Harga Minyak Melonjak Usai AS Blokir Ekspor Iran, Waspadai Tekanan bagi Bitcoin
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap pasar aset kripto. Analis Reku Andri Fauzan memperkirakan kenaikan harga energi dapat memicu inflasi yang lebih tinggi dan memperkecil peluang bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Ia mengatakan, harga minyak mentah Brent yang melonjak hingga menembus US$76 per barel setelah Amerika Serikat mencabut lisensi ekspor minyak Iran telah meningkatkan premi risiko di pasar energi. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang periode suku bunga tinggi yang umumnya berdampak negatif terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
"Harga energi yang naik berarti inflasi berpotensi meningkat lagi. Kalau inflasi naik, peluang The Fed memangkas suku bunga semakin kecil, bahkan bisa berbalik arah. Ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi lebih lama, aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin biasanya yang pertama terkena tekanan," ujar Andri dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga
Sertifikasi Influencer Kripto Resmi Diatur OJK, INDODAX Dorong Standar Kompetensi
Adapun Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$62.500 hingga US$63.750 per koin atau sekitar Rp1,12 miliar hingga Rp1,15 miliar. Sepanjang 2026, aset kripto terbesar tersebut telah terkoreksi sekitar 28%.
Di sisi lain, emas justru menunjukkan penguatan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Reku menilai kondisi tersebut mengindikasikan adanya kecenderungan investor mengalihkan sebagian portofolio ke aset yang dinilai lebih defensif.
Andri mengatakan investor perlu mencermati level harga Bitcoin di kisaran US$60.000 hingga US$62.000 sebagai area krusial. Apabila harga bergerak konsisten di bawah level tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut.
Baca Juga
Pasar Kripto Melemah Jelang Rilis Inflasi AS, Pelaku Pasar Waspadai Arah Suku Bunga The Fed
Selain itu, ia mengingatkan pelaku pasar untuk memantau rilis data inflasi dan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi indikator penting arah kebijakan moneter The Fed dan sentimen terhadap aset berisiko.
Dalam kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian, Reku menyarankan investor menerapkan diversifikasi portofolio sesuai profil risiko, termasuk mempertimbangkan eksposur pada aset defensif seperti emas maupun aset kripto yang didukung emas sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko.
