BRI (BBRI) Jadi Saham Bank Paling Moncer dan Paling Banyak Diborong Asing, Bakal Tembus Rp 4.010?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil unggul dari sisi kenaikan harga saham paling pesat di antara daftar empat bank KBMI IV dalam sebulan terakhir. Tak hanya itu, saham bank pelat merah ini ternyata menjadi incaran utama investor asing untuk periode sama.
Berdasarkan data Tradingview, saham BBRI berhasil melesat sebanyak 8,60% menjadi Rp 3.410 dalam sebulan terakhir atau hingga 8 September 2026. Kenaikan tersebut mengalahkan tiga bank lainnya dalam daftar KBMI IV, seperti saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan kenaikan 6,03% menjadi Rp 3.870, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan penguatan 4,24% menjadi Rp 4.430, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 3,89% menjadi Rp 6.675.
Baca Juga
Kepercayaan Nasabah Tinggi, DPK BRI Rp 1.580 Triliun dan Didominasi CASA
Begitu juga dari sisi pembelian bersih (net buy) oleh investor asing, saham BBRI menorehkan angka Rp 2,12 triliun di pasar regular Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sebulan terakhir. Nilai tersebut di atas net buy saham BBCA di pasar regular sebanyak Rp 2,06 triliun untuk periode sama. Sedangkan saham BMRI dan BBNI catatkan net buy di pasar regular masing-masing Rp 464,13 miliar dan Rp 177,96 miliar.
Lalu, tren penguatan harga disertai pembelian massif saham oleh pemodal asing bakal berlanjut? Berdasarkan riset terbaru dua sekuritas terungkap bawah potensi penguatan harga saham BBRI masih terbuka, meski kenaikan harga telah berlangsung dalam sebulan terakhir.
Hal ini terlihat dari rekomendasi dan target harga yang disematkan kedua sekuritas tersebut. Di antaranya, Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk BBRI dengan target harga Rp 4.100 per saham. Dengan harga penutupan Rp3.410, peluang penguatan terbuka hingga 20,23%.
Analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat, Omar Abdulaziz, dan Jason Lois menilai target harga tersebut didukung oleh kinerja keuangan BBRI pada semester I-2026 yang lebih kuat dari perkiraan. Pertumbuhan laba perseroan mencapai 17% sepanjang semester I-2026, ditopang pertumbuhan kredit yang kuat serta tingkat pajak efektif yang lebih baik.
Mandiri Sekuritas menyebut peningkatan profitabilitas BBRI tercermin dari return on equity (ROE) yang mencapai 18,8% pada semester I-2026. Kenaikan ROE menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat prospek saham BBRI. ROE sebesar 18,8% pada semester I-2026 didukung oleh perbaikan rasio non-performing loan (NPL) dan special mention loan (SML).
Target harga tersebut juga mencerminkan keyakinan terhadap kemampuan perseroan mempertahankan profitabilitas, seiring kenaikan ROE menjadi 18,8% dan perbaikan kualitas aset. Kinerja semester I-2026 menjadi modal penting bagi BBRI menghadapi semester II-2026 yang diperkirakan masih diwarnai volatilitas makro global.
Katalis Saham BBRI
KB Valbury Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap prospek kinerja keuangan dan saham BBRI. “Pertumbuhan laba, ekspansi kredit, perbaikan kualitas aset, serta peningkatan dana murah BBRI menjadi sejumlah faktor yang mendukung rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 4.010 per saham,” tulis analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi dalam riset terbarunya.
Rekomendasi beli tersebut dipertahankan dengan target harga berbasis Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp 4.010 atau setara dengan 1,8 kali price to book value (P/B) target tahun 2026. Saat ini, saham BBRI bari ditransaksikan pada valuasi 1,6 kali P/B tahun 2026 atau masih berada di atas level -2 standar deviasi (SD) sebesar 1,3 kali P/B.
Baca Juga
Akhmad menyebutkan bahwa rekomendasi beli saham BBRI didukung lompatan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 30,86 triliun atau tumbuh 17,5% secara tahunan (YoY) sepanjang semester I-2026. Pencapaian ini setara dengan 51,9% dari target KB Valbury Sekuritas dan 51,3% terhadap consensus. Angka tersebut di atas rata-rata historis sebesar 50,8%.
Target harga tersebut juga merefleksikan pertumbuhan kredit BBRI sebanyak 16,2% menjadi Rp 1.645,5 triliun hingga akhir semester I-2026. Pertumbuhan terutama ditopang segmen korporasi dan komersial. Kredit korporasi melonjak 47,1%, sehingga porsinya terhadap total kredit naik 520 basis poin (bps) YoY menjadi 24,9%.
Pertumbuhan pesat kredit juga didukung segmen komersial dengan kenaikan 58,1% YoY menjadi Rp 72,2 triliun pada semester I-2026, sehingga kontribusinya terhadap total portofolio kredit mencapai 4,4%. Pertumbuhan juga dicetak kredit mikro sebanyak 6,4% YoY menjadi Rp 714,1 triliun atau berkontribusi 43,4% terhadap total kredit BBRI.
Rekomendasi beli saham BBRI tersebut, terang KB Valbury, juga didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebanyak 6,7% YoY menjadi Rp 1.580,7 triliun hingga akhir Juni 2026. Apalagi pertumbuhan terutama berasal dari dana murah atau CASA yang meningkat 10,1%, sehingga rasio CASA naik 210 bps YoY menjadi 67,6%.
Baca Juga
BRI Tegaskan Komitmen Jaga Shareholder Return di Tengah Akselerasi Pertumbuhan Bisnis
Begitu juga dengan kualitas asset dapat dipertahankan dengan baik ditunjukkan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BBRI menjadi 7,7%. Gross NPL juga membaik dengan turun 10 bps YoY menjadi 2,9%, cost of credit (CoC) turun 30 bps menjadi 3,1%, serta ROE naik 220 bps YoY menjadi 18,8% pada semester I 2026.
Dengan mempertimbangkan kinerja dan prospek tersebut, KB Valbury mantap mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 4.010 per saham. Sejumlah katalis saham BBRI datang dari pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari ekspektasi disertai repricing kredit yang signifikan, sehingga memperkuat NIM, biaya operasional yang tetap terkendali, serta CoC yang lebih rendah dari perkiraan.
