Laba Bersih BSA Logistics (WBSA) Merosot 95%, Ini Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,01 miliar pada semester I-2026. Angka tersebut anjlok 95,46% secara tahunan (yoy).
Laporan kinerja keuangan WBSA menyebutkan bahwa penurunan laba bersih BSA Logistics terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan yang cukup kuat. Namun, kenaikan beban pokok pendapatan membuat pertumbuhan pendapatan tersebut belum mampu menopang profitabilitas perseroan.
Sepanjang Januari-Juni 2026, BSA Logistics mencatat pendapatan konsolidasi Rp 1,95 triliun, tumbuh 42,6% dari periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan pendapatan tersebut didukung oleh kenaikan pada seluruh segmen usaha perseroan.
Baca Juga
BSA Logistics (WBSA) Siapkan Rp 215 Miliar untuk Akuisisi, Tujuan Ini Diungkap
Segmen freight forwarding menjadi kontributor dengan pertumbuhan pendapatan tertinggi. Pendapatan dari segmen ini mencapai Rp 1,17 triliun, melonjak 78,1% secara tahunan. Segmen freight forwarding menyediakan layanan transportasi terintegrasi, termasuk pengurusan dokumen dan proses kepabeanan, serta bongkar muat barang di pelabuhan.
Pertumbuhan berikutnya berasal dari segmen land transportation. Pendapatan segmen yang menyediakan transportasi truk untuk kebutuhan first-mile dan mid-mile tersebut naik 8,8% menjadi Rp 648,1 miliar.
Sementara itu, pendapatan segmen warehousing & storage meningkat 15,4% menjadi Rp132,8 miliar. Segmen ini mencakup pergudangan, bonded logistics, ILT, serta penanganan dan pemeliharaan kontainer.
Tekanan Laba
Di tengah pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan BSA Logistics juga meningkat. Hingga 30 Juni 2026, perseroan mencatat beban pokok pendapatan sebesar Rp1,8 triliun, naik 37,2% secara tahunan.
Beban pokok pendapatan tersebut menyerap sekitar 92,82% pendapatan konsolidasi BSA Logistics. Porsi tersebut lebih besar dibandingkan semester I-2025, ketika beban pokok pendapatan menyerap sekitar 87% pendapatan.
Baca Juga
Saham BSA Logistics (WBSA) Melonjak 307% Usai Listing, Analis Ingatkan Risiko Ini
Tekanan terhadap profitabilitas juga diperberat oleh beban pajak penghasilan final. Pos tersebut tercatat sebesar Rp9,45 miliar, naik 123,63% secara tahunan. Alhasil, laba sebelum beban pajak penghasilan BSA Logistics turun 51,34% secara tahunan menjadi Rp6,91 miliar pada semester I-2026. Manajemen menjelaskan, tekanan terhadap profitabilitas BSA Logistics antara lain dipengaruhi oleh penurunan aktivitas sektor pertambangan. Kondisi tersebut terjadi menyusul penyesuaian alokasi produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Penyesuaian tersebut mengurangi ketersediaan volume angkutan sekaligus meningkatkan intensitas persaingan pada layanan logistik komoditas. Kondisi itu kemudian menciptakan lingkungan harga yang lebih kompetitif. Dalam situasi tersebut, BSA Logistics berupaya menjaga tingkat harga yang kompetitif untuk mempertahankan hubungan jangka panjang dengan pelanggan, kontinuitas volume dalam jaringan, serta posisi perseroan di pasar.
Optimistis Pulih
Manajemen memandang tekanan profitabilitas pada semester I-2026 lebih mencerminkan kondisi spesifik selama periode penyesuaian RKAB dan lingkungan persaingan yang lebih ketat.
Baca Juga
Kontribusi Bisnis Sampah Melejit, TOBA Kian Lepas dari Batu Bara
Dengan demikian, kinerja semester I-2026 dinilai belum sepenuhnya merepresentasikan potensi profitabilitas BSA Logistics dalam kondisi aktivitas logistik yang lebih seimbang.
BSA Logistics optimistis masih terdapat ruang bagi volume dan margin untuk bergerak ke tingkat yang lebih sehat apabila aktivitas produksi kembali meningkat. Meski demikian, waktu dan besarnya penyesuaian tersebut tetap akan mengikuti kebijakan pemerintah serta perkembangan aktivitas pelanggan.
