Dividend Yield Kompetitif, Saham BCA (BBCA) Punya Prospek Jangka Panjang yang Kuat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA tetap menjadi salah satu saham perbankan favorit investor meski tingkat imbal hasil (yield) dividen yang ditawarkan masih berada di bawah Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun.
Analis Panin Sekuritas Elandry Pratama mengatakan bahwa secara perbandingan pendapatan pasif, dividend yield BBCA pada 2026 berada di kisaran 5,1%-5,8%, lebih rendah dibandingkan yield SBN tenor 10 tahun yang saat ini berada di rentang 6,7%-6,8%.
Meski demikian, Elandry menilai daya tarik utama BBCA tidak terletak pada besaran dividen semata, melainkan pada kualitas fundamental perusahaan, konsistensi pertumbuhan laba, serta peluang kenaikan harga saham dalam jangka panjang.
“Yang biasanya menjadi pertimbangan investor adalah total return, bukan hanya dividend yield. BBCA memiliki kualitas bisnis yang sangat baik, pertumbuhan laba yang relatif konsisten, serta potensi capital gain yang menarik dalam jangka panjang,” ujar Elandry kepada Investortrust.id, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga
Investor umumnya memilih BBCA karena kekuatan model bisnis, kualitas aset, serta rekam jejak pertumbuhan kinerja yang stabil.
Elandry juga menilai valuasi BBCA pada level harga saat ini sudah jauh lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk mulai mengakumulasi saham emiten perbankan terbesar di Indonesia tersebut.
“Pada level harga saat ini, valuasi BBCA menurut saya sudah jauh lebih menarik dibanding beberapa tahun terakhir. Untuk investor dengan horizon investasi jangka panjang, BBCA masih layak dikoleksi,” kata ia.
Dengan kombinasi fundamental yang kuat, pertumbuhan laba yang konsisten, serta valuasi yang semakin menarik, BBCA menurut ia, tetap memiliki prospek positif sebagai salah satu pilihan utama investor yang mengincar pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang.
Dari sisi kinerja, fundamental BCA tetap solid. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun sepanjang 2025, meningkat 4,9% dibandingkan laba tahun sebelumnya sebesar Rp 54,8 triliun.
Senada pengamat pasar modal Rendy Yefta menilai, koreksi harga saham BBCA sejak awal tahun 2026 justru membuka peluang bagi investor jangka panjang. Menurutnya, fundamental perseroan yang kuat didukung oleh dominasi dana murah (CASA), efisiensi operasional, serta basis nasabah yang loyal.
Ia menambahkan, secara historis pasar selalu memberikan valuasi premium kepada BBCA dengan price to book value (PBV) normal di kisaran 4 hingga 5 kali. Namun, tekanan pasar global dan rotasi sektor menyebabkan valuasi saham tersebut turun ke level yang dinilai lebih menarik.
Menurut Rendy, ketika sentimen pasar membaik dan valuasi kembali ke level normal, saham BBCA berpotensi mencatatkan apresiasi harga yang signifikan seiring kuatnya fundamental dan konsistensi pertumbuhan kinerja perseroan.
Baca Juga
Analis: Worst Case MSCI Sudah Lewat, BBCA Siap Uji Peluang Rebound
Dividend yield atau imbal hasil dividen merupakan rasio yang menunjukkan besarnya dividen yang dibagikan perusahaan dibandingkan dengan harga sahamnya saat ini. Angka tersebut menggambarkan potensi pendapatan tunai yang dapat diterima investor dari dividen dalam satu tahun.
Kondisi ini menempatkan saham BCA sebagai salah satu instrumen investasi yang menawarkan kombinasi menarik antara pendapatan dividen dan potensi pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang.
Sementara itu, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan 2026, BCA menyetujui pembagian dividen sebesar Rp 336 per saham dengan total nilai mencapai Rp 41,4 triliun atau setara payout ratio 72%. Angka tersebut menjadi salah satu rasio pembagian dividen tertinggi sepanjang sejarah perseroan.
Dividen per Kuartal
Tidak hanya itu, BCA juga mulai menerapkan skema pembagian dividen interim secara berkala. Jika sebelumnya dividen interim umumnya dibayarkan sekali dalam setahun, perseroan berencana membagikannya hingga tiga kali dalam setahun mulai 2026.
Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan bahwa perseroan akan membagikan dividen dengan payout ratio 72% pada tahun ini, meningkat dibandingkan 68% pada tahun sebelumnya.
"Benar kita akan melakukan pembayaran dividen interim. Biasanya kita lakukan di bulan Desember. Mulai tahun ini kita akan melakukan setiap kuartalan," kata Vera dalam paparan publik kuartal I 2026 BCA pada 23 April 2026.
Keunggulan tersebut dinilai menarik bagi investor karena selain berpotensi memperoleh capital gain dari kenaikan harga saham, pemegang saham BCA juga mendapatkan pendapatan dividen yang kompetitif. Sementara itu, SBN tetap menawarkan karakteristik risiko yang lebih rendah karena dijamin oleh pemerintah.

