Minat Investor Berinvestasi di Instrumen Pasif Meningkat, BNI Sekuritas Soroti Strategi Berikut
JAKARTA, investortrust.id – PT BNI Sekuritas mengungkap peningkatan minat investor ritel Indonesia terhadap instrumen investasi pasif. Peningkatan ini bagian dari strategi pengelolaan portofolio untuk menghindari Risiko pasar saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah berfluktuasi.
Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas Teddy Wishadi mengatakan, invstrume investasi pasif dapat membantu investor menyebar risiko dan menjaga keseimbangan portofolio melalui kombinasi strategi pasif dan aktif.
Instrumen investasi pasif merupakan produk yang dirancang untuk mengikuti kinerja indeks tertentu, seperti indeks saham atau obligasi, tanpa pemilihan aset secara aktif. Contohnya, Exchange-Traded Fund (ETF) dan reksa dana indeks yang menawarkan diversifikasi dalam satu produk dengan biaya relatif efisien.
Baca Juga
BNI Sekuritas Edukasi Langkah Sederhana Jaga Akun Investasi di Era Digital
Data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, terdapat lebih dari 42 ribu investor ritel yang bertransaksi pada ETF, waran terstruktur, dan DIRE hingga November 2025. Secara keseluruhan, transaksi ketiga instrumen tersebut meningkat sekitar 300%.
Teddy menilai, peningkatan ini mencerminkan kesadaran investor ritel terhadap pentingnya diversifikasi portofolio. “Penggunaan strategi investasi aktif dan pasif secara bersamaan dapat membantu investor menyebar risiko di berbagai saham atau sektor, sekaligus menjaga portofolio tetap seimbang dalam kondisi pasar yang berfluktuasi,” ujar Teddy, Senin (20/4/2026).
Tren serupa juga terlihat secara global. Survei terbaru di India menunjukkan sebanyak 68% investor ritel telah memiliki setidaknya satu produk pasif, seperti ETF atau reksa dana indeks.
Menurut Teddy, data tersebut menunjukkan bahwa instrumen pasif semakin diperhitungkan sebagai komponen penting dalam portofolio modern, dan tren yang sama mulai berkembang di Indonesia.
Baca Juga
IHSG Sesi I Turun 0,16%, Sebaliknya Saham DEFI dan KICI justru ARA
Secara umum, strategi pasif menawarkan biaya lebih rendah dan kinerja yang mengikuti pasar. Sementara strategi aktif berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, namun dengan risiko dan volatilitas yang lebih besar.
Oleh karena itu, kombinasi kedua strategi menjadi pendekatan yang semakin banyak digunakan investor ritel. Instrumen pasif dapat dijadikan fondasi portofolio jangka panjang, sedangkan strategi aktif dimanfaatkan untuk menangkap peluang jangka pendek atau sektor tertentu.
Meski minat terhadap instrumen pasif meningkat, Teddy menegaskan bahwa strategi aktif tetap relevan, khususnya bagi investor yang ingin mengeksplorasi peluang pada saham individual atau sektor tertentu. “Kombinasi kedua strategi memungkinkan investor ritel menyebar risiko dan menjaga diversifikasi melalui instrumen pasif, sekaligus memanfaatkan peluang pasar melalui strategi aktif,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemahaman terhadap karakter masing-masing strategi akan membantu investor lebih siap menghadapi fluktuasi IHSG dan menyesuaikan portofolio sesuai tujuan investasi.

