UOB: Indonesia Bersiap Memasuki Fase New Normal, Minat Investor Meningkat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia diproyeksi mulai memasuki fase new normal pada semester II-2026, didukung fundamental ekonomi yang tetap kuat dan meningkatnya minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap.
ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, menjelaskan harga minyak dunia akan stabil pada paruh kedua tahun ini dengan fluktuasi yang minimum, serta kestabilan nilai tukar yang mulai terjadi. Hal ini akan disusul optimisme masyarakat yang kembali tinggi dan perilaku konsumsi serta investasi yang mulai kembali.
“Perang sudah empat bulan, sehingga saat ini sudah mulai memasuki masa new normal. Semenjak krisis, semua langkah yang dilakukan membuahkan hasil. Bond inflow sudah masuk. Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Fiskal sedikit direalokasi itu sudah betul. Nah, yang perlu kita lihat selanjutnya adalah protection policy,” kata Enrico, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga
IHSG Ditutup Melesat 1,10% Ditopang Saham Bank, Terbaik di Asia
Dia menambahkan, di new normal ini, investor asing mulai masuk kembali ke pasar Indonesia karena mereka mencari yield yang menarik. Incaran investor, antara lain obligasi dengan yield di atas 6% dan dijamin negara. Hal ini akan didukung kemungkinan Bank Indonesia menaikkan suku bunga tiga kali lagi menjadi 6,5% sebelum akhir 2026.
“Dengan kenaikan BI rate ini akan semakin membuat atraktif untuk berinvestasi di instrumen yang lebih aman. Apalagi ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%, masih bagus karena di atas pertumbuhan rata-rata dunia. Asia Tenggara tetap menjadi oasis pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” simpul Enrico.
Ketua Tim Pengembangan dan Pendalaman Pasar Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan, Chandra A.S. Wibowo, membenarkan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61% termasuk tinggi di kawasan. Capaian ini diikuti dengan inflasi yang tetap terjaga sekitar 3,34% pada Juni 2026 (yoy).
“Ini adalah salah satu bukti peran APBN cukup meredam dalam menjaga externalshock,” imbuh Chandra.
Dia memerinci APBN berfungsi sebagai shock absorber, salah satunya dengan menjaga harga minyak domestik supaya terkendali dan tidak mendongkrak harga barang dan jasa. Analis Keuangan Negara Ahli Madya ini juga memastikan, fundamental fiskal Indonesia terjaga baik, terbukti dari keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.
Di sisi lain, Consumer Banking Director UOB Indonesia, Bea Teh Tan, menyebut bahwa ketidakpastian terus membentuk lanskap perekonomian global, mulai dari perubahan kebijakan moneter, dinamika geopolitik, hingga volatilitas pasar.
“Para investor semakin dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana cara terbaik untuk melindungi sekaligus mengembangkan aset mereka,” ungkap Bea.
Baca Juga
MAMI: Valuasi Obligasi Indonesia Sangat Atraktif di Tengah Kenaikan Agresif BI Rate
Di tengah meningkatnya volatilitas pasar global, UOB menilai bahwa Obligasi Negara Ritel (ORI030) merupakan salah satu pilihan investasi yang menarik, bagi investor yang mengutamakan stabilitas dan keamanan.
ORI030 menawarkan imbal hasil (yield) tetap, yakni 6,9% per tahun untuk tenor 3 tahun dan kupon tetap 7% per tahun untuk tenor 6 tahun. Chandra menambahkan, produk investasi ini juga memiliki potongan pajak lebih rendah karena dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) final sebesar 10%.
