BBCA Aman di MSCI, Kiwoom Pasang Target Rp8.075, Ini Penopang Sahamnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai tetap positif seiring fundamental perseroan yang resilien dan peluang penguatan kinerja keuangan. Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga BBCA sebesar Rp 8.075 per saham dalam 12 bulan.
Apalagi MSCI memutuskan untuk mempertahankan saham BBCA dalam daftar MSCI Global Standard Indexes pada review bulan ini. BBCA dipertahankan bersama saham BBRI, BMRI, TLKM, ASII, BBNI, UNTR, dan BRMS.
Kiwoom Sekuritas menyebutkan bahwa dengan harga terakhir BBCA level Rp 6.300 per saham, terbuka peluang penguatan saham bank dengan kapitalisasi terbesar ini lebih dari 28,17%. Valuasi BBCA menggunakan pendekatan blended valuation yang mengombinasikan price to book value (P/BV) dan dividend discount model (DDM).
Baca Juga
Cuma 9 Saham Indonesia Bertahan di MSCI Global Standard, Ini Daftarnya
Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama dan Liza Camelia Suryanata mengatan, katalis utama saham BBCA adalah pemulihan pertumbuhan kredit, terutama dari segmen korporasi. Potensi pemulihan ditunjukkan pencapain semester I-2026, total kredit BBCA mencapai Rp 1.035,6 triliun, tumbuh 8% secara tahunan dan 4,2% secara kuartalan. Kredit korporasi, komersial, dan UKM tetap tumbuh kuat.
“Momentum tersebut menjadi penopang penting bagi prospek kinerja BBCA ke depan. Jika permintaan kredit korporasi tetap kuat, pertumbuhan kredit berpotensi terus menopang pendapatan perseroan,” tulisnya.
Selain pertumbuhan kredit, Kiwoom Sekuritas menyebutkan, BBCA didukung kekuatan CASA. CASA meningkat 10,2% YoY menjadi Rp1.082,3 triliun pada 1H26. Basis dana murah tersebut membantu BBCA mempertahankan struktur pendanaan yang kuat di tengah persaingan dana wholesale. Dana pihak ketiga (DPK) memang turun 0,6% QoQ menjadi Rp 1.284,1 triliun, tetapi loan to deposit ratio (LDR) masih terjaga pada 78,7%. “Kekuatan CASA juga menjadi salah satu faktor yang dapat membantu meredam tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM),” tulisnya.
Baca Juga
BCA Hadirkan Kredit UMKM Berbunga Mulai 5,81%, Penyaluran Kredit UKM Capai Rp 134,6 Triliun
Hingga semester I-2026, laba bersih BBCA mencapai Rp 29,5 triliun, tumbuh 1,8% YoY. Pertumbuhan sejalan dengan kenaikan pendapatan operasional meningkat 2,2% YoY menjadi Rp 55,8 triliun. Pendapatan nonbunga menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 11% YoY menjadi Rp 13,2 triliun. Sementara itu, net interest income (NII) turun 0,6% YoY menjadi Rp 42,4 triliun. NIM bank-only turun menjadi 5,3% akibat penurunan imbal hasil kredit.
Berbagai factor tersebut, Kiwoom Sekuritas menyebutkan, fundamental inti BBCA tetap kuat. Pertumbuhan kredit korporasi, CASA yang solid, disiplin biaya, serta kualitas aset yang terkendali menjadi fondasi bagi kinerja keuangan perseroan. Kualitas aset BBCA tercatat dengan gross NPL sebesar 1,9%, LAR 4,9%, dan gross cost of credit (CoC) 0,5%. Kondisi tersebut menunjukkan risiko kredit masih relatif terkendali.
Ke depan, ruang penguatan saham BBCA terutama berasal dari tiga faktor, yakni repricing kredit yang mulai memberikan dampak, berlanjutnya pertumbuhan kredit korporasi, serta CASA yang tetap kuat untuk menjaga biaya pendanaan. Namun, pemulihan NIM diperkirakan berlangsung bertahap akibat persaingan pendanaan wholesale yang masih ketat.

