Saham BDMN Kembali Melesat Saat IHSG Tergerus, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), anggota MUFG, kembali mencatatkan kenaikan harga sebanyak 4,66% menjadi Rp 4.720 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.00 WIB, Senin (11/5/2026). Saham BDMN melesat di tengah kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 1,26%.
Harga Rp 4.720 tercatat sebagai level tertinggi atas saham BDMN hampir dalam 7 tahun terakhir. Kenaikan harga saham BDMN pagi ini berbanding terbalik dengan mayoritas saham sektor bank yang justru mengalami penurunan, seperti BBRI, BMRI, BBNI, BRIS, BBTN, hingga BNGA.
Baca Juga
Bank Danamon (BDMN) Catat Laba Rp 1,1 Triliun, Naik 35% Pada kuartal I 2026
Akhir pekan lalu, saham BDMN juga telah melesat sebanyak 11% menjadi Rp 4.510, meskipun IHSG tergerus lebih dari 2,5%. Adapun penguatan saham BDMN dalam sebulan terakhir telah hampir 90%. Kenaikan harga saham BDMN berbanding terbalik dengan sektornya yang justru mengalami penurunan,
Hingga kuartal I-2026, BDMN mencatatkan kenaikan laba bersih periode berjalan konsolidasian mencapai Rp 1,1 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 35% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan profitabilitas ini didukung dengan pertumbuhan 9% year on year pada total kredit dan trade finance konsolidasian, serta pertumbuhan 16% yoy pada total simpanan konsolidasian.
Baca Juga
IHSG Dibuka Tergerus 0,40%, Sebaliknya Saham FIRE hingga MORA Melambung
Dari sisi intermediasi keuangan, pada tanggal 31 Maret 2026, Danamon membukukan total kredit dan trade finance konsolidasian sebesar Rp 216,2 triliun, tumbuh 9% yoy. Pertumbuhan ini ditopang oleh pertumbuhan kredit 11% pada lini bisnis Enterprise Banking & Financial Institution, 9% pada lini bisnis SME Banking, 7% pada lini bisnis Consumer Banking, dan 5% pada lini bisnis Adira Finance.
Pada sisi penghimpunan dana, Danamon membukukan total rekening giro, rekening tabungan (current account and savings account atau CASA) dan deposito konsolidasian sebesar Rp 176,1 triliun, tumbuh 16% yoy.
Dalam sisi profitabilitas, sepanjang kuartal I 2026 Danamon membukukan pendapatan operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit atau PPOP) konsolidasian sebesar Rp2,6 triliun, tumbuh 12% yoy. Dengan perbaikan sebesar 13% pada biaya kredit (cost of credit), Danamon membukukan laba operasional konsolidasian sebesar Rp 1,6 triliun.

