Pangkas Proyeksi Laba dan ‘Rating’ Perbankan, Samuel Sekuritas Tetap Jagokan Saham BMRI dengan Potensi Kenaikan 54%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Samuel Sekuritas Indonesia memangkas proyeksi pertumbuhan agregat laba dan peringkat (rating) perbankan. Kendati demikian, sekuritas tersebut tetap menjagokan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebagai pilihan utama (top pick) dengan target harga Rp 6.000 yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 54% dari saat ini.
Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi memproyeksikan laba bersih bank-bank besar (Big 4) tumbuh 7% secara tahunan (yoy) pada kuartal II-2026, tetapi turun 9% secara kuartalan (qoq) karena faktor musiman. Untuk semester I-2026, pertumbuhan laba diperkirakan mencapai 9% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan 10% (yoy) pada kuartal I-2026.
“Secara tahunan, kinerja bank masih terlihat resilient. Namun, investor perlu melihat lebih jauh ke paruh kedua tahun ini, karena tekanan suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan biaya kredit masih menjadi tantangan bagi sektor perbankan,” ujar Prasetya pada acara “Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia” di Menara Imperium, Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Baca Juga
Laba Bank Mandiri (BMRI) Tembus Rp 23,3 Triliun hingga Mei 2026, ROE Tetap Terjaga di Level 20%
Menurut Prasetya, kombinasi pelemahan rupiah dan suku bunga yang lebih tinggi merupakan latar belakang yang kurang ideal bagi sektor perbankan. Rupiah sempat melemah di atas Rp 17.700 per dolar AS, bahkan menyentuh level Rp 18.178 pada 8 Juni, sementara suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) telah naik 100 bps ke posisi 5,75%.
Kondisi itu, kata Prasetya Gunadi, berpotensi menekan bank melalui tiga jalur utama, yaitu kenaikan biaya dana (cost of funds), tekanan margin bunga bersih (NIM), serta risiko kualitas aset. “Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan cost of funds,” tutur dia.
Prasetya mengungkapkan, jika repricing dana pihak ketiga (DPK) bergerak lebih cepat dibandingkan aset produktif, margin bank akan tetap berada dalam tekanan. “Di saat yang sama, biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur,” tandas dia.
Samuel Sekuritas Indonesia juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan agregat laba sektor perbankan 2026 menjadi 1,8% dari sebelumnya 4,6%, seiring tekanan margin dan biaya kredit. Dengan latar belakang tersebut, rating sektor perbankan untuk 12 bulan ke depan diturunkan menjadi neutral dari sebelumnya overweight.
Meski demikian, Samuel Sekuritas tetap menjadikan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai pilihan utama atau top pick dengan target harga Rp 6.000, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 54% dari harga saat riset ini disusun.
Prasetya menambahkan, BMRI masih menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan laba sektor. Dalam proyeksi semester I-2026, laba bersih BMRI diperkirakan tumbuh 16% (yoy), sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu yang lebih tertinggal dengan pertumbuhan sekitar 3% (yoy).
Baca Juga
Bank Mandiri (BMRI) Tancap Gas! Laba dan Kredit Tumbuh Dua Digit, Bagaimana Target Sahamnya?
Secara keseluruhan, menurut dia, hasil kinerja perbankan pada kuartal II-2026 diperkirakan masih cukup kuat, tetapi fokus pasar akan bergeser pada kemampuan bank menjaga margin dan kualitas aset pada paruh kedua tahun ini.
Prasetya menjelaskan, dari sisi profitabilitas, pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) bank-bank besar tercatat 8% (yoy) pada pada Januari-Mei 2026, didorong BMRI yang tumbuh 14% dan BBNI 12%. Pendapatan bunga bersih Big 4 masih tumbuh 7% (yoy), di mana BBNI dan BMRI masing-masing naik 15% dan 10%, dengan pendapatan nonbunga tumbuh 13% (yoy).
Dia mengakui, pertumbuhan laba masih ada, terutama dari bank-bank yang mampu menjaga pendapatan bunga dan pendapatan nonbunga. “Tantangan utama ke depan adalah bagaimana bank menjaga margin, mengelola biaya dana, dan mempertahankan kualitas aset di tengah kondisi makro yang lebih ketat,” papar Prasetya.
