Pertamina Geothermal (PGEO) Bukukan Laba US$ 79,605 Juta, Naik 15,48%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba bersih sebesar US$ 79,605 juta pada semester I-2026, naik 15,48% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan laba ditopang pertumbuhan produksi, keandalan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif.
Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, perseroan juga mencatatkan pendapatan sebesar US$ 235,027 juta, tumbuh 14,7% yoy dari US$ 204,850 juta pada semester I-2025.
Baca Juga
100 Tahun Panas Bumi RI Berawal dari Sini, PGE (PGEO) Kamojang Tekan Emisi 1,22 Juta Ton per Tahun
Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan kinerja tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjalankan strategi bisnis yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.
"Pertumbuhan pendapatan juga tercermin pada laba bersih yang naik 15,48% secara tahunan menjadi US$ 79,605 juta, ditopang oleh pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif,” kata Fransetya dalam keterangan tertulisnya Rabu, (29/7/2026).
Adapun total produksi PGE sepanjang semester I-2026 mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), meningkat 13,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2.416 GWh.
“Pertumbuhan yang kami catatkan di kuartal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bekal bagi PGE untuk terus memperluas manfaat panas bumi bagi masyarakat sekaligus mendorong transisi energi nasional,” sambung Fransetya.
Hingga 30 Juni 2026, PGEO memiliki total aset sebesar US$ 2,967 miliar, ekuitas US$ 2,006 miliar, serta kas dan setara kas US$ 656,634 juta.
Dari sisi permodalan, ekuitas perseroan mencapai US$ 2,006 miliar, mencerminkan kondisi keuangan yang sehat. Sementara itu, liabilitas turun 2,80% dibandingkan posisi 31 Desember 2025 menjadi US$ 961,184 juta, yang turut memperkuat struktur permodalan dan menurunkan risiko keuangan.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menambahkan, tahun 2026 menjadi tonggak penting karena menandai 100 tahun perjalanan panas bumi di Indonesia. Menurutnya, panas bumi merupakan salah satu pilar strategis dalam transisi energi nasional karena mampu menyediakan pasokan listrik bersih yang andal dan berkelanjutan.
Baca Juga
PGE (PGEO) Kantongi Fasilitas US$ 75 Juta dari Bank Mizuho untuk Proyek Panas Bumi
“Momentum 100 tahun ini adalah pengingat betapa luar biasanya kekayaan alam Nusantara. 100 tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. Hari ini, PGEO bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70% energi panas bumi di seluruh Indonesia. Satu abad ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan juga momentum untuk membuktikan bahwa energi bersih yang kita miliki siap mendukung ketahanan energi negeri,” kata Ahmad Yani.
Sejalan dengan target transisi energi nasional, PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033. Saat ini perseroan mengelola 15 qilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang 727 megawatt (MW) atau sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi nasional.
