IHSG Bangkit 11% Sepekan, Namun Dana Asing masih Keluar dari Pasar Modal Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah bangkit lebih dari 12% dari level terendah tahun ini dan kembali menembus level 6.000. Namun, pemulihan pasar saham Indonesia tersebut belum diikuti oleh kembalinya aliran dana asing.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan investor asing masih membukukan net sell hampir Rp80 triliun secara year to date (ytd). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG saat ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik dibandingkan arus modal asing.
Menurut Liza, tingginya risk premium Indonesia masih menjadi faktor utama yang menahan masuknya dana asing ke pasar modal domestik.
Baca Juga
Investor Asing Akhirnya Net Buy Saham Rp 287,77 Miliar, BBCA dan BRMS Diborong
Investor global dinilai masih meminta premi risiko yang lebih tinggi akibat kombinasi pelemahan rupiah, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, ketidakpastian kebijakan, serta isu tata kelola dan kredibilitas pasar modal.
“SpaceX, World Cup, dan demo mahasiswa bukan ancaman utama foreign outflow Indonesia. Ketiganya lebih tepat dipandang sebagai additional reasons to wait, sementara akar persoalan tetap berada pada tingginya risk premium Indonesia akibat pelemahan Rupiah, ketidakpastian kebijakan, serta kekhawatiran fiskal dan governance,” kata Liza dalam risetnya, Jumat (12/6/2026).
Selain faktor domestik, Liza menilai pasar global juga menghadapi munculnya berbagai alternatif investasi yang menyerap likuiditas dalam jumlah besar.
Baca Juga
Salah satunya adalah IPO SpaceX yang disebut menghimpun sekitar US$75 miliar dengan valuasi mencapai US$1,77 triliun. Kondisi tersebut berpotensi membuat dana global tetap bertahan di Amerika Serikat dibandingkan mengalir ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pasar juga masih menantikan IPO sejumlah perusahaan teknologi besar seperti OpenAI dan Anthropic yang diperkirakan memiliki valuasi mendekati US$1 triliun.
Menurut Liza, kondisi tersebut menunjukkan bahwa narasi investasi global saat ini masih didominasi sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), sementara cerita pertumbuhan Indonesia masih bertumpu pada sektor perbankan, komoditas, konsumsi domestik, dan hilirisasi.
Di sisi lain, penyelenggaraan World Cup 2026 dinilai berpotensi menciptakan kebocoran likuiditas akibat meningkatnya aktivitas taruhan global. “Risiko terbesar bukan pada pasar saham secara langsung, melainkan berkurangnya likuiditas yang seharusnya dapat mengalir ke konsumsi dan investasi produktif domestik,” ujar Liza.
Baca Juga
Mendag Pastikan HET Minyakita Tak Naik, Tetap Rp15.700 dan Distribusi ke Pasar Rakyat Diperluas
Ia juga menilai rencana demonstrasi mahasiswa di sejumlah daerah dapat memperkuat sikap wait and see investor asing. Meski tidak berdampak langsung terhadap fundamental ekonomi, isu stabilitas sosial dan politik tetap menjadi perhatian ketika kepercayaan investor belum pulih sepenuhnya. Valuasi Saham Indonesia Dinilai Kian Menarik
Meski demikian, Liza melihat sejumlah faktor yang sebelumnya memicu tekanan pasar mulai menunjukkan perbaikan. “Kabar baiknya, sebagian faktor yang memicu kepanikan pasar beberapa waktu lalu mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Rupiah mulai stabil ke bawah Rp18.000 per dolar AS setelah BI Rate total naik 75 bps ke 5,50%, tensi geopolitik global mereda, dan respons pemerintah, regulator, serta pelaku pasar terlihat semakin terkoordinasi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan,” katanya.
Menurutnya, secara historis valuasi pasar saham Indonesia kini kembali berada pada level yang menarik. Setelah IHSG sempat terkoreksi ke level terendah sejak pandemi, valuasi pasar berada di kisaran 13-14 kali price to earnings (PE) sehingga mulai menawarkan diskon terhadap berbagai ketidakpastian yang masih ada.
Liza menegaskan Indonesia tetap menjadi salah satu negara dengan prospek jangka panjang yang kuat di kawasan ASEAN. Jika stabilisasi rupiah berlanjut, risiko fiskal tetap terkendali, dan konsistensi kebijakan semakin membaik, fase "Sell Indonesia" berpotensi berubah menjadi fase akumulasi.
Ia juga mengingatkan bahwa secara historis arus keluar dana asing tidak selalu menggagalkan peluang terbentuknya titik balik pasar. “Fakta menarik, pada 3 dari 4 krisis besar terakhir (2008, 2013, 2015, dan 2020), IHSG sudah lebih dulu naik 15%-56% sebelum foreign flow berbalik menjadi net buy. Dengan kata lain, absennya foreign inflow bukanlah alasan yang cukup untuk menolak kemungkinan bahwa pasar sedang berada dalam fase awal pembentukan recovery, although it’ll still be a bumpy ride,” terang Liza.
Ke depan, pasar masih menunggu sejumlah katalis penting dalam dua pekan mendatang, terutama hasil MSCI Market Accessibility Review dan FTSE Russell Rebalancing.
Menurut Liza, apabila Indonesia memperoleh sinyal yang lebih konstruktif terkait aksesibilitas pasar dan tata kelola, arus dana asing berpotensi kembali secara lebih terukur, bahkan sebagian investor institusi kemungkinan telah mulai melakukan positioning lebih awal.
