Valuasi Saham Indonesia Sangat Menarik, MAMI: Pasar Butuh Katalis Lanjutan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai valuasi saham di Indonesia sangat menarik. Pasalnya, ratio forward price to earning (P/E) saham-saham yang masuk indeks MSCI Indonesia per akhir Juni mencatatkan angka 8,7 kali, sementara rata-rata lima tahun terakhirnya di level 13,2 kali. Namun, pasar masih membutuhkan katalis lanjutan.
“Di sisi lain, valuasi ‘murah’ juga dapat mencerminkan pandangan pasar yang belum memiliki keyakinan terhadap outlook jangka pendek pasar saham,” kata Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia, Freddy Tedja di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Selain pembenahan dan transformasi pasar saham yang sudah dimulai sejak awal tahun, Freddy memandang pasar masih membutuhkan katalis lebih lanjut. Unsur pendukung dimaksud meliputi arah kebijakan ekonomi yang jelas, konsisten, dan dipersepsikan tidak ‘destruktif’, serta adanya sinyal perbaikan pada perekonomian riil seperti konsumsi dan daya beli.
Baca Juga
S&P DJI Pantau Pasar Saham Indonesia, Ungkap Potensi Penurunan Klasifikasi ke Frontier
“Kita harapkan serangkaian rekalibrasi kebijakan yang banyak diumumkan pemerintah sejak Juni kemarin dapat diterima investor secara positif. Kemudian pembenahan pasar saham yang menjadi isu dari lembaga-lembaga internasional pembuat indeks juga dapat berjalan konsisten,” tegas Freddy.
MAMI mencatat pemerintah telah merespons sejumlah indikator pelemahan ekonomi, salah satunya melalui stimulus sebesar Rp 26,34 triliun untuk semester II-2026. Injeksi diberikan berupa bantuan pangan, insentif transportasi, serta program magang dan vokasi.
“Stimulus ini dapat membantu menjaga daya beli, tetapi kita harus menunggu efektivitasnya, di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas yang membatasi ruang pemberian stimulus lanjutan yang lebih besar,” tandas Freddy.
Perihal konsistensi dan komitmen disiplin fiskal, Freddy Tedja melihat pemerintah telah berupaya memperbaiki kondisi, melalui kebijakan-kebijakan yang lebih ramah pasar. Beberapa kebijakan dan rekalibrasi semakin marak dikomunikasikan sejak Juni 2026.
“Contohnya penurunan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG), target jumlah Koperasi Merah Putih yang berkurang dari 80 ribu ke 40 ribu, hingga pembatalan rencana skema bagi hasil minerba,” tutur dia.
Pemerintah, menurut Freddy, juga memberikan penegasan fungsi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang lebih jelas dalam wacana ekspor satu pintu tersebut.
Freddy menyimpulkan bahwa saat ini setidaknya ada faktor harapan baik untuk stabilitas rupiah, inflasi, dan arah BI Rate, yaitu meredanya tensi geopolitik dan normalisasi harga minyak dunia. Hal ini berkaca pada proses perundingan damai AS-Iran pada Juni 2026 yang terlihat lebih konkret.
Baca Juga
MSCI Tetap Bekukan FIF dan NOS Saham Indonesia hingga Evaluasi November 2026
“Sedangkan mengenai disiplin fiskal, ini yang masih harus terus dikomunikasikan dan dibuktikan oleh pemerintah,” ujar dia.
Dalam kondisi ini, kata Freddy, ada dua kunci pengambilan keputusan investor, yaitu seleksi dan disiplin alokasi. Seleksi diperlukan karena tidak semua aset yang murah otomatis menarik. Adapun disiplin alokasi dan ‘kesabaran akumulasi’ penting agar investor dapat membangun posisi secara terukur di tengah volatilitas yang masih tinggi.
“Di pasar saham, kualitas emiten lebih penting daripada sekadar valuasi murah. Untuk eksposur Asia, rantai pasok AI (kecerdasan buatan) dan semikonduktor tetap menjadi tema struktural yang menarik,” papar dia.
