Chandra Asri (TPIA) Naikkan Free Float ke 25,7%, Siapkan Proyek Strategis Lebih dari US$ 1,2 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) telah meningkatkan porsi saham beredar (free float) menjadi 25,7% dari sebelumnya 10,9%, sekaligus menyiapkan berbagai proyek strategis dengan total nilai investasi lebih dari US$1,2 miliar sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Direktur TPIA Andre Khor mengatakan peningkatan free float tersebut bertujuan memperkuat likuiditas perdagangan saham, memperluas akses investor, serta menegaskan komitmen perseroan terhadap penciptaan nilai jangka panjang.
Dengan free float sebesar 25,7%, Chandra Asri telah melampaui ambang batas 25% untuk MSCI Full Inclusion. Perseroan juga berada di atas target manajemen MSCI sebesar 20% serta melampaui batas minimum free float 15% yang menjadi persyaratan IDX dan MSCI.
Baca Juga
“Peningkatan free float akan memperkuat likuiditas pasar, memperluas basis investor, dan mendukung penciptaan nilai jangka panjang,” ujar Andre dalam Earnings Call TPIA melalui Zoom, Selasa (4/8/2026).
Menurut dia, rebalancing kepemilikan dilakukan oleh SCGC sebagai bagian dari strategi alokasi modal. Meski demikian, SCGC tetap menjadi pemegang saham jangka panjang dengan kepemilikan sebesar 15,71%. Perseroan menegaskan tidak terdapat perubahan dalam pengendalian kepemilikan. Tiga pemegang saham inti, yakni Barito Pacific, SCGC, dan Thai Oil, secara kolektif masih menguasai 74,3% saham TPIA.
Di sisi ekspansi bisnis, Andre mengatakan, Chandra Asri (TPIA) menyiapkan berbagai proyek strategis dengan total investasi lebih dari US$1,2 miliar melalui strategi Rejuvenate the Core, Orient Towards Sustainability, Accelerate M&A and Integration, dan Reimagine Business Models (ROAR).
Pada pilar Rejuvenate the Core, perseroan mengalokasikan investasi untuk peningkatan fasilitas Cilegon senilai US$ 100 juta, peremajaan SBM US$ 125 juta, pengembangan kompleks pelumas US$ 71 juta, pembangunan Condensate Splitter Unit US$ 75 juta, serta ekspansi C2 US$ 80 juta.
Baca Juga
Sementara pada pilar Orient Towards Sustainability, Chandra Asri mengembangkan proyek CA-EDC Plant senilai US$ 800 juta dengan kapasitas 900 KTA dan target penyelesaian pada 2027.
Perseroan juga menjalankan ekspansi tenaga surya hingga sekitar 1.100 MWp, pembangunan turbin gas senilai US$ 150 juta yang siap menggunakan hidrogen dan ditargetkan beroperasi pada 2029, pengembangan fasilitas Prugalube Re-refining, serta pembangunan dua fasilitas Sustainable Aviation Fuel dengan kapasitas hingga 100 ribu ton per tahun.
Proyek CA-EDC
Sementara itu, Chief Financial Officer PT Chandra Asri Sentral Solusi Philippe Pangestu mengatakan, proyek CA-EDC terus dipercepat sebagai bagian dari upaya memperkuat industri kimia hilir Indonesia sekaligus menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang baru bagi perseroan.
Hingga kini, progres pembangunan proyek telah mencapai 72% dan berada di jalur untuk mulai beroperasi secara komersial pada 2027. Proyek tersebut meliputi pembangunan pabrik Chlor Alkali berkapasitas 400 KTA, pabrik Ethylene Dichloride (EDC) berkapasitas 500 KTA, serta pembangunan jetty dan jetty trestle sebagai infrastruktur pendukung.
Baca Juga
Purbaya Pastikan akan Lanjutkan Penempatan Uang Negara di Himbara
Menurut dia, proyek CA-EDC akan mendukung pertumbuhan yang terintegrasi melalui ekosistem grup yang mencakup utilitas, pelabuhan, penyimpanan, dan infrastruktur logistik, sekaligus menjadi mesin pertumbuhan pendapatan jangka panjang mulai 2027 melalui pengembangan bisnis kimia hilir.
Pada strategi Accelerate M&A and Integration, Chandra Asri memperluas sinergi produk ID-SG, mengembangkan sekitar 60 stasiun Esso, serta melanjutkan akuisisi yang berfokus pada sektor energi, kimia, dan infrastruktur di Asia Tenggara guna memperkuat integrasi, efisiensi, dan penciptaan nilai.
Sementara melalui pilar Reimagine Business Models, perseroan meningkatkan kapasitas Aster Power hingga 220 MW, mengembangkan Aster Port & Terminals dengan kapasitas penyimpanan 4,3 juta meter kubik, 311 tangki, 17 dermaga, dan SBM, serta menjalankan transformasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI), SAP S/4 HANA, dan smart plant. Perseroan juga membangun Shared Service Centre untuk memusatkan operasional back-office dengan kapasitas sekitar 200 pekerjaan.
Baca Juga
Purbaya Pastikan akan Lanjutkan Penempatan Uang Negara di Himbara
Selain itu, TPIA melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), perseroan terus menjalankan proyek infrastruktur strategis. Corporate Communication General Manager TPIA Alexandra Sukanegara mengatakan, pembangunan tangki penyimpanan bitumen telah mencapai progres 75% dan ditargetkan beroperasi secara komersial pada kuartal III 2026.
Proyek tersebut terdiri atas tiga tangki penyimpanan berkapasitas 3.000 meter kubik, 4.000 meter kubik, dan 5.000 meter kubik untuk mendukung kebutuhan penyimpanan dan distribusi bitumen. CDI juga melalui SCG Barito Logistics (SBL) menjalin nota kesepahaman dengan Krakatau Bandar Samudera (KBS) untuk mengeksplorasi kolaborasi pembangunan penyimpanan tangki ISO, penyimpanan kontainer kering, serta layanan lift-on/lift-off cargo.
Di sektor maritim, Novah bersama Usuki Shipyard telah melaksanakan maiden berthing ceremony untuk kapal kimia berkapasitas 9.000 DWT pada 12 Mei sebagai bagian dari pengembangan solusi logistik terintegrasi. Sementara itu, PT Chandra Waste Energy memenangkan tender dari Danantara untuk mengelola proyek waste-to-energy di Serang, Banten.

