Mirae Asset Pertahankan Rekomendasi Beli Saham KLBF, Target Harga Turun Jadi Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia memutuskan untuk mempertahankan rekomendasi beli (buy) terhadap saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Kendati demikian, target harga untuk saham emiten farmasi raksasa ini dipangkas ke level yang lebih rendah.
Analis Mirae Asset Sekuritas Andreas Saragih mengungkapkan, keputusan tersebut diambil seiring rilis laporan keuangan perusahaan pada kuartal pertama tahun ini. Pendapatan dan laba Kalbe dinilai masih sejalan dengan ekspektasi pasar, namun terdapat potensi peningkatan tekanan margin pada kuartal-kuartal mendatang akibat kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan Rupiah.
Kalbe membukukan pendapatan Rp 9,68 triliun yang tumbuh 9,4% (yoy) sepanjang Januari-Maret 2026. Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercapai Rp 1,03 triliun atau turun 4,4% (yoy). Adapun EBITDA tercatat Rp 1,5 triliun atau turun 3,9% (yoy).
“Hasil tersebut sesuai dengan perkiraan, dengan tingkat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih masing-masing mencapai sekitar seperempat dari proyeksi setahun penuh,” tegas Andreas dalam riset yang dipublikasi pada Selasa (26/5/2026).
Menurut dia, capaian tersebut masih berada dalam kisaran historis lima tahun terakhir untuk kinerja kuartal pertama, yakni pertumbuhan pendapatan sebesar 23%-26% dan laba bersih 23%-31% dari target tahunan.
Namun demikian, pertumbuhan negatif pada laba bersih secara tahunan utamanya didorong oleh bauran penjualan (sales mix) yang kurang menguntungkan.
Segmen distribusi yang secara alami memiliki margin lebih rendah justru mencatatkan peningkatan kontribusi pendapatan sebesar 3,5 poin persentase menjadi 36%. Kondisi ini semakin diperberat oleh tingginya biaya bahan baku dan efek depresiasi nilai tukar Rupiah.
Dari sisi segmen usaha, pendapatan farmasi tumbuh 6% (yoy) menjadi Rp2,63 triliun, ditopang penjualan produk generik bermerek dan produk lisensi. Meski demikian, margin kotor segmen ini turun menjadi 47,3% akibat tekanan nilai tukar dan keterbatasan ruang untuk menaikkan harga produk generik.
Baca Juga
Laba Kalbe Farma (KLBF) Naik 15,3% di 2025, Penjualan Tembus Rp35,32 Triliun
Sementara itu, segmen distribusi melesat dengan pendapatan mencapai Rp 3,49 triliun atau naik 21,1% (yoy) berkat masuknya prinsipal baru. Namun, margin kotor segmen ini tergerus menjadi 11,8% akibat perubahan komposisi prinsipal.
Adapun segmen kesehatan dan nutrisi konsumen mencatat pertumbuhan pendapatan, masing-masing menjadi Rp 1,4 triliun dan Rp 2,16 triliun. Kinerja kedua segmen didukung faktor musiman Ramadan dan Idulfitri, serta pertumbuhan volume penjualan.
Andreas mengatakan, manajemen KLBF saat ini memprioritaskan penguatan pasokan bahan baku dan efisiensi biaya, seperti mendiversifikasi sumber pasokan dan memperketat beban penjualan, umum, dan administrasi. Hal ini dilakukan di tengah tantangan daya beli masyarakat domestik, serta fluktuasi harga minyak dan nilai tukar akibat ketidakpastian geopolitik global.
Manajemen Kalbe juga berencana menaikkan harga jual secara selektif, sekitar 3%-5% pada segmen kesehatan dan nutrisi konsumen, sambil berupaya memacu kontribusi penjualan ekspor.
Meski kinerja perusahaan hingga kuartal pertama masih sesuai harapan, Mirae Asset memproyeksikan tekanan margin akan semakin berat pada kuartal-kuartal berikutnya.
Strategi penyesuaian harga dan efisiensi dinilai belum cukup kuat menahan laju kenaikan biaya input, khususnya untuk bahan baku dan kemasan, serta dampak lanjutan dari pelemahan Rupiah.
“Oleh karena itu, kami memangkas target multiple (kelipatan) valuasi kami menjadi 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. Penyesuaian ini menghasilkan target harga baru yang lebih rendah, yaitu menjadi Rp 1.030 per saham,” tulis Andreas.
Sebelumnya, riset Mirae Asset terhadap saham KLBF pada 28 Oktober 2025 menetapkan target harga saham Rp 1.880 dengan rekomendasi beli.
Sebagai catatan tambahan, analis juga mengingatkan investor terkait sejumlah risiko penurunan arah (downside risk), yang mencakup pelemahan mata uang Rupiah yang berkepanjangan, lonjakan harga minyak mentah, serta potensi lonjakan biaya produksi yang melampaui perkiraan.

