
Baca Juga
Bumi Resources (BUMI) Sukses Raih Penghargaan Investortrust CSR Awards 2026, Ini Kategorinya
Analis MNC Sekuritas Raka Junico W dan Rudy Setiawan mengatakan, berdasarkan metode Sum-of-the-Parts (SOTP) terhadap tujuh aset perseroan, memadukan Discounted Cash Flow (DCF) untuk tambang penghasil kas yang sudah mapan dan EV/resource untuk aset tahap awal, nilai perusahaan (enterprise value) BUMI bisa mencapai US$ 6,6 miliar dengan nilai ekuitas (equity value) sebesar US% 6,3 miliar setelah memperhitungkan utang bersih sebesar US$ 378,8 juta.
“Pasar saat ini masih mematok BUMI sekadar sebagai produsen batu bara, padahal sebagian besar nilai asetnya kini telah bergeser ke segmen mineral,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
MNC Sekuritas menyebutkan rekomendasi beli saham BUMI didukung sejumlah faktor fundamental. Di antarnaya, BUMI menguasai cadangan dan sumber daya batu bara terbesar di Indonesia mencapai 9,1 miliar ton (terdiri dari 2,3 miliar ton cadangan dan 6,8 miliar ton sumber daya). Portofolio ini melalui tambang KPC, Arutmin, dan Pendopo (84,48%). Adapun penjualan batu bara perseroan tahun lalu mencapai 74,7 juta ton.
“Di tengah pemotongan kuota RKAB industri tahun ini menjadi sekitar 600 juta ton, dibandingkan 790 juta ton tahun 2025, pemegang IUPK seperti BUMI mendapatkan pengecualian. Skema royalti IUPK yang diperbarui juga memberikan penghematan bagi perseroan saat kewajiban DMO naik menjadi 30%,” tulisnya.
Baca Juga
Capai 423,71 Juta Ton hingga Juli 2026, Produksi Batu Bara RI Melambat Jadi 60,5 Juta Ton per Bulan
Penguatan fundamental BUMI juga didukung mesin pertumbuhan kedua dengan menguasai 100% saham Wolfram dan Loyal Metals, 64,98% di Jubilee Metals, serta proses akuisisi 45% saham di Laman Mining. Seluruh akuisisi mineral ini didanai murni dari arus kas batu bara dan hasil penerbitan obligasi sebesar Rp 1,9 triliun, tanpa ada penerbitan ekuitas (equity dilution).
Segmen mineral terbukti memberikan kontribusi profitabilitas tinggi, yaitu segmen mineral menyumbang 12,0% dari pendapatan, namun memberikan 31,5% dari total laba operasional segmen, berkat margin segmen mineral yang mencapai 29,5% (jauh melampaui margin batubara yang sebesar 8,8%).
BUMI juga didukung tren harga komoditas tetap tinggi. MNC Sekuritas menyebutkan bahwa World Bank memproyeksikan harga emas rata-rata berada di level US$ 4.700/oz pada tahun 2026 dan harga tembaga di LME mencetak rekor tertinggi USD 14.527/ton pada Januari 2026, ditopang oleh proyeksi defisit pasokan dunia sebesar 442 ribu ton pada tahun 2026.
Sejumlah faktor tersebut diharapkan berimbas positif terhadap kinerja keaungan dan harga saham BUMI ke depan. Rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) pendapatan BUMI dalam empat tahun ke depan mencapai 10%, CAGR EBITDA periode sama sekitar 28,2%, dan CAGR laba bersih bisa mencapai 23,1%.
MNC Sekurits memperkirakan lompatan pendapatan menjadi US$ 2,53 miliar pada 2028, dibandingkan tahun 2025 senilai US$ 1,42 miliar. Begitu juga dengan laba bersih diestimasi melambung menjadi US$ 257 juta pada 2028, dibandingkan periode sama tahun 2025 senilai US$ 81 juta.
