Prospek PGN (PGAS) Membaik, Volume Gas Pulih dan Laba Diproyeksi Tumbuh 15%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas kembali memulai cakupan (reinitiate coverage) terhadap saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 1.900 per saham. Rekomendasi tersebut didukung oleh prospek pemulihan kinerja operasional, perbaikan laba, serta valuasi saham yang dinilai masih menarik.
Dengan harga saham terakhir Rp 1.530, target harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 24,2%.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Taufan Fadhillah dan Andhika Audrey mengatakan, kinerja operasional PGAS mulai membaik pada kuartal II-2026 setelah melemah pada kuartal sebelumnya. Perbaikan ditunjukkan kenaikan volume perdagangan gas menjadi sekitar 865 BBTUD pada kuartal II-2026, dibandingkan 777 BBTUD pada kuartal I-2026.
Baca Juga
Perkuat Transparansi, PGN (PGAS) Ajak Investor Ritel Lihat Operasi Gas di Sumatra
Sejalan dengan pemulihan operasional, BRI Danareksa optimistis terhadap torehan laba bersih PGAS menjadi US$ 247 juta pada 2026, naik 15% dari realisasi US$ 215 juta pada 2025. Pada 2027, laba bersih diproyeksikan kembali meningkat menjadi US$251 juta, atau tumbuh sekitar 2%.
Menurut Taufan dan Andhika, pemulihan laba tersebut ditopang oleh tiga faktor utama, yaitu peningkatan utilisasi regasifikasi LNG yang mendorong volume transmisi SSWJ menjadi 1.625–1.641 mmscfd pada 2026-2027, bertambahnya pelanggan industri serta ekspansi jaringan gas (Jargas) yang menopang pertumbuhan volume distribusi hingga 913 mmscfd pada 2027, serta tambahan kontribusi pendapatan berbasis biaya (fee-based income) dari pipa minyak Cikamplung.
Meski demikian, BRI Danareksa mencermati rencana pemerintah menurunkan harga LNG industri menjadi US$ 13 per MMBtu. Meski perseroan menilai bahwa kebijakan tersebut sebagai redistribusi biaya di sepanjang rantai nilai LNG, bukan pemangkasan harga yang sepenuhnya ditanggung PGAS, dengan target margin perdagangan tetap berada di kisaran US$1,65–1,85 per MMBtu.
Dalam skenario pembatasan harga, apabila PGAS menanggung 30% beban selama enam bulan pada 2026, laba kotor diperkirakan turun sekitar US$ 17,6 juta atau setara 3,9% dari proyeksi laba bersih 2026. “Dampak tersebut diperkirakan hanya menurunkan target harga sekitar 3%. Namun, jika PGAS menanggung seluruh beban selama 12 bulan, laba bersih berpotensi turun sekitar 26%, sehingga hasil negosiasi mekanisme pembagian beban menjadi faktor penentu kinerja ke depan,” tulisnya.
Baca Juga
PGN (PGAS) Genjot Gas Metana Batu Bara Tanjung Enim, Potensi Capai Rp 276 Triliun
BRI Danareksa menyatakan proyeksi tahun 2026 belum memasukkan asumsi pembagian beban karena, mekanisme implementasi masih menunggu kejelasan pemerintah melalui keputusan menteri lanjutan.
Dari sisi valuasi, saham PGAS saat ini diperdagangkan pada 1,8 kali EV/EBITDA proyeksi 2026, sekitar 18% di bawah rata-rata historis jangka panjang. Target harga Rp1.900 didasarkan pada valuasi 2,2 kali EV/EBITDA proyeksi 2026.
Secara fundamental, BRI Danareksa memperkirakan pendapatan PGAS mencapai US$3,839 miliar pada 2026, dengan EBITDA sebesar US$869 juta. Pada 2027, pendapatan diproyeksikan meningkat menjadi US$4,010 miliar, sedangkan EBITDA naik menjadi US$891 juta.
