IHSG Berpeluang Uji 6.300, Arus Dana Asing Mulai Berbalik Positif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, Selasa (21/7/2026), seiring mulai membaiknya sentimen pasar dan munculnya sinyal awal kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan secara teknikal tren penguatan IHSG masih berpotensi berlanjut. “Dari sisi teknikal, tren penguatan IHSG masih berpotensi berlanjut, namun ruang kenaikannya diperkirakan relatif terbatas dengan target menguji area 6.300,” kata Hendra kepada investortrust.id Selasa, (21/7/2026).
Hendra menyebut level 6.191 menjadi area support penting yang harus dipertahankan agar momentum penguatan tidak kembali berubah menjadi tekanan jual.
Optimisme tersebut juga mulai tercermin dari perubahan arus dana investor asing. Setelah berbulan-bulan terus melakukan aksi jual, investor asing akhirnya mencatatkan net buy sebesar Rp 725 miliar pada Jumat (17/7/2026) dan kembali melanjutkan pembelian bersih sebesar Rp 156 miliar pada Senin (20/7/2026).
Meski secara kumulatif sepanjang 2026 investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp90 triliun, Hendra menilai kondisi tersebut mulai menunjukkan sinyal yang patut diperhatikan. “Dalam banyak siklus pasar sebelumnya, perubahan tren arus dana asing umumnya diawali oleh akumulasi bertahap sebelum berkembang menjadi pembelian dalam skala yang lebih besar,” katanya.
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 0,91% ke level 6.231 pada perdagangan Senin (20/7). Penguatan tersebut ditopang oleh kenaikan saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BBNI, disertai menguatnya saham-saham konglomerasi serta sektor energi yang diuntungkan oleh tingginya harga minyak dunia.
Selain itu, meningkatnya volume transaksi dan rotasi sektor menjelang musim publikasi laporan keuangan kuartal II-2026 menjadi indikasi bahwa minat investor terhadap pasar saham domestik perlahan kembali pulih. Sentimen positif juga datang dari meningkatnya rekomendasi JP Morgan terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), yang menunjukkan mulai munculnya keyakinan investor institusi global bahwa valuasi saham-saham Indonesia kembali menarik setelah mengalami koreksi cukup dalam.
Baca Juga
Hendra menyoroti terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menopang berlanjutnya aliran dana asing ke Indonesia. Stabilitas rupiah yang diperkirakan membaik berkat komitmen Bank Indonesia menjaga nilai tukar, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dibandingkan negara lain, serta ekspektasi membaiknya kinerja emiten pada kuartal II-2026 menjadi kombinasi katalis yang cukup positif.
Tak hanya itu, koreksi di sejumlah bursa saham besar, khususnya saham-saham teknologi yang sebelumnya menikmati euforia kecerdasan buatan (AI), membuka peluang terjadinya rotasi investasi menuju pasar negara berkembang dengan valuasi yang lebih murah, termasuk Indonesia. Dengan valuasi IHSG yang relatif lebih menarik dibandingkan beberapa pasar regional, Indonesia dinilai berpotensi menjadi salah satu tujuan aliran modal asing apabila kondisi makroekonomi domestik tetap terjaga.
Meski demikian, Hendra mengingatkan investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko yang masih dapat menghambat proses pemulihan pasar. “Faktor yang paling penting saat ini adalah pergerakan nilai tukar rupiah,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, apabila rupiah kembali melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, tekanan terhadap pasar keuangan domestik berpotensi meningkat karena dapat memicu kembali aksi jual investor asing sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi.
Selain itu, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi, serta potensi kebijakan suku bunga The Federal Reserve yang lebih ketat apabila tekanan inflasi global kembali meningkat, juga menjadi risiko eksternal yang harus dicermati.
