Fenomena IPO SpaceX: Benarkah Jadi Biang Kerok Koreksi Pasar Kripto?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar finansial global saat ini sedang diguncang oleh euforia rencana Penawaran Umum Perdana (initial public offering/IPO) saham SpaceX. Perusahaan teknologi antariksa raksasa milik orang terkaya dunia Elon Musk tersebut bersiap untuk melantai di bursa Nasdaq dengan valuasi fantastis mencapai US$ 1,8 triliun dan target penggalangan dana sebesar US$ 75 miliar.
IPO perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk yang dijadwalkan berlangsung Jumat (12/6/2026) ini. IPO tersebut diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Wall Street dan berpotensi menjadi ujian terbesar terhadap narasi valuasi sektor AI yang selama dua tahun terakhir mendorong reli pasar saham global.
Namun, di balik gegap gempita Wall Street, muncul spekulasi panas bahwa tingginya minat terhadap IPO SpaceX menjadi pemicu utama ambrolnya harga Bitcoin dalam beberapa waktu terakhir. Investor ritel diduga kuat mulai membongkar portofolio aset kripto mereka demi memburu saham berkode SPCX tersebut.
Melansir data dari Cointelegraph, Senin (8/6/2026), SpaceX mengambil langkah yang cukup tidak biasa dengan mengalokasikan hingga 30% saham IPO untuk investor individu melalui platform populer seperti Robinhood, Fidelity, dan Charles Schwab.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata IPO konvensional yang biasanya hanya menyediakan porsi 10% untuk investor ritel. Tak heran, masa roadshow yang dibuka sejak Kamis lalu langsung mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) karena banjirnya pesanan yang masuk.
Dampaknya pun langsung terasa di pasar digital, di mana harga Bitcoin sempat terkoreksi tajam hingga 16% dan menyeret harganya ke bawah level US$ 60.000, sebelum akhirnya perlahan pulih ke kisaran US$ 63.000 pada Senin (8/6/2026) pagi ini. Jika ditarik garis lebih luas, Bitcoin saat ini memang sedang berada dalam fase volatilitas tinggi setelah mengalami penurunan hampir 40% dalam setahun terakhir dan terpangkas setengahnya dari rekor tertinggi sepanjang masa yang dicetak pada tahun 2025.
Baca Juga
Saham Berjangka AS Anjlok, Inflasi dan IPO SpaceX Jadi Sorotan Investor Wall Street Pekan Ini
Meskipun narasi perpindahan dana dari kripto ke saham SpaceX berembus sangat kuat, data makro on chain menunjukkan dinamika yang jauh lebih kompleks. Analisis dari CryptoQuant mengungkapkan bahwa arus keluar stablecoin seperti USDC dan Tether sebenarnya masih berada dalam batas wajar sejak Februari lalu, yang menandakan tidak adanya kepanikan massal modal keluar dari ekosistem kripto.
Sebaliknya, yang terjadi justru penarikan besar-besaran aset dari bursa kripto ke dompet pribadi, di mana sebanyak 66.470 Bitcoin dan sekitar 2,49 juta Ether dipindahkan keluar. Dalam dunia kripto, aktivitas ini umumnya diartikan sebagai sinyal kuat bahwa investor jangka panjang sedang melakukan akumulasi untuk menyimpan aset, bukan untuk menjualnya.
Biang kerok penurunan harga yang lebih nyata sebenarnya datang dari sektor institusional melalui produk dana investasi berbasis kripto. ETF Bitcoin spot mencatat rekor arus keluar dana (outflow) selama 13 hari perdagangan berturut-turut hingga awal Juni dengan total penarikan mencapai US$ 4,4 miliar, yang kemudian disusul oleh tren serupa pada ETF Ether selama 17 sesi berturut-turut. Penarikan dana massal dari ETF ini otomatis memaksa manajer investasi untuk menjual aset kripto yang menjadi landasannya di pasar spot, sehingga memberikan tekanan jual langsung yang mengoreksi harga pasar.
Baca Juga
Harga IPO SpaceX Tembus Rp 2,43 Juta per Saham, Eksposur Bitcoin Elon Musk Jadi Perhatian Pasar
Hubungan kausalitas secara matematis antara penurunan harga kripto dan IPO SpaceX sendiri belum bisa dipastikan sepenuhnya. Hal ini dikarenakan data blockchain tidak dapat melacak aktivitas transaksi internal yang terjadi di dalam akun pialang seperti Robinhood atau Coinbase.
Kepastian mengenai potensi perpindahan dana investor dari kripto ke saham baru ini kemungkinan baru bisa terkonfirmasi setelah perusahaan-perusahaan pialang tersebut merilis laporan aktivitas perdagangan kuartalan mereka berikutnya.
Di sisi lain, meskipun IPO SpaceX diprediksi akan mengalihkan perhatian dan likuiditas investor agresif untuk sementara waktu, terutama karena adanya pergeseran minat ke pasar prediksi yang sempat menggerus pendapatan kripto Robinhood hingga 47%, para analis menilai efek ini hanya bersifat temporer. Melansir dari Yahoo Finance, menariknya, dokumen prospektus IPO SpaceX justru mengungkap fakta mengejutkan bahwa perusahaan tersebut merupakan salah satu pemegang Bitcoin terbesar dengan kepemilikan sebanyak 18.712 Bitcoin atau setara dengan lebih dari US$ 1 miliar.
Fakta kepemilikan jumbo ini membawa angin segar dan validasi korporat yang kuat bagi industri kripto, karena membuktikan bahwa Bitcoin diakui sebagai aset cadangan keuangan yang sah oleh perusahaan teknologi paling inovatif di dunia. Langkah SpaceX ini berpotensi memicu efek domino yang mendorong emiten besar lainnya untuk ikut mengadopsi Bitcoin sebagai pelindung nilai eksternal di luar mata uang konvensional yang didukung pemerintah.
Oleh karena itu, komunitas kripto justru melihat kepemilikan ini sebagai alasan bullish jangka panjang untuk terus mempertahankan aset mereka. Sangat kecil kemungkinan para pedagang kripto akan sepenuhnya meninggalkan Bitcoin demi SpaceX, mengingat SpaceX sendiri mengoleksi Bitcoin dalam jumlah masif.
Sulit dipercaya bahwa para pedagang kripto akan sepenuhnya meninggalkan Bitcoin demi saham SpaceX jika SpaceX memiliki mata uang kripto tersebut. Bahkan, banyak pedagang kripto kemungkinan akan melihat kepemilikan Bitcoin oleh SpaceX sebagai alasan jangka panjang untuk membelinya, meskipun perhatian mereka untuk sementara teralihkan oleh kegembiraan seputar IPO.
Sesuai jadwal, SpaceX akan menetapkan harga final IPO pada 11 Juni dan mulai memperdagangkan sahamnya secara resmi di bursa Nasdaq keesokan harinya. Setelah euforia yang bersifat sekali terjadi ini mereda dan aktivitas perdagangan saham melambat, likuiditas pasar diperkirakan akan segera mengalir normal kembali ke sektor kripto serta pasar prediksi.

