BBCA Jadi Buruan Asing, Harga Saham BCA Terbang 18,88% dalam 3 Hari
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investor asing mulai borong saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), seiring dengan berlanjutnya kenaikan harga saham bank dengan kapitalisasi terbesar ini selama tiga hari beruntun. BBCA berhasil menguat di tengah penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebanyak 0,28% menjadi 5.886 pada Kamis (11/6/2026).
Berdasarkan data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/6/2026), investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham BBCA senilai Rp 387,96 miliar. Bahkan, BBCA menjadi saham dengan net buy terbesar sepanjang hari ini.
Aliran deras dana asing tersebut berdampak terhadap kenaikan harga saham BBCA sebanyak Rp 175 (3,10%) menjadi Rp 5.825 pada penutupan hari ini. Dengan demikain, BBCA torehkan penguatan selama tiga hari beruntun dengan kenaikan 18,88%.
Baca Juga
Selain mencatatkan pembelian bersih oleh pemodal asing dan catatkan kenaikan harga, BBCA tercatat sebagai saham dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp 3,17 triliun atau berkontribusi senilai 14,25% terhadap nilai transaksi saham sepanjang hari ini.
BBCA juga tercatat sebagai saham bank KBMI IV dengan kenaikan harga paling pesat hari ini. Bandingkan dengan saham BBNI dengan kenaikan 1,45%, saham BBRI justru turun 1,04%, dan BMRI mencatatkan pelemahan sebanyak 0,23%.
Meski telah mencatatkan kenaikan harga pesat dalam dua hari terakhir, BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa saham bank saat ini masih ditransaksikan di bawah valuasi. Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 10.900. Dengan harga penutupan kemarin Rp 5.650, peluang kenaikan harga saham emiten kapitalisasi terbesar di BEI ini mencapai 92,92%.
Baca Juga
Saham BBCA Jadi Motor IHSG, Investor Domestik Serbu Saham Bank Saat Asing Masih Jualan
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan pada 2 Juni 2026 menyebutkan saham BBCA merupakan pilihan teratas untuk sektor perbankan. Saat ini, valuasi BBCA berada di kisaran mendekati minus dua standar deviasi (-2SD), dibandingkan rata-rata price to book value (P/BV) selama 10 tahun terakhir yang berada di level 2,1 kali.
“Kondisi tersebut dinilai menciptakan ruang valuasi yang menarik bagi investor. Selain itu, posisi BBCA sebagai bank dengan franchise yang kuat dan neraca keuangan yang dominan dinilai mampu memberikan bantalan terhadap pandangan pertumbuhan yang lebih moderat,” tulis Erindra Krisnawan.
Sebelumnya, BBCA telah menetapkan pembagian dividen interim termin pertama pada kuartal II tahun buku 2026. Pembagian dividen interim tersebut mempertimbangkan soliditas kinerja perusahaan periode 1 Januari 2026 sampai dengan 31 Maret 2026, serta komitmen perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada segenap pemegang saham.
Baca Juga
Pembagian dividen ini sesuai dengan keputusan direksi dan telah disetujui dewan komisaris BBCA, yaitu perseroan akan membagikan dividen interim termin pertama sebesar Rp 20 per saham yang akan dibagikan pada 26 Juni 2026.
Adapun cum dividen BBCA di pasar regular dan negosiasi ditetapkan pada 15 Juni 2026. Pembagian dividen ini didasarkan raihan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 14,68 triliun, saldo laba ditahan Rp 239,07 triliun dan total ekuitas mencapai Rp 259,35 triliun hingga Maret 2026.
