Bitcoin Anjlok ke US$ 66.000, 5 Altcoin Ini Justru Melesat hingga 228%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) sempat merosot dari area US$ 70.000 ke US$ 66.000 pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Penurunan ini menyeret kapitalisasi pasar kripto global menyusut lebih dari 5% dalam sehari. Volume perdagangan melonjak tajam, menandakan likuidasi posisi leverage yang masif di tengah memburuknya sentimen risiko global.
Namun, di balik tekanan tersebut, sejumlah aset justru bergerak berlawanan arah. Altcoin seperti HYPE naik 19%, INJ menguat 19%, XLM melonjak 53%, H melesat 151%, dan LAB membukukan kenaikan 228% dalam sepekan terakhir.
Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai, divergensi ini mencerminkan rotasi likuiditas, bukan kepanikan menyeluruh. "Selera risiko investor tidak benar-benar hilang. Yang terjadi adalah rotasi ke aset-aset dengan narasi dan fundamental yang lebih spesifik. Ini pola yang sering mendahului fase ekspansi berikutnya," ujar Fahmi dalam risetnya, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga
Pasar Kripto "Kebakaran", BTC ETH BNB hingga SOL Jatuh Berjamaah di Atas 6%
Tekanan dari Dua Arah: Geopolitik dan Inflasi
Ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dunia, yang kini mulai merambat ke sektor-sektor di luar energi dan pangan. Data inflasi CPI (Consumer price index) dan PCE (Personal consumption expenditures) AS terbaru menunjukkan efek domino yang mulai meluas, mempersulit posisi The Fed dan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan.
Meski demikian, kepercayaan investor di pasar saham AS masih terjaga. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 1,11% dan 1,49% dalam lima hari terakhir, mengindikasikan pasar belum sepenuhnya memasuki mode defensif.
Institusi Justru Semakin Agresif
Di balik koreksi harga kripto, transformasi infrastruktur keuangan digital justru berakselerasi. DTCC, lembaga kliring tulang punggung Wall Street, mengumumkan rencana membawa saham, ETF, dan obligasi pemerintah AS ke jaringan blockchain publik mulai 2027. SoFi meluncurkan stablecoin sendiri, sementara Cash App mengintegrasikan pembayaran berbasis USDC kepada puluhan juta pengguna. Di sisi regulasi, CLARITY Act resmi masuk kalender Senat AS, yaitu sinyal kejelasan hukum yang selama ini ditunggu industri.
"Koreksi harga dan akselerasi adopsi institusional berjalan bersamaan. Jika dua siklus sebelumnya menjadi acuan, koreksi seperti ini justru sering menjadi titik masuk yang paling menguntungkan bagi investor," kata Fahmi.
Baca Juga
Sementara itu, Financial Expert Ajaib Panji Yudha mengatakan, pasar aset kripto mengalami turbulensi hebat di awal Juni seiring memanasnya konflik geopolitik dan memburuknya sentimen makro. Pada Rabu (3/6/2026), pemerintah Iran secara resmi mengklaim tanggung jawab atas peluncuran rudal yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait. Serangan yang diklaim sebagai aksi balasan atas dugaan pelanggaran kedaulatan di Pulau Qeshm ini semakin merusak selera risiko investor global.
Eskalasi tersebut memberikan pukulan telak bagi pasar. Bitcoin (BTC) anjlok ke area US$ 66.800, mencatatkan penurunan tajam lebih dari 9% sejak tanggal 1 Juni. Kejatuhan dramatis ini memicu badai likuidasi senilai US$ 1,5 miliar dan menyapu bersih valuasi pasar kripto hingga US$ 176 miliar. Tekanan jual ini berjalan lurus dengan tren eksodus masif dari Wall Street, di mana ETF Bitcoin Spot mencatatkan net outflow sebesar US$ 2,1 miliar dalam 10 hari perdagangan terakhir rekor rentetan penebusan terburuk sejak peluncurannya.
Dari sisi makroekonomi, kejatuhan ini bertepatan dengan dimulainya rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Kepanikan melanda pasar setelah probabilitas The Fed menaikkan suku bunga (rate hike) pada bulan September tiba-tiba melonjak drastis ke angka 23%. Sentimen hawkish ini turut menyeret turun saham-saham berafiliasi kripto; saham Strategy (MSTRX) terjun 9% pasca penjualan perdana Bitcoin mereka, disusul Coinbase (COINX) yang merosot 5% dan Circle (CRCLX) yang terkoreksi 4%.
Di tengah sentimen yang kelam, beberapa proyek altcoin tetap menunjukkan perkembangan yang positif. Avalanche (AVAX) mencatat lonjakan aktivitas on-chain hingga 761% usai FIFA merilis koleksi digital Right-to-Ticket (RTT) untuk Piala Dunia 2026 di jaringannya. Ekspansi institusional juga terjadi pada ekosistem Stellar (XLM) setelah raksasa remitansi MoneyGram meluncurkan stablecoin MGUSD guna memfasilitasi transaksi dolar lintas batas langsung dari aplikasinya.
Kabar positif lainnya datang dari token DEX Hyperliquid (HYPE). Analis ETF Bloomberg, James Seyffart, memproyeksikan bahwa manajer aset Grayscale kemungkinan besar akan meluncurkan ETF berbasis Hyperliquid di AS secepatnya pada pekan ini. Optimisme ini menguat setelah Grayscale melakukan revisi final pada dokumen pengajuan mereka ke regulator dengan menambahkan detail ticker dan biaya manajemen.
"Hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di rentang harga US$ 65.000 hingga US$ 68.000. Ethereum berpotensi bergerak di sekitar US$ 1.800 hingga US$ 2.000," ujar Panji dalam risetnya, Rabu (3/6/2026).

