Saham Telkom (TLKM) Terbang 9% Sesi I, Intip Kembali Target Harganya
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) rebound pesat hari ini, Selasa (9/6/2026), usai RUPST perseroan menetapkan pembagian dividen Rp 21,9 triliun dan buyback sahm senilai Rp 4 triliun.
Berdasarkan data BEI hingga pukul 11.40 WIB, saham TLKM rebound sebanyak Rp 230 (9,36%) menjadi Rp 2.570. Meski demikian, performa saham emiten telekomunikasi terbesar di Indonesia ini masih catatkan pelemahan lebih dari 27% sepanjang year to date (ytd).
Baca Juga
Data Center Batam Telkom Laris Manis, Kapasitas Penuh Sebelum Beroperasi
Lalu, bagaimana prospek ke depan saham ini? CGS International masih mempertahankan rekomendasi buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.900 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan (upside) lebih dari 51%, dibandingkan harga saham TLKM di level Rp2.570 pada perdagangan Selasa (9/6/2026).
Rekomendasi tersebut telah mempertimbangkan penyesuaian proyeksi pertumbuhan kinerja keuangan perseroan untuk beberapa tahun ke depan. CGS memangkas proyeksi earning per share (EPS) TLKM untuk periode 2026-2027 sekitar 0,1% hingga 0,5%. Selain itu, estimasi laba bersih untuk periode yang sama direvisi turun sekitar 3,7% hingga 8,9% seiring perubahan sejumlah asumsi operasional dan meningkatnya biaya depresiasi.
Meski demikian, CGS menilai kinerja Telkom pada kuartal I-2026 masih berada dalam ekspektasi. Pendapatan perseroan telah mencapai sekitar 17,1% dari target sepanjang tahun, sementara laba inti berada di kisaran 17% hingga 19% dari proyeksi yang telah ditetapkan. Tekanan laba bersih terutama akibat peningkatan biaya depresiasi dan kerugian mark-to-market.
Baca Juga
RUPST Telkom (TLKM) Putuskan Dividen Rp 21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp 4 Triliun
Ke depan, pertumbuhan kinerja TLKM diperkirakan akan didorong oleh peningkatan average revenue per user (ARPU) layanan seluler, efisiensi biaya operasional, serta implementasi program pensiun dini atau Early Retirement Program (ERP).
Selain itu, monetisasi aset dan berbagai inisiatif pengurangan biaya dinilai dapat menjadi katalis positif yang mendukung pertumbuhan perseroan.
Di sisi lain, CGS mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor. Risiko tersebut antara lain persaingan harga layanan seluler dan fixed broadband yang semakin ketat, biaya spektrum yang berpotensi lebih tinggi dari perkiraan, serta kemungkinan hasil sengketa pajak yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan.

