Transformasi TBS Energi (TOBA) Berbuah, Arus Kas Operasi Berbalik Positif US$ 14,6 Juta
JAKARTA, investortrust.id – Transformasi bisnis PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membuahkan hasil yang ditunjukkan arus kas operasi perseroan berbalik positif menjadi US$14,6 juta pada semester I-2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih mencatat arus kas operasi negatif US$ 31,6 juta.
Perbaikan tersebut terjadi di tengah transformasi TOBA dari sebelumnya focus bisnis berbasis batu bara menuju pengelolaan limbah, kendaraan listrik, dan energi terbarukan. Pergeseran portofolio ini tidak hanya mengubah komposisi pendapatan perseroan, tetapi juga mulai tercermin pada kemampuan bisnis menghasilkan kas.
Analis Ajaib Sekuritas Alvin Timothy menilai bahwa berbaliknya arus kas operasi TOBA menjadi positif merupakan salah satu indikator penting dalam membaca perkembangan transformasi perseroan. “Dalam fase transformasi, pertumbuhan pendapatan saja belum cukup. Yang lebih penting adalah apakah bisnis baru tersebut mulai mampu menghasilkan cash flow. Berbaliknya arus kas operasi TOBA dari negatif menjadi positif menunjukkan kualitas operasionalnya mulai bergerak ke arah yang lebih baik,” ujar Alvin.
Baca Juga
IHSG Diprediksi Bergerak Volatil Hari Ini, Saham BBNI hingga VKTR Layak Dilirik
Penguatan arus kas berjalan seiring dengan membaiknya profitabilitas konsolidasi TOBA. Laba kotor perseroan melonjak 102,9% menjadi US$ 28,2 juta pada semester I-2026, dari US$ 13,9 juta pada periode yang sama tahun lalu. Margin kotor pun meningkat menjadi 16,3% dari sebelumnya 8,1%.
Sementara itu, adjusted EBITDA konsolidasi tumbuh 23,7% menjadi US$25,7 juta dari US$20,8 juta. Pada saat yang sama, rugi bersih TOBA menyusut 83,2% menjadi US$19,4 juta, dibandingkan US$115,3 juta pada semester I-2025. Perbaikan kinerja tersebut semakin ditopang oleh perubahan sumber pendapatan perseroan. Bisnis non-batu bara yang dipimpin segmen pengelolaan limbah dan kendaraan listrik kini menyumbang 66,5% pendapatan konsolidasi TOBA, sedangkan bisnis batu bara berkontribusi 31,4%.
Kontributor Utama
Kontributor terbesar berasal dari bisnis pengelolaan limbah. Segmen ini membukukan pendapatan US$105,9 juta, tumbuh 77,8% dari US$59,6 juta pada semester I-2025. Kontribusi bisnis pengelolaan limbah mencapai 61,2% dari total pendapatan konsolidasi TOBA.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor bisnis pengelolaan limbah tumbuh 91,9% menjadi US$17,6 juta. EBITDA segmen ini bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$23,6 juta dan menyumbang sekitar 92% terhadap EBITDA konsolidasi perseroan.
Baca Juga
TBS Energi (TOBA) Berbalik Positif, Arus Kas Operasi Naik dan Laba Kotor Melonjak 103%
Menurut Alvin, besarnya kontribusi bisnis pengelolaan limbah membuat profil pendapatan TOBA mulai berubah dibandingkan ketika perseroan masih sangat bergantung pada komoditas. “Bisnis waste management memiliki karakter recurring revenue yang relatif lebih tinggi. Ketika kontribusinya sudah menjadi mayoritas dan mulai menghasilkan EBITDA yang signifikan, TOBA memiliki basis pendapatan yang lebih beragam dibandingkan sebelumnya,” katanya.
Perkembangan serupa juga mulai terlihat pada bisnis kendaraan listrik melalui Electrum. Pendapatan segmen ini melonjak 184% menjadi US$9,1 juta pada semester I-2026. Segmen kendaraan listrik juga mulai melewati fase pembentukan awal. Laba kotor berbalik positif menjadi US$0,4 juta dari sebelumnya mencatatkan rugi US$0,5 juta pada periode yang sama tahun lalu. EBITDA segmen ini juga berubah menjadi positif US$0,5 juta dari posisi negatif pada periode sebelumnya.
Skala ekosistem Electrum pun terus berkembang dengan hampir 14.000 unit sepeda motor listrik dan 550 Battery Swapping Station. Frekuensi penukaran baterai telah melampaui 1,7 juta kali per bulan, sementara total jarak tempuh kendaraan dalam ekosistem tersebut telah menembus 135 juta kilometer.
Kas US$94,7 Juta
Di sisi neraca, TOBA memiliki posisi kas sebesar US$94,7 juta per akhir Juni 2026. Utang bank jangka pendek turun 30,9% secara year to date, sedangkan total liabilitas jangka pendek berkurang 13,5%.
Baca Juga
Transisi Hijau TOBA Berbuah Hasil, Pendapatan Non-Batu Bara Kian Melonjak
Perseroan juga memperpanjang profil jatuh tempo utang melalui refinancing obligasi rupiah. Langkah tersebut menggeser sekitar US$27,5 juta kewajiban dari jatuh tempo jangka pendek.
Alvin menilai kombinasi perbaikan arus kas, pertumbuhan EBITDA, serta semakin besarnya kontribusi bisnis non-batu bara menjadi indikator yang relevan untuk menilai perkembangan TOBA ke depan.
“Kalau tren ini bisa dipertahankan, fokus berikutnya bukan lagi sekadar seberapa cepat TOBA mengurangi eksposur terhadap batu bara, tetapi seberapa besar bisnis barunya mampu menghasilkan EBITDA dan arus kas secara konsisten. Dari angka semester pertama ini, arah tersebut mulai terlihat,” kata Alvin.
