NETV Diversifikasi Pendapatan dan Perbaikan Rating, Target Harga Sahamnya Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT MDTV Media Technologies Tbk (NETV) tengah berupaya mendiversifikasi sumber pendapatan di tengah penurunan belanja iklan nasional (AdEx) di Indonesia. Salah satunya dengan membidik kenaikan pendapatan free-to-air (FTA) pada kuartal II-2026 melalui perluasan basis pelanggan iklan dari perusahaan konsumer konvensional ke BUMN dan pemerintah daerah.
Analis Samuel Sekuritas Fadhlan Banny mengatakan, manajemen NETV menargetkan pendapatan FTA mencapai Rp 10-11 miliar per bulan pada kuartal II-2026 atau naik 13,6%, dibanding rata-rata pendapatan bulanan Rp 8,8 miliar pada kuartal I-2026. Peningkatan kinerja tersebut akan didukung serial baru yang ditayangkan perseroan.
Selain itu, NETV optimistis terhadap kinerja kuartal IV-2026 berkat deretan serial drama baru, seperti “Ipar Adalah Maut” yang sebelumnya mencatat audience share dan rating tinggi pada kuartal IV-2025. “Pengembangan kerja sama baru dan serial drama dengan potensi monetisasi tinggi, ditambah upaya menjaga beban operasional di kisaran Rp 18 miliar per kuartal, NETV diprediksi mampu menekan rugi bersih menjadi sekitar Rp 61 miliar pada 2026 sebelum mencapai titik impas atau break even point (BEP) pada 2027,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
IHSG Diprediksi Bergerak Terbatas Hari Ini, Tiga Saham Dipimpin CPIN Layak Dilirik
Pada kuartal I-2026, NETV membukukan pendapatan bersih Rp 26,4 miliar atau naik 46% secara kuartalan, namun turun 19% secara tahunan. Realisasi tersebut setara 13% dari estimasi akibat monetisasi yang dinilai masih di bawah ekspektasi meski rating televisi dan audience share meningkat signifikan.
Peningkatan rating dan audience share mendorong rebound pendapatan iklan dan belanja iklan, terutama dari segmen FTA sebesar Rp 24 miliar, naik 45% secara kuartalan. Namun secara tahunan, kinerja masih tertekan akibat faktor musiman Ramadan yang lebih awal pada 2026.
Dari sisi profitabilitas, NETV mencatat laba kotor positif pertama setelah empat kuartal berturut-turut mengalami laba kotor negatif. Perseroan membukukan laba kotor Rp 1,3 miliar dengan gross profit margin (GPM) sebesar 5%, membaik dibanding minus 238,4% pada kuartal IV-2025.
Meski demikian, margin EBIT dan EBITDA masih negatif masing-masing sebesar minus 93,8% dan minus 80,5%. Rugi bersih juga menyusut signifikan menjadi Rp25,5 miliar dibanding rugi Rp 53,7 miliar pada kuartal I-2025 dan rugi Rp 149 miliar pada kuartal IV-2025.
Baca Juga
PLN Pulihkan 176 Gardu Induk di Sumatra, Pasokan Listrik Berangsur Stabil
Penurunan rugi tersebut dinilai belum mencapai titik impas akibat proses transisi dan adaptasi yang berlangsung lebih lama dari perkiraan dalam transformasi NETV menjadi saluran televisi berbasis drama.
Seiring perubahan fokus bisnis menjadi drama-centric channel, tahun 2025 disebut sebagai periode pembelajaran dan adaptasi bagi perseroan. Dengan pendekatan valuasi yang lebih konservatif, Analis Samuel Sekuritas Fadhlan Banny mengatakan, target harga saham NETV berbasis discounted cash flow (DCF) diturunkan menjadi Rp 100 per saham dari sebelumnya Rp 170 per saham.
Meski target harga dipangkas, potensi penguatan harga saham NETV masih jumbo lebih dari 40%, sehingga saham ini direkomendasikan belidengan optimisme terhadap potensi turnaround NETV yang didukung monetisasi intellectual property (IP) milik MD Entertainment.

