Koreksi Saham Antam (ANTM) Berlebihan, Valuasi Murah Jadi Peluang Akumulasi dengan Target Harga Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek bisnis PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih tetap solid, meski harga sahamnya mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Koreksi harga saham tersebut dinilai lebih dipengaruhi sentimen pasar, dibandingkan perubahan fundamental perusahaan, sehingga membuka peluang akumulasi bagi investor.
Dalam riset terbaru Sucor Sekuritas menyebutkan bahwa aksi jual saham ANTM beberapa hari terakhir terjadi telah menciptakan peluang beli (buy opportunity) dengan target harga Rp 5.500 atau terbuka peluang penguatan sebanyak 87,71% dari harga penutupan kemarin Rp 2.930.
Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa tekanan sentimen tidak mengubah prospek pertumbuhan bisnis ANTM. “Fundamental perusahaan tetap didukung oleh basis pendapatan domestik yang kuat, percepatan produksi, serta valuasi yang dinilai menjadi salah satu yang paling murah di sektor pertambangan,” tulisnya.
Baca Juga
Selain Tebar Dividen Rp 5 T, RUPS Ubah Susunan Direksi dan Komisaris Antam (ANTM)
Fundamental yang kuat tersebut ditunjukkan penegasan manajemen terhadap prospek kinerja tahun 2026 yang kokoh. Penjualan emas ditargetkan mencapai 40-50 ton atau tumbuh sekitar 7-34% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, produksi bijih nikel untuk smelter PT Karya Baru Agung (RKAB) diproyeksikan mencapai 18,1 juta wet metric ton (wmt) dengan target pemanfaatan kuota secara penuh.
Adapun penjualan feronikel diperkirakan tumbuh sekitar 12-25% secara tahunan. Meski terdapat kebijakan baru terkait Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih nikel, manajemen menegaskan harga jual yang direalisasikan masih belum berubah sehingga dampaknya terhadap laba diperkirakan bersifat netral untuk saat ini.
Selain itu, Andreas menyebutkan, harga acuan bijih saprolit berada di kisaran US$ 70 per wmt dan diperkirakan dapat bertahan selama pasokan dan kuota RKAB tetap stabil. Berdasarkan perkembangan tersebut, Sucor Sekuritas memilih untuk mempertahankan target-target kinerja keuangan ANTM masih sejalan dengan proyeksi awal tahun .
Prospek bisnis ANTM, terang dia, juga semakin menarik di tengah penguatan dolar Amerika Serikat. Pendapatan perusahaan yang berasal dari emas dan feronikel menggunakan denominasi dolar AS. Sedangkan sebagian besar biaya operasional dibayarkan dalam rupiah.
Baca Juga
Antam (ANTM) Yakin Fundamental Tetap Kokoh di Tengah Gejolak Pasar Modal
“Kondisi tersebut membuat setiap penguatan dolar berpotensi langsung meningkatkan margin keuntungan perusahaan. Proyeksi yang digunakan saat ini memang telah mengasumsikan nilai tukar rupiah yang stabil terhadap dolar AS, namun pelemahan rupiah di luar asumsi dasar diperkirakan dapat menjadi tambahan katalis positif terhadap laba ANTM,” tulisnya.
Selain itu, Sucor menyebutkan, ANTM relatif lebih terlindungi dibandingkan emiten berbasis ekspor, karena memiliki bauran pendapatan domestik yang kuat. Hal ini membuat perusahaan lebih mampu untuk menghadapi volatilitas harga komoditas maupun pergerakan nilai tukar.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas mempertahankan ekspektasi kenaikan pendapatan ANTM dari Rp 84,64 triliun pada 2025 menjadi Rp 128,14 triliun pada 2026, diharapkan kembali meningkat menjadi Rp 135,43 triliun pada 2027 dan Rp 143,71 triliun pada 2028.
Baca Juga
Harga Patokan Ekspor Emas Juli 2026 Turun 5,36%, Kemendag Ungkap Penyebabnya
Laba bersih juga diproyeksikan bertumbuh dari Rp 7,21 triliun pada 2025 menjadi Rp 10,01 triliun pada 2026, kemudian meningkat menjadi Rp 10,67 triliun pada 2027 dan Rp 12,15 triliun pada 2028. “Pertumbuhan laba bersih pada 2026 diproyeksikan mencapai 38,9%, sebelum kembali tumbuh normal sebesar 6,6% pada 2027 dan 13,8% pada 2028,” tulisnya.
Sejalan dengan itu, profitabilitas perusahaan diperkirakan semakin kuat. return on equity (ROE) diproyeksikan meningkat dari 19,7% pada 2025 menjadi 22,9% pada 2026, sementara Return on Invested Capital (ROIC) naik dari 24,4% menjadi 35,4% pada periode yang sama dan terus meningkat hingga 40,9% pada 2028.
Dari sisi valuasi, saham ANTM juga dinilai semakin menarik. Rasio price to earnings (P/E) diperkirakan turun dari 9,8 kali pada 2025 menjadi 7,1 kali pada 2026, kemudian menjadi 6,6 kali pada 2027 dan 5,8 kali pada 2028. Sementara itu, rasio enterprise value terhadap EBITDA (EV/EBITDA) diproyeksikan turun dari 6,3 kali menjadi 3,6 kali pada 2026 dan terus menyusut hingga 2,2 kali pada 2028, mencerminkan valuasi yang semakin murah.
