IHSG Ditutup Melesat 1,11%, Saham BREN, CUAN, dan DSSA Cetak ARA
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Burs Efek Indonesia (BEI), Selasa (2/6/2026), ditutup melesat 68,05 poin (1,11%) menjadi 6.195. Rentang pergerakan 6.124-6.264 dengan nilai transaksi Rp 24,12 triliun.
Penguatan indeks kali ini ditopang lompatan saham big cap, khususnya emiten Prajogo Pangestu seperti BREN melesat hingga auto reject atas (ARA) sebanyak 24,85% menjadi Rp 4.120, CUAN melambung 24,60% menjadi Rp 785, dan TPIA naik 6,44% menjadi Rp 1.900. Kenaikan juga didukung ARA saham DSSA sebanyak 25% menjadi Rp 615.
Baca Juga
PGN (PGAS) Raih Pengakuan atas Tata Kelola dan Kepatuhan Hukum
Adapun sektor saham pendongkrak IHSG datang dari kenaikan saham sektor energi 1,61%, sektor material dasar 1,32%, sektor keuangan 0,27%, dan sektor infrastruktur 0,64%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor teknologi, properti, kesehatan, dan transportasi.
Adapun saham dengan kenaikan hingga ARA sepanjang hari ini, yaitu BEER naik 34,94% menjadi Rp 112, NZIA naik 34,85% menjadi Rp 178, KUAS naik 34,07% menjadi Rp 122, DSSA naik 25% menjadi Rp 615, BREN anik 24,85% menjadi Rp 4.120, CUAN naik 24,60% menjadi Rp 785, dan APLI naik 24,43% menjadi Rp 326.
Pekan lalu, IHSG ditutup torehkan penurunan sebanyak 0,56% menjadi 6.162 sepanjang pekan ini. Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan pasar saham dunia yang cenderung naik, bahkan cetak rekor tertinggi. Tekanan utama indeks pekan lalu datang dari kejatuhan saham big cap, seperti BBCA anjlok 3,39%, ASII melemah 7,41%, BBRI turun 3,28%, dan AMRT anjlok 19,3%.
Baca Juga
China Masih Menjadi Pasar Utama Ekspor Tiga Komoditas Strategis yang Diawasi PT DSI
Pelemahan juga datang dari penurunan mayoritas sektor saham pekan ini, seperti saham sektor industri terpangkas 2,31%, sektor konsumer non primer 2,45%, sektor keuangan 1,16%, sektor properti 1,96%, dan sektor energi melemah 1,17%.
Penurunan indeks pekan lalu memicu pelamahan IHSG BEI sepanjang year to date (ytd) menjadi 29,14% atau terburuk di dunia. Persentase penurunan tersebut jauh melampaui persentase penurunan indeks saham India yang hanya 12,26% di posisi kedua terburuk di dunia.

