IHSG Anjlok 27,51%, Terburuk di ASEAN
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan berat. Hingga perdagangan Selasa (11/08/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot 27,51% sejak awal tahun atau year-to-date (ytd), menjadikannya indeks dengan kinerja terburuk di kawasan ASEAN dan termasuk salah satu yang terlemah di antara bursa-bursa utama dunia.
Berdasarkan IDX Daily Statistics Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 11 Agustus 2026, IHSG ditutup pada level 6.267,880, turun 97,494 poin atau 1,53% dibandingkan posisi sehari sebelumnya di 6.365,374. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.388,581 dan terendah 6.230,097.
Tekanan terhadap IHSG sepanjang tahun turut menggerus nilai pasar saham Indonesia. Pada penutupan Selasa, kapitalisasi pasar BEI berada di Rp10.955 triliun, atau sekitar US$615 miliar dengan menggunakan kurs referensi Bank Indonesia Rp17.824 per dolar AS. Sementara kapitalisasi pasar yang telah disesuaikan dengan free float tercatat hanya sekitar Rp2.727 triliun, setara US$153 miliar.
Besarnya penurunan IHSG sebesar 27,51% sejak awal tahun menunjukkan terjadinya penyusutan signifikan terhadap valuasi banyak saham yang diperdagangkan di Bursa. Namun, data statistik harian BEI pada 11 Agustus 2026 tidak mencantumkan angka kapitalisasi pasar pada awal tahun sehingga besarnya penurunan kapitalisasi pasar secara nominal sejak 1 Januari tidak dapat dihitung langsung hanya dari publikasi tersebut.
Pelemahan pasar semakin terlihat dari kinerja saham-saham berkapitalisasi besar. Beberapa emiten utama menjadi pemberat besar IHSG sepanjang tahun. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), misalnya, telah merosot 65,88% ytd, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 76,61%, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terpangkas 70,43%, dan PT MD Entertainment Tbk (FILM) jatuh 92,97%.
Tekanan juga melanda saham-saham perbankan dan perusahaan besar yang selama ini menjadi penopang IHSG. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 21,98% sepanjang tahun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 15,57%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 19,22%, sedangkan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) telah kehilangan 25% nilainya sejak awal tahun.
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 1,53%, Sebaliknya 3 Saham Dipimpin CSMI Cetak ARA
Kondisi tersebut tercermin pula pada hampir seluruh indeks utama BEI. Indeks LQ45 telah terkoreksi 26,08% ytd, IDX30 turun 19,64%, IDX80 merosot 29,13%, sedangkan Kompas100 telah kehilangan 31,11%. Indeks saham syariah juga mengalami tekanan dalam, dengan ISSI turun 29,82%, JII merosot 34,69%, dan JII70 terkoreksi 30,90% sejak awal tahun.
Hampir seluruh indeks sektoral berada di zona merah. Sektor infrastruktur menjadi salah satu yang mengalami koreksi terbesar, yakni 33,76% ytd, diikuti properti dan real estat turun 32,35%, energi 31,96%, teknologi 28,38%, kesehatan 27,19%, serta industri turun 27,05%. Bahkan sektor finansial yang selama ini menjadi tulang punggung kapitalisasi BEI masih melemah 13,40% sejak awal tahun.
Asing Sudah Keluar Rp71,15 Triliun
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia juga diperberat oleh derasnya arus keluar dana asing. BEI mencatat investor asing melakukan net sell Rp687,84 miliar hanya pada perdagangan Selasa. Secara kumulatif sejak awal tahun, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp71,15 triliun, atau sekitar US$3,99 miliar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan IHSG bukan semata akibat pergerakan saham tertentu, tetapi juga berlangsung bersamaan dengan keluarnya dana asing dalam jumlah besar dari pasar saham Indonesia.
Arus keluar tersebut menjadi penting karena investor asing masih memainkan peranan signifikan, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid. Penjualan oleh investor asing terhadap saham-saham blue chips dapat menekan indeks secara lebih besar karena saham tersebut mempunyai bobot tinggi dalam perhitungan IHSG.
Meski demikian, aktivitas transaksi pasar tetap cukup tinggi. Pada perdagangan Selasa, total nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp14,48 triliun dengan volume 34,01 miliar saham dan frekuensi transaksi 2,16 juta kali. Sementara rata-rata nilai transaksi harian sepanjang tahun tercatat Rp22,17 triliun.
Dari sisi valuasi, koreksi yang dalam membawa price earnings ratio (PER) pasar menjadi 12,64 kali, sedangkan price to book value (PBV) berada di 1,66 kali. Valuasi tersebut menunjukkan pasar saham Indonesia telah menjadi jauh lebih murah dibandingkan ketika indeks berada pada level yang lebih tinggi, meskipun murahnya valuasi belum cukup menghentikan tekanan jual.
