Dharma Satya Nusantara (DSNG) Jadi Kandidat Kuat The Best Investortrust Companies 2026, Cetak Laba Rekor dan Perkuat Bisnis Berkelanjutan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) menjadi salah satu kandidat kuat peraih penghargaan The Best Investortrust Companies 2026, ajang apresiasi tahunan yang diselenggarakan Investortrust untuk emiten-emiten terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI).
DSNG masuk nominasi karena dinilai berhasil menjaga pertumbuhan bisnis secara konsisten, memiliki fundamental keuangan yang kuat, profitabilitas tinggi, serta posisi keuangan yang semakin sehat di tengah dinamika industri global.
Kinerja Perseroan sepanjang 2025 menunjukkan pencapaian yang impresif. DSNG berhasil membukukan laba bersih rekor sebesar US$115 juta atau setara Rp1,8 triliun, melonjak 60,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba tersebut ditopang peningkatan pendapatan konsolidasi sebesar 21,7% menjadi US$786 juta atau sekitar Rp12,3 triliun.
Segmen kelapa sawit masih menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 88% terhadap total pendapatan Perseroan. Kinerja positif tersebut didukung kenaikan harga jual rata-rata crude palm oil (CPO) sebesar 13,2%, serta kondisi pasokan global yang relatif ketat.
Baca Juga
Laba Dharma Satya (DSNG) Melesat 15% di Kuartal I-2026, Segmen Ini Jadi Penopang Utama
Direktur Utama PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) Andrianto Oetomo, mengatakan implementasi kebijakan biofuel B40 di Indonesia turut menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas permintaan domestik dan menopang harga CPO pada level yang menguntungkan industri.
“Meskipun permintaan global tetap kuat, implementasi kebijakan B40 di dalam negeri telah menstabilkan permintaan internal, menjaga harga CPO pada level yang sangat menguntungkan bagi industri,” ujar Andrianto dikutip Senin (18/5/2026).
Dari sisi operasional, DSNG juga mencatatkan pertumbuhan produksi yang solid. Produksi Tandan Buah Segar (TBS) meningkat 3,8% menjadi 2,19 juta metrik ton, sementara produksi CPO naik 4,9% menjadi 631 ribu ton. Perseroan juga berhasil menjaga kualitas produk dengan kadar asam lemak bebas (FFA) tetap rendah di level 3%.
Tidak hanya mengandalkan bisnis sawit, DSNG terus memperkuat diversifikasi usaha melalui segmen produk kayu dan energi terbarukan. Divisi produk kayu mulai menunjukkan pemulihan signifikan dengan penjualan mencapai US$76 juta atau sekitar Rp1,2 triliun, didorong meningkatnya permintaan global terhadap panel kayu dan engineered wood flooring.
Sementara itu, bisnis energi terbarukan Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar US$14,4 juta atau sekitar Rp226 miliar. Pertumbuhan ini ditopang operasional penuh pabrik wood pellet di Boyolali, Jawa Tengah, yang memanfaatkan limbah kayu menjadi produk energi rendah karbon untuk pasar ekspor.
Baca Juga
Laba Bersih Dharma Satya (DSNG) Naik 60,2% pada 2025, Ditopang Harga CPO dan Volume Penjualan
Selain mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat, DSNG juga berhasil memperbaiki struktur permodalan melalui strategi deleveraging yang agresif. Hingga akhir 2025, total aset Perseroan tercatat mencapai US$1,12 miliar atau sekitar Rp17,6 triliun, sementara total liabilitas berhasil ditekan turun menjadi US$383 juta atau sekitar Rp6 triliun.
Langkah pembayaran utang bank secara bertahap tersebut mendorong total ekuitas Perseroan meningkat menjadi US$741 juta atau sekitar Rp11,6 triliun, memperkuat fondasi keuangan perusahaan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Manajemen DSNG menegaskan fokus Perseroan ke depan adalah menjaga disiplin operasional, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat praktik bisnis berkelanjutan di tengah terbatasnya ruang ekspansi lahan perkebunan akibat regulasi lingkungan.
Dengan kombinasi kinerja finansial yang kuat, diversifikasi bisnis yang semakin matang, serta komitmen terhadap pengembangan energi hijau dan keberlanjutan, DSNG dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan di masa mendatang.
Ajang The Best Investortrust Companies 2026 mengusung tema Indonesia's Capital Market Leaders in the Age of Fiscal Discipline, Governance Reform, and Geopolitical Risk. Penilaian dilakukan berdasarkan delapan indikator utama, yakni return saham satu tahun, volatilitas, likuiditas perdagangan, pertumbuhan penjualan dan laba operasi tiga tahun, margin operasional, asset turnover, danreturn on equity (ROE).
Selain aspek keuangan, penjurian mempertimbangkan tata kelola perusahaan, transparansi, keterbukaan informasi, serta kemampuan emiten menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Dari total 967 emiten di BEI, hanya 279 emiten atau sekitar 28,9% yang lolos tahap awal seleksi. Seleksi kemudian diperketat lagi melalui sejumlah indikator tambahan sehingga hanya 84 emiten yang berhasil melaju ke tahap lanjutan.
Rangkaian penjurian berlangsung sepanjang April hingga Mei 2026, mulai dari proses nominasi, polling pelaku pasar, wawancara, hingga rapat final dewan juri. Acara puncak penghargaan dijadwalkan berlangsung pada akhir Mei 2026.

