Merdeka Gold (EMAS) Bidik Produksi Emas hingga 115 Ribu Ounces di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menargetkan produksi emas sebesar 100.000 hingga 115.000 ounces sepanjang 2026, seiring berlanjutnya peningkatan kapasitas dan fase ramp-up operasional di Tambang Emas Pani.
Pada kuartal I-2026, Perseroan mencatat produksi emas awal sebesar 1.818 ounces, dengan volume penjualan perdana mencapai 516 ounces. Capaian tersebut menandai transisi proyek Pani dari tahap konstruksi menuju operasi komersial.
Saat ini, kegiatan pengolahan masih mengandalkan satu heap leach pad aktif, sehingga kapasitas pemrosesan bijih belum optimal. Untuk mendukung peningkatan produksi, EMAS tengah menyelesaikan pembangunan sisa kapasitas heap leach dan menargetkan pengoperasian dua sel aktif pada semester II-2026.
Perseroan memperkirakan tambahan kapasitas tersebut akan meningkatkan secara signifikan laju penumpukan bijih dan produksi emas, dengan sebagian besar volume produksi diproyeksikan terealisasi pada paruh kedua tahun ini.
Baca Juga
Saham Merdeka Gold (EMAS) Melonjak 14% Sepekan, Dua Sentimen Ini Jadi Penopang
Di sisi operasional tambang, produksi bijih tercatat mencapai 2,5 juta ton. Kinerja tersebut didukung pengembangan jalan angkut dan optimalisasi armada berkapasitas besar guna meningkatkan efisiensi dan menekan biaya per unit.
Pada tahap awal operasi ini, cash cost masih berada di level tinggi, yakni sebesar US$1.202 per ounce termasuk royalti. Sementara itu, cash cost di luar royalti tercatat sebesar US$969 per ounce.
Perseroan memperkirakan struktur biaya akan terus membaik seiring peningkatan skala produksi, dengan cash cost bergerak menuju kisaran panduan US$900–1.100 per ounce pada 2026, tidak termasuk kredit perak dan royalti.
Presiden Direktur EMAS Boyke P. Abidin mengatakan fase ramp-up saat ini menjadi fondasi penting bagi efisiensi jangka panjang perusahaan.
“Kami melihat momentum yang kuat dalam peningkatan produksi, yang kami yakini akan mendorong tingkat produksi yang lebih tinggi dan konsisten ke depan seiring dengan berjalannya peningkatan skala operasi,” ujar Boyke dalam keterangan resminya dikutip Sabtu, (2/5/2026).
Selain itu, kegiatan pengeboran di Kolokoa juga telah menghasilkan indikasi tambahan sumber daya dalam empat bulan terakhir. Temuan tersebut dinilai mendukung potensi perpanjangan umur tambang, seiring eksplorasi yang terus dilakukan untuk memperluas basis sumber daya Perseroan.

