IHSG Bisa Teknikal Rebound, Tiga Saham Dipimpin OASA Layak Dilirik
JAKARTA, investortrust.id –Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/5/2026), masih berada dalam fase konsolidasi bearish dengan rentang pergearkan 6.500-6.720, namun peluang technical rebound terbuka. Tiga saham OASA, AUTO, dan HUMI layak direkomendasikan beli untuk hari ini.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bearish, namun kondisi oversold membuka peluang technical rebound jangka pendek. IHSG diproyeksikan bergerak pada rentang support 6.500 dan resistance 6.720, dengan fokus pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia di tengah tekanan nilai tukar rupiah.
Baca Juga
Laju indeks juga akan dipengaruhi pergerakan pasar saham Wall Street semalam setelah Dow Jones naik 0,32%. Sebaliknya Nasdaq dan S&P500 catatkan pelemahan masing-masig 0,074% dan 0,51%.
Terkait saham pilihan, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham OASA dengan target harga Rp 432-458, AUTO dengan target harga Rp 2.680-2.750, dan HUMI dengan target harga Rp 194-208.
Kemarin, IHSG sempat melemah sebanyak 325 poin atau lebih dari 4,3%, meski akhirnya ditutup level 6,599. Pemodal asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham mencapai Rp 463,99 miliar. Net sell terbanyak melanda saham ANTM senilai Rp 315,03 miliar, BREN senilai Rp 152,53 miliar, AMMN mencapai Rp 149,08 miliar.
Baca Juga
Tekanan terhadap indeks datang dari kejatuhan saham big cap, seperti TPIA, DSSA, AMMN, dan BREN. Penurunan juga dipicu pelemahan saham big bank, yaitu BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
Secara sectoral, semua sektor saham mengalami penurunan yang dipimpin saham sektor material dasar 5,17% dan transportasi 6,20%. Penurunan juga melanda saham sektor industry 3,25%, sektor energi 2,37%, sektor property 2,22%, infrastruktur 2,98%, dan sektor teknologi 2,21%.
Penurunan indeks disebut dipicu atas sentiment negative yang datang bertubi-tubi, seperti pelemahan rupiah, sentimen negatif global, hingga pengumuman MSCI dan FTSE yang masih membekukan pasar saham Indonesia dan mengeluarkan sejumlah emiten dari konstituennya.

