SAS Optimistis Trading Komoditas Emas Terus Tumbuh, Literasi PBK Jadi Kunci Perkembangan Industri
JAKARTA, investortrust.id – Perdagangan Berjangka Komoditas (PBK), khususnya perdagangan emas, diproyeksikan terus berkembang pesat dalam 10 tahun ke depan seiring meningkatnya adopsi teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta tumbuhnya generasi Alfa yang semakin melek teknologi.
Direktur Utama PT Smartin Advisor Sistem (SAS) Odang Supriatna mengatakan, perkembangan teknologi akan mendorong investasi menjadi lebih inklusif dan canggih. "Dalam 10 tahun ke depan, kami yakin sektor ini berkembang pesat, sejalan dengan tumbuhnya generasi Alfa yang lebih technology literate, serta didorong pesatnya perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) dan digitalisasi, menjadi pilihan investasi yang lebih inklusif dan canggih," ujar Odang kepada media di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Mengutip data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), pada 2025 nilai nominal (notional value) transaksi PBK mencapai Rp48.867 triliun atau tumbuh 49,8% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, volume transaksi mencapai 14,56 juta lot atau meningkat 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski mencatat pertumbuhan positif, Odang menilai literasi masyarakat mengenai PBK masih perlu terus ditingkatkan. "Saat ini PBK tumbuh positif namun literasi masih perlu ditingkatkan," katanya.
Baca Juga
OKX Perkuat Ekosistem AI Trading lewat Agent TradeKit Berbasis MCP
Berdiri sejak 2023, SAS hadir sebagai bagian dari industri PBK dengan fokus meningkatkan literasi keuangan, khususnya mengenai Perdagangan Berjangka Komoditi yang benar.
SAS memiliki visi menjadi media channel terdepan di Indonesia maupun secara global yang menyediakan investment information, trading knowledge, dan financial education berkualitas tinggi. Bagi pemula dan generasi muda, SAS menyediakan program edukasi secara gratis yang mencakup pengetahuan dasar dan keterampilan praktis dalam transaksi PBK.
Program tersebut ditujukan untuk membantu generasi muda yang ingin berkarier di industri PBK sekaligus menginspirasi mereka menjadi profesional di bidang coding, expert advisor, profesional trader, maupun smart investor. "Dan, tentu saja semua program edukasi yang dibuat sesuai dengan norma yang diatur oleh undang-undang dan ketentuan pemerintah," tegas Odang.
Guna mendukung aktivitas tersebut, SAS menyediakan berbagai produk dan tools, antara lain expert advisor seperti Starbot, Tradingmatic, dan Quadran EA, AI Signal berupa Gold Mind AI dan Finsfree, indikator, serta berbagai program edukasi.
Baca Juga
Valuasi Saham Indonesia Sangat Menarik, MAMI: Pasar Butuh Katalis Lanjutan
Menurut Odang, penguatan edukasi yang dilakukan SAS sejalan dengan potensi dan tantangan industri PBK pada 2026 sebagaimana disampaikan Bappebti, terutama terkait transisi teknologi, proses kepatuhan (compliance), serta edukasi pasar. "PBK menarik karena likuiditas tinggi, peluang diversifikasi, akses 24 jam, serta dukungan teknologi dan regulasi yang semakin baik," ujarnya.
Ia mengingatkan investor dan trader agar selalu mengedepankan dua prinsip utama, yakni knowledge first dan risk management always. "Pelajari dulu mekanismenya, gunakan tools teknologi secara bijak, terapkan manajemen risiko ketat, dan selalu trading dengan toleransi kerugian yang dapat diterima. Pilih advisor yang resmi berizin Bappebti," kata Odang.
Baca Juga
Net Sell Naik Jadi Rp 689,33 Miliar, Sebaliknya Saham BBCA dan BRPT Lagi-lagi Diborong Pemodal Asing
Untuk membangun ekosistem PBK yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Odang menilai penguatan literasi dan sosialisasi secara masif harus terus dilakukan. Selain itu, pemerintah diharapkan mendukung inovasi teknologi melalui regulasi yang adaptif.
Ia juga menilai pengembangan instrumen dan teknologi PBK perlu melibatkan akademisi, lembaga riset, profesional finansial, serta technology developer. Sebagai bagian dari upaya tersebut, SAS berencana menggelar roadshow literasi ke berbagai perguruan tinggi. Di sisi lain, pengawasan terhadap praktik ilegal juga perlu terus diperkuat disertai sinergi antara industri, akademisi, dan regulator. "Dengan kolaborasi yang kuat, PBK dapat menjadi pilar penting inklusi keuangan Indonesia," tutup Odang.

