Kinerja Solid dan Ekspansi EV Jadi Katalis, Saham Astra Otoparts (AUTO) Ditargetkan Menuju Level Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dinilai masih positif seiring kinerja keuangan yang solid pada semester I-2026 serta pengembangan bisnis baru di komponen kendaraan listrik (EV). Prospek saham tersebut juga ditopang potensi berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan dalam beberapa tahun mendatang.
Hal ini mendorong MNC Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham AUTO dengan target harga Rp 3.200 per saham. Target harga tersebut menyiratkan valuasi price to earnings (PE) 6,5 kali dan price to book value (PBV) 0,8 kali berdasarkan estimasi tahun buku 2026. Untuk 2027, valuasi AUTO diperkirakan masing-masing sebesar 5,7 kali PE dan 0,8 kali PBV.
Analis MNC Sekuritas M. Rudy Setiawan menilai, posisi keuangan AUTO yang stabil serta kekuatan merek menjadi faktor yang dapat menopang pertumbuhan perseroan. Pendapatan AUTO pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp 21,01 triliun, tumbuh 5,6%. Pendapatan diproyeksikan meningkat menjadi Rp 22,24 triliun pada 2027 dan Rp23,54 triliun pada 2028.
Baca Juga
Laba Bersih Astra Otoparts (AUTO) Naik 22,6% di Semester I-2026, Pendapatan Tembus Segini
Sedangkan laba bersih AUTO diperkirakan senilai Rp 2,39 triliun pada 2026, tumbuh 8,2%. Laba bersih kemudian diproyeksikan meningkat menjadi Rp 2,70 triliun pada 2027, tumbuh 13,2%, sebelum mencapai Rp 2,85 triliun pada 2028. EBITDA juga diproyeksikan meningkat dari Rp 3,13 triliun pada 2026 menjadi Rp 3,44 triliun pada 2027 dan Rp 3,56 triliun pada 2028.
“Prospek berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan tersebut menjadi salah satu dasar MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham AUTO dengan target harga Rp 3.200,” terangnya.
Prospek saham AUTO juga didukung ekspansi pengembangan komponen khusus kendaraan listrik untuk segmen roda empat dan roda dua. Produk yang dikembangkan mencakup HEV battery cover sub-assembly, HEV battery hose assembly, wireless charger, hybrid damper, dan EV battery box. AUTO juga mengembangkan komponen yang dapat digunakan bersama pada kendaraan bermesin pembakaran internal maupun EV, seperti caliper assembly dan head lamp.
Menurut dia, AUTO telah mendapatkan VinFast dan BYD sebagai pelanggan baru, yang menandai perluasan rantai pasok di luar basis pelanggan OEM Astra Group seperti Toyota, Daihatsu, dan Honda. Di sisi infrastruktur, Astra Otopower mengoperasikan fasilitas pengisian daya ultra-fast hingga 240 kW melalui 70 stasiun di seluruh Indonesia per Juni 2026. Perseroan juga bekerja sama dengan PLN untuk menyediakan pole-mounted charger di Jawa Barat dan Sumatera Barat.
MNC Sekuritas menilai langkah tersebut menjadi tahap awal yang positif bagi AUTO untuk menangkap pertumbuhan adopsi EV di Indonesia. Namun, kontribusi pendapatan dari komponen khusus EV belum diungkapkan dan diperkirakan masih kecil dibandingkan bisnis aftermarket kendaraan bermesin pembakaran internal.
Baca Juga
Astra (ASII) Diproyeksi Pulih, Intip Rekomendasi dan Target Harga Ini
AUTO juga memperkuat posisi GS Astra di pasar baterai melalui peluncuran GS Care pada ajang GIIAS 2026. Layanan after-sales baru tersebut melengkapi layanan respons darurat dan pengiriman baterai ke rumah. Ekspansi armada GS Care juga menambah jaringan layanan Shop & Drive yang saat ini memiliki 456 unit armada secara nasional.
Manajemen menyebut baterai GS Astra menguasai sekitar 78% pangsa pasar kendaraan roda empat dan lebih dari 50% kendaraan roda dua di Indonesia. Tahap awal GS Care masih terbatas di Jakarta, Bandung, dan Batam sebelum diperluas ke wilayah lain. MNC Sekuritas menilai inisiatif tersebut lebih berfungsi sebagai langkah defensif untuk memperkuat merek dan mempertahankan dominasi GS Astra di pasar aftermarket.
Laba Bertumbuh
Dari sisi kinerja, AUTO membukukan laba bersih Rp 1,2 triliun pada semester I-2026, tumbuh 22,6% secara tahunan. Realisasi tersebut setara dengan 48,3% dari estimasi MNC Sekuritas dan 49,7% dari konsensus untuk tahun penuh 2026.
Pendapatan AUTO pada semester I-2026 mencapai Rp10,9 triliun, meningkat 13,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut setara dengan 51,6% dari estimasi MNC Sekuritas dan 52% dari konsensus untuk 2026.
Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh kinerja yang seimbang dari bisnis manufaktur dan perdagangan. Segmen manufaktur menjadi pendorong utama pertumbuhan, didukung meningkatnya permintaan komponen dari produsen kendaraan serta perbaikan permintaan kendaraan roda dua dan roda empat di pasar domestik.
Baca Juga
Pendapatan Astra International (ASII) Tembus Rp 157,9 Triliun pada Semester I 2026
Sementara itu, bisnis perdagangan tetap mendapat dukungan dari permintaan aftermarket yang stabil, perluasan portofolio produk, serta kontribusi ekspor yang stabil. Pendapatan dari perusahaan patungan atau joint venture (JV) juga meningkat 32,3% menjadi Rp619,4 miliar, memberikan tambahan terhadap pertumbuhan laba.
Meski kinerja semester I-2026 tetap solid, tekanan terhadap profitabilitas mulai terlihat pada kuartal II-2026. Laba bersih kuartal II-2026 mencapai Rp592,5 miliar, naik 6% secara kuartalan, tetapi turun 5,9% secara tahunan. Margin operasional pada periode tersebut menyempit menjadi 5%, dibandingkan 6,8% pada kuartal II-2025.
Penyempitan margin akibat kenaikan biaya resin plastik yang mengikuti peningkatan harga minyak global. Tekanan tersebut mengimbangi perbaikan kinerja secara kuartalan dari kuartal pertama 2026. Namun, secara keseluruhan semester I-2026, profitabilitas AUTO masih menunjukkan ketahanan.