Indonesia Terburuk di ASEAN
Kontras paling terlihat ketika kinerja IHSG dibandingkan dengan indeks bursa negara-negara tetangga. Ketika IHSG terpuruk 27,51% sepanjang 2026, mayoritas bursa ASEAN justru mencatatkan kenaikan.
Indeks SET Thailand menjadi yang terbaik di ASEAN dengan kenaikan 28,02% ytd, disusul Straits Times Index Singapura yang melonjak 23,85%. PSEi Filipina naik 4,53%, FTSE Bursa Malaysia KLCI menguat 3,06%, sedangkan VN-Index Vietnam hanya turun tipis 0,43%. Dengan demikian, Indonesia menempati peringkat keenam atau posisi terakhir di antara enam bursa utama ASEAN yang dibandingkan BEI.
Perbedaannya sangat lebar. Ketika pasar Thailand memberikan imbal hasil positif 28,02%, investor yang mengikuti pergerakan indeks saham Indonesia secara agregat justru menghadapi penurunan 27,51%. Selisih kinerja kedua pasar tersebut mencapai lebih dari 55 poin persentase.
Kesenjangan bahkan semakin tajam ketika Indonesia dibandingkan dengan sejumlah bursa Asia Pasifik. Bursa Taiwan menjadi salah satu bursa dengan kinerja paling cemerlang sepanjang tahun. Taiwan TSE Weighted Index melonjak 55,78% ytd, sedangkan KOSPI Korea Selatan meningkat 50,58%.
Nikkei 225 Jepang juga melesat 33,04% sejak awal tahun. Australia menguat 4,71%, sementara Hang Seng Hong Kong masih naik tipis 0,09%.
Memang tidak semua bursa Asia mencatatkan kenaikan. Indeks SSE Composite China turun 0,88% dan Sensex India melemah 8,29%. Namun penurunan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan kontraksi 27,51% yang dialami IHSG.
Dalam pemeringkatan BEI terhadap bursa-bursa terpilih, Indonesia berada di peringkat ke-13 di Asia Pasifik dan peringkat ke-35 dari 36 bursa dunia berdasarkan kinerja year-to-date. Dengan kata lain, hanya satu dari 36 indeks yang dibandingkan BEI memiliki posisi lebih buruk daripada Indonesia pada saat data tersebut dihimpun.
Ketika Wall Street Naik, IHSG Jatuh
Perbandingan dengan pasar global juga menunjukkan divergsi yang mencolok.Dow Jones Industrial Average Amerika Serikat telah menguat 12,30% ytd. Bursa Kanada naik 14,96%, Brasil 6,86%, dan Meksiko 3,31%.
Di Eropa, indeks DAX Jerman meningkat 7,31%, CAC 40 Prancis 6,82%, FTSE 100 Inggris 9,26%, IBEX 35 Spanyol 16,92%, sedangkan indeks Swiss menguat 10,05%.
Sejumlah pasar bahkan mencatat kenaikan lebih dari 20%, seperti Austria 24,45%, Norwegia 21,82%, Polandia 30,17%, dan Turki 21,12%.
Artinya, pelemahan IHSG sepanjang tahun tidak dapat semata-mata dijelaskan sebagai akibat koreksi pasar saham global. Pada saat banyak bursa dunia memberikan imbal hasil positif, pasar Indonesia justru mengalami koreksi sangat dalam.
Data perdagangan 11 Agustus 2026 dengan demikian memperlihatkan tiga tekanan sekaligus.
Pertama, IHSG telah kehilangan 27,51% nilainya sejak awal tahun dan berada di level 6.267,880. Kedua, kapitalisasi pasar kini tercatat Rp10.955 triliun di tengah tergerusnya valuasi berbagai saham besar. Ketiga, investor asing telah mencatatkan net sell Rp71,15 triliun sepanjang tahun.
Yang menjadi perhatian lebih besar adalah kinerja relatif Indonesia terhadap negara lain. IHSG menjadi yang terburuk di ASEAN, berada di posisi ke-13 Asia Pasifik, dan menempati peringkat ke-35 dari 36 bursa dunia yang dibandingkan BEI berdasarkan perubahan indeks sejak awal tahun.
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi pasar modal Indonesia justru ketika pemerintah dan OJK tengah mendorong reformasi struktural, termasuk demutualisasi Bursa Efek Indonesia, peningkatan free float, pendalaman pasar, penguatan investor institusional domestik, serta peningkatan daya saing BEI terhadap bursa regional.
Koreksi besar memang membuat valuasi saham Indonesia menjadi lebih murah. Namun persoalan pasar modal tidak hanya mengenai murah atau mahalnya saham. Tantangan yang lebih fundamental adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan investor, menghentikan arus keluar dana asing, memperbesar likuiditas, dan memastikan pasar saham Indonesia kembali mampu bersaing dengan bursa-bursa kawasan.
Data 11 Agustus 2026 memberikan pesan yang cukup keras: ketika banyak bursa dunia bergerak naik, pasar saham Indonesia justru tertinggal jauh.
