S&P Pertahankan Outlook Stabil Indonesia, Rupiah dan Arus Modal Asing Masih Jadi Tantangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit (sovereign rating) Indonesia di level BBB dengan outlook Stable dinilai menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik di tengah tekanan yang terjadi sepanjang semester I 2026. Meski demikian, pemulihan dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait stabilitas rupiah dan arus modal asing.
Dalam kajiannya, PT Henan Putihrai Asset Management (HPAM) menyebut pengumuman S&P pada 13 Juli 2026 memberikan sinyal yang lebih konstruktif dibandingkan kekhawatiran pasar sebelumnya. Respons positif langsung terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat ke level 6.037,84, tertinggi sejak akhir Juni 2026.
S&P dalam laporannya Selasa (14/7/2026) menilai tekanan terhadap ekonomi Indonesia, seperti pelemahan rupiah, meningkatnya biaya bunga utang, dan pelemahan pasar keuangan, masih bersifat sementara. Lembaga pemeringkat tersebut tetap melihat fundamental ekonomi Indonesia relatif solid, ditopang pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,6%, kenaikan penerimaan negara sebesar 21% pada semester I-2026, serta komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Baca Juga
Purbaya Sudah Laporkan Hasil Penilaian S&P Global ke Presiden Prabowo
Meski mempertahankan peringkat, S&P mengingatkan adanya sejumlah risiko yang dapat memicu penurunan peringkat di masa mendatang. Risiko tersebut meliputi kenaikan utang pemerintah secara berkelanjutan, tingginya beban bunga utang terhadap penerimaan negara, serta melemahnya penerimaan ekspor yang dapat meningkatkan kebutuhan pembiayaan eksternal.
HPAM menilai keputusan S&P menjadi salah satu sinyal positif dalam proses normalisasi pasar. Namun, pemulihan belum sepenuhnya kuat karena masih ditopang likuiditas domestik, sementara arus modal asing belum kembali secara signifikan. Kondisi tersebut tercermin dari masih lemahnya nilai tukar rupiah yang bertahan di kisaran Rp 18.131 per dolar AS, bersamaan dengan masih terjadinya aksi jual di pasar obligasi pemerintah.
Baca Juga
S&P Pertahankan Rating Indonesia BBB Outlook Stabil, OJK: Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
Menurut HPAM, pemulihan yang lebih berkelanjutan membutuhkan stabilisasi nilai tukar rupiah, perubahan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar surat berharga negara dan pasar saham.
Ke depan, pelaku pasar masih akan mencermati sejumlah agenda penting, di antaranya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada akhir Juli, FTSE Annual Review pada Oktober, serta evaluasi MSCI pada November 2026 yang dinilai akan menjadi penentu lanjutan arah pemulihan pasar keuangan Indonesia.
