Transaksi Harian Saham di BEI Sepi, Sucor Ungkap Pemicu Ini
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya menilai lesunya nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir dipengaruhi derasnya aliran dana investor ke pasar perdana atau initial public offering (IPO) saham. Kondisi tersebut membuat aktivitas perdagangan di pasar reguler menjadi lebih sepi.
Sejak 25 Juni 2026, nilai transaksi harian di BEI tercatat konsisten berada di bawah Rp 15 triliun. Bahkan, hingga sesi I perdagangan Kamis (9/7/2026) pukul 10.42 WIB, nilai transaksi baru mencapai sekitar Rp 4,6 triliun.
"Memang seminggu terakhir ini, kalau teman-teman lihat, betul nggak IHSG transaksinya hariannya sekitar Rp 9-11 triliun. Nah, kenapa? Duitnya itu banyak kesedot di IPO," kata Bernadus usai seremoni pencatatan saham perdana PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Baca Juga
Pemerintah: IPO Saham JELI dan JECX Jadi Bukti Ketahanan Sektor Riil di Tengah Ketidakpastian Global
Menurut Bernadus, besarnya minat investor terhadap IPO terlihat dari tingginya tingkat kelebihan permintaan (oversubscribed). IPO saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang dibawa Sucor Sekuritas pada 7 Juli 2026 tercatat mengalami oversubscribed sekitar 270 kali pada porsi pooling, dengan dana investor yang masuk mencapai lebih dari Rp 15 triliun.
Sementara itu, IPO PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang resmi melantai di BEI pada Kamis (9/7/2026) juga mencatat oversubscribe sekitar 700 kali pada porsi pooling. Dana investor yang masuk ke IPO tersebut diperkirakan mencapai Rp14 triliun hingga Rp15 triliun.
Pada pekan ini, terdapat enam perusahaan yang mencatatkan saham di BEI, yakni PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS).
Baca Juga
Multi Makmur (PADI) Berganti Nama Jadi Oxala Energy hingga Siapkan Aksi Korporasi Ini
Selain terserap ke pasar IPO, Bernadus mengatakan pelaku pasar juga masih bersikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian global. "Kita melihat bahwa secara geopolitik, Amerika Serikat sama Iran memanas lagi. Kemudian kemarin ada peringatan dari S&P Dow Jones Indices juga. Jadi kita masih wait and see," ujarnya.
Ia mengatakan investor kini menunggu perkembangan terkait prospek peringkat kredit Indonesia. Menurutnya, perhatian terbesar pasar adalah potensi penurunan (downgrade) peringkat kredit.
"Nah, kalau Juli nanti duit IPO sudah beres, kemudian S&P sudah memberikan hasil outlook ke Indonesia dan mudah-mudahan rating kita tetap, walaupun potentially outlook-nya negatif, ini bisa menjadi katalis positif buat indeks kita," kata Bernadus.
Asing Tahan Dana
Investor asing, menurut dia, kini masih cenderung mengambil sikap wait and see, sedangkan investor domestik lebih banyak mengalihkan dana ke IPO. Menurutnya, investor domestik selama ini menyumbang sekitar 70-75% nilai transaksi di IHSG, yang terdiri atas sekitar 55-60% investor ritel dan 10-15% investor institusi lokal. Sementara itu, kontribusi investor asing berada di kisaran 20-25%.
"Ini kan duit orang-orang diputer-puterin. Habis ikut JELI, ikut PRDL, habis itu RANS. Rata-rata begitu, duitnya diputer dulu. Nanti baru balik lagi masuk ke pasar reguler sambil membeli saham-saham IHSG yang sudah murah," ujarnya.
Dari sisi teknikal, Bernadus menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang melanjutkan penguatan selama mampu bertahan di atas level support 5.845. Jika berhasil menembus level 5.969, IHSG berpotensi kembali bergerak di atas level 6.000 dengan target resistance berikutnya di kisaran 6.065.
