Dipertahankan MSCI, Saham Telkom (TLKM) Ditargetkan Tembus Rp3.400
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) masih menjadi penghuni jajaran konstituen indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam rebalancing Agustus 2026. Harga saham TLKM pun dinilai masih memiliki ruang penguatan hampir 30% ke level Rp3.400.
Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TLKM dengan target harga Rp3.400 per saham yang menyiratkan valuasi sekitar 4,2 kali EV/EBITDA berdasarkan proyeksi tahun buku 2027.
Dengan harga saham TLKM di level Rp2.620 pada perdagangan Jumat (14/8/2026), target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 29,77%. Optimisme terhadap saham ini meningkat, karena Mirae Asset Sekuritas mematok harga saham yang lebih besar dalam riset bulan ini dibandingkan riset sebelumnya di kisaran Rp3.200.
“Kami mempertahankan perkiraan kami untuk TLKM sambil menunggu kejelasan lebih lanjut tentang divestasi dan penggunaan hasil penjualan,” papar Analis Mirae Asset Sekuritas, Daniel Widjaja dalam riset terbaru yang dikutip, Kamis (13/8/2026).
Menurut Daniel, langkah tersebut berpotensi positif bagi perseroan karena membuka peluang sinergi dan monetisasi dengan investor baru yang dapat membawa tambahan bisnis ke dalam grup.
Baca Juga
Target Harga Saham TLKM Rp 3.500, BRI Danareksa Nilai Disiplin Capex Jaga Free Cash Flow
Dia memandang strategi tersebut sejalan dengan upaya Telkom merampingkan struktur bisnis dan berfokus pada operasi inti. Strategi ini dapat meningkatkan profitabilitas perseroan melalui struktur neraca yang lebih ramping.
Kendati demikian, Mirae Asset Sekuritas melihat terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor, terutama potensi penundaan proses divestasi dan risiko pelaksanaan terkait InfraNexia.
Nilai InfraNexia Berpotensi Lebih Tinggi
Mirae turut menyoroti proses pemisahan bisnis fiber grosir TLKM ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) yang dilakukan dalam dua tahap.
Pada tahap pertama yang efektif 26 Januari 2026, TLKM mentransfer aset senilai Rp48,9 triliun dan liabilitas Rp13,3 triliun, dengan nilai taksiran Rp35,8 triliun. Nilai tersebut mewakili sekitar 56% dari total aset yang akan dialihkan.
Sementara itu, tahap kedua akan diajukan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 September. Pada tahap ini, TLKM akan memindahkan aset tambahan senilai Rp29,2 triliun dengan nilai Rp49,9 triliun, atau setara 33% dari ekuitas 2025. Sebagai imbalannya, TLKM akan menerima 498,6 juta saham baru TIF.
Secara keseluruhan, InfraNexia akan memiliki aset sekitar Rp78 triliun, dengan pendapatan Rp24,8 triliun dan EBITDA Rp16,9 triliun. Nilai tersebut setara dengan valuasi sekitar 5,9 kali EV/EBITDA. Adapun laporan keuangan konsolidasi TLKM tidak mengalami perubahan akibat transaksi tersebut.
Sebelumnya, tahap pertama mencakup access fiber sepanjang sekitar 490 ribu km dan serat backbone fiber 80 ribu km. Sementara itu, aset bawah laut domestik sepanjang sekitar 25 ribu km akan dipindahkan pada tahap kedua.
Mirae Asset Sekuritas menilai valuasi InfraNexia berpotensi lebih tinggi dibandingkan nilai transfer yang digunakan saat ini. Berdasarkan sejumlah transaksi pemisahan bisnis fiber global yang baru selesai, median valuasinya mencapai 12,8 kali.
Beberapa transaksi yang menjadi pembanding antara lain Telstra sebesar 28 kali, TPG/Vocus 11,2 kali, MORA/MyRepublic 10,2 kali, dan TIM FiberCop 8,6 kali.
Namun, Mirae Asset Sekuritas memberikan diskon 30% terhadap valuasi tersebut dengan mempertimbangkan tingkat utilisasi InfraNexia yang sekitar 40% serta komposisi pendapatan yang masih bersumber secara internal. Dengan demikian, Mirae menggunakan asumsi valuasi 9 kali untuk potensi penjualan saham InfraNexia.
Dengan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp17,5 triliun, termasuk TIF secara terpisah, valuasi 9 kali tersebut menghasilkan nilai perusahaan (EV) sekitar Rp157,9 triliun.
Setelah dikurangi utang bersih Rp12,3 triliun, nilai ekuitas InfraNexia diperkirakan mencapai Rp145,7 triliun, setara dengan sekitar 56,8% kapitalisasi pasar TLKM saat ini.
Potensi Dividen Khusus
Mirae Asset Sekuritas juga menghitung potensi dividen khusus yang dapat diterima pemegang saham TLKM apabila perseroan melakukan penjualan 25% kepemilikannya di InfraNexia.
Dengan asumsi valuasi 9 kali EV/EBITDA, penjualan saham 25% diperkirakan menghasilkan dana bruto sekitar Rp 36,4 triliun. Setelah memperhitungkan biaya konsultasi 1%, nilai buku Rp 16,7 triliun, serta pajak 22% atas keuntungan kena pajak sekitar Rp 19,3 triliun, kas bersih yang diperoleh diperkirakan mencapai Rp 31,8 triliun.
Baca Juga
RUPST Telkom (TLKM) Putuskan Dividen Rp 21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp 4 Triliun
Jika 50% dari dana tersebut dibagikan sebagai dividen, nilai dividen khusus diperkirakan mencapai Rp15,9 triliun. Angka tersebut setara dengan dividen per saham (DPS) sekitar Rp161, atau menghasilkan dividend yield 6,2% berdasarkan harga saham TLKM Rp 2.610. Mirae Asset Sekuritas menilai imbal hasil tersebut berada di atas dividen reguler TLKM.
Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa dengan asumsi kepemilikan saham yang dijual berkisar 15-35% dan valuasi 7-11 kali, DPS khusus TLKM berpotensi berada di kisaran Rp76-273 per saham, dengan dividend yield sekitar 2,9-10,4%.
Sementara itu, dengan asumsi kepemilikan saham 25% dan rasio pembayaran dividen antara 30-70%, DPS khusus diperkirakan berada di kisaran Rp96-225 per saham, atau yield 3,7-8,6%.
“Ini menyiratkan bahwa DPS lebih sensitif terhadap ukuran kepemilikan saham dan rasio pembayaran daripada kelipatan valuasi,” tulis Daniel.
Dengan mempertimbangkan prospek perampingan bisnis, potensi monetisasi InfraNexia, serta peluang peningkatan profitabilitas, Mirae Asset Sekuritas kembali menegaskan rekomendasi Beli untuk TLKM dengan target harga Rp3.400 per saham.

