Rupiah Bergerak Menguat, Pasar Masih Was-Was dengan Kondisi di Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan mula Selasa (21/7/2026). Posisi rupiah menguat 0,08% menjadi Rp 17.933 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB, berdasarkan data Bloomberg.
Sejumlah mata yang di Asia juga masih menunjukkan penguatan. Ringgit Malaysia menguat 0,07%, dolar Singapura menguat 0,03%, dan yuan China menguat 0,05%.
Sementara itu, rupee India, peso Filipina, baht Tailan, dan won Korea Selatan mengalami pelemahan. Rupee melemah 0,18%, peso melemah 0,02%, baht melemah 0,04%, dan won melemah 0,25%.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menyebut serangan AS ke Iran masih membuat pasar was-was. Sebab, kondisi tersebut mengganggu stabilitas di Selat Hormuz.
“Pengiriman melalui Hormuz sebagian besar masih terganggu, membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak lebih lanjut,” kata Ibrahim.
Selain itu, data inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan latar belakang ekonomi yang lebih lemah. Investor fokus terhadap kenaikan biaya energi yang dapat mempersulit upaya the Fed memerangi inflasi.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Melemah, Ketegangan di Timur Tengah Masih Jadi Faktor
Di dalam negeri, Ibrahim menyoroti investasi yang domestik yang melemah. Meski realisasi investasi pada kuartal II-2026 mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1% secara tahunan, kontribusinya dinilai belum mengompensasi perlambatan di sisi permintaan domestik.
Dari investasi tersebut, pertumbuhan investasi semakin bergantung pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang melonjak 27,5% secara tahunan. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyusut 7,8% secara tahunan.
“Kondisi tersebut mencerminkan masih tingginya kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam,” kata dia.
Akan tetapi, penyusutan PMDN dapat dibaca sebagai tertahannya ekspansi pelaku usaha domestik karena lemahnya permintaan dalam negeri. Selain permintaan, faktor biaya pendanaan dan ketidakpastian ekonomi menjadi soal.
“Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara melanjutkan agenda hilirisasi dan mendorong investasi ke sektor-sektor yang lebih banyak menciptakan lapangan kerja,” ujar dia.
