Tokenisasi Aset Melesat 600%, Ethereum dan Solana Diuntungkan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar aset kripto mulai memasuki fase baru dengan pesatnya pertumbuhan tokenized stocks atau saham tertokenisasi. Segmen ini dinilai berkembang lebih cepat dibandingkan aset kripto konvensional, seiring meningkatnya minat terhadap tokenisasi aset dunia nyata (real world assets/RWA).
Berdasarkan data yang disampaikan Reku, total nilai aset dunia nyata yang telah ditokenisasi di blockchain kini mencapai sekitar US$27 miliar hingga US$32 miliar, meningkat hampir 600% dibandingkan awal 2025. Sementara itu, nilai pasar saham tertokenisasi telah melampaui US$6,4 miliar, atau tumbuh lebih dari 422% dalam periode yang sama.
Saham tertokenisasi merupakan representasi digital dari saham perusahaan publik, seperti Apple, Tesla, dan Google, yang diterbitkan di jaringan blockchain. Instrumen ini menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan saham konvensional, antara lain dapat diperdagangkan selama 24 jam setiap hari, penyelesaian transaksi lebih cepat, dapat dibeli dalam pecahan kecil, serta terintegrasi dengan ekosistem keuangan berbasis blockchain.
Baca Juga
PINTU Catat Lonjakan Perdagangan Tokenisasi Aset di Tengah Tren RWA Global
Analis Reku Andri Fauzan mengatakan, tren tokenisasi aset menandai perubahan besar dalam perkembangan industri kripto yang sebelumnya lebih didominasi oleh Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai.
"Selama ini narasi utama kripto masih berkisar pada Bitcoin sebagai store of value. Kini institusi besar dari Wall Street mulai masuk lewat pintu tokenisasi aset nyata. Ini mengubah kripto dari aset spekulatif menjadi infrastruktur keuangan yang lebih luas," ujar Andri dalam keterangan tertulis dikutip Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, Ethereum menjadi blockchain yang paling diuntungkan karena lebih dari separuh aktivitas tokenisasi aset dunia nyata berlangsung di jaringan tersebut, dengan nilai mencapai sekitar US$15 miliar hingga US$16 miliar. Sementara itu, Solana dinilai menarik banyak proyek tokenisasi berkat kecepatan transaksi dan biaya yang rendah.
Di sisi lain, ONDO Finance disebut sebagai salah satu platform yang paling diuntungkan dari tren ini karena berfokus pada tokenisasi obligasi pemerintah Amerika Serikat dan saham publik, sehingga menjadi pintu masuk bagi investor institusi ke ekosistem blockchain.
Baca Juga
OJK Kaji Tokenisasi Emas Hingga SBN untuk Perluas Akses Investasi Digital
Reku menilai prospek tokenisasi aset masih akan berkembang pada paruh kedua 2026 seiring semakin jelasnya kerangka regulasi di berbagai negara, termasuk melalui penerapan Markets in Crypto-Assets (MiCA) di Eropa, pembahasan CLARITY Act di Amerika Serikat, serta potensi regulasi serupa di Indonesia oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Andri mengatakan, perkembangan tersebut membuka peluang bagi investor untuk mengakses aset digital yang didukung aset riil dan memiliki potensi imbal hasil yang lebih terukur.
"Investor yang memahami pergeseran ini lebih awal akan berada di posisi paling menguntungkan. Ini bukan lagi soal menunggu Bitcoin naik, tetapi memahami perubahan infrastruktur keuangan global," katanya.
