Duo Exchange Kripto BitMEX dan BitMart Tutup, Pendiri Binance Beri Respons Berikut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Penutupan operasi sejumlah exchange kripto global, termasuk BitMEX dan BitMart, memicu kekhawatiran baru di industri aset digital. Meski sebagian pelaku pasar menilai kondisi tersebut sebagai tanda pasar telah mencapai titik terendah, sejumlah pemimpin industri menegaskan penutupan tersebut lebih mencerminkan tekanan yang ditimbulkan oleh kondisi pasar bearish.
BitMEX lebih dulu mengumumkan penghentian operasinya pada pekan lalu. Selang tiga hari, BitMart juga menyatakan akan menghentikan seluruh aktivitas perdagangan kripto pada 26 Agustus 2026 dan menutup operasional bisnisnya secara penuh pada 31 Januari 2027. Sebelumnya, AscendEX juga menghentikan layanan aset digitalnya akibat kendala perizinan di bawah regulasi MiCA di Eropa.
Pendiri Binance Changpeng Zhao (CZ) mengatakan, gelombang penutupan tersebut kemungkinan dipicu oleh kondisi pasar bearish yang kembali menekan industri. Menurutnya, meski situasi pasar sedang sulit, proses penghentian operasional dilakukan secara terorganisasi dengan memberikan waktu kepada nasabah untuk menarik aset mereka.
Baca Juga
Susul BitMEX, Exchange Kripto BitMart Tutup Setelah Beroperasi 9 Tahun
Namun, CZ mengingatkan bahwa akuisisi bursa kripto yang mengalami kesulitan bukan perkara mudah. Ia menilai terdapat risiko keamanan siber yang perlu diperhatikan, terutama apabila terdapat celah keamanan dalam sistem yang belum ditangani oleh pengelola sebelumnya.
"Risiko tersembunyi pada sistem operasional dapat menjadi tantangan bagi pihak yang mengambil alih bisnis bursa kripto," ujar CZ dalam unggahannya di media sosial X dilansir dari Coinmarketcapnews, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga
Pendiri perusahaan manajemen aset digital Fundstrat Capital Tom Lee menilai, penutupan sejumlah pedagang kripto merupakan fenomena yang lazim terjadi ketika pasar berada dalam fase terendah.
Di sisi lain, analis pasar StarPlatinum menilai penutupan BitMEX dan BitMart dapat menjadi sinyal meningkatnya tekanan terhadap bursa kripto terpusat (centralized exchange/CEX). Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi pelemahan pasar kripto, menurunnya minat investor ritel terhadap altcoin, penyusutan volume perdagangan derivatif, regulasi yang semakin ketat, serta meningkatnya biaya operasional.
Meski demikian, StarPlatinum menilai siklus pemulihan pasar kripto pada 2026 belum sepenuhnya berakhir. Ia memperkirakan pasar masih menunggu katalis baru yang dapat mendorong kenaikan harga aset kripto pada periode berikutnya.

