Ancaman Trump ke Iran Kerek Harga Minyak Mentah dan Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali tertekan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (2/4/2026). Rupiah terdepresiasi 0,01% dan berada di posisi Rp 16.984 per US$ pada pukul 09.06 WIB.
Dolar AS menguat hampir di seluruh mata uang mitra dagang Indonesia, diantaranya yen Jepang, yuan China, dolar Singapura, hingga baht Tailan. Sementara itu, dolar Hongkong menguat 0,01% dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,13%.
Penguatan dolar AS pada pagi ini terjadi karena respons pasar terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang ingin menyerang Iran. Dalam pernyataannya di White House, Trump menyebut serangan ke Iran adalah investasi nyata bagi generasi AS mendatang.
Dikutip dari BBC, Trump mengatakan bahwa AS tak terhentikan sebagai kekuatan militer. Dia menyinggung lamanya perang pada abad ke-20 dan ke-21, yang berlangsung selama bertahun-tahun, sementara konflik ini baru berlangsung selama 32 hari.
Trump menyatakan bahwa rakyat Amerika tidak lagi berada di bawah ancaman agresi Iran dan “bayang-bayang ancaman nuklir,” serta bahwa AS akan menjadi “lebih aman, lebih kuat, dan lebih makmur” dibanding sebelumnya.
Baca Juga
Sempat Tembus Rp 17.000 per Dolar AS, Rupiah Menguat Pagi Ini
Kepala Kantor Ekonomi Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan pelaku pasar menantikan pernyataan Trump terkait perang dengan Iran.
AS akan mempertimbangkan gencatan senjata “ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan aman,” serta menambahkan bahwa pasukan AS dapat meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga minggu, yang memicu penurunan harga minyak.
Kondisi itu membuat harga minyak mentah Brent naik 4,64% pada pagi ini, berdasarkan Bloomberg, berada di posisi US$ 105,85. Sementara itu, harga minyak mentah WTI naik 3,71% ke posisi harga US$ 103,85 per barel.
Trump mengatakan bahwa negara-negara yang membutuhkan minyak dari Timur Tengah kini harus mengambil peran utama untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.
Pengiriman energi dari kawasan Teluk sebagian besar terhenti setelah Iran membalas serangan AS-Israel dengan mengancam akan menyerang kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz—jalur perdagangan laut yang sangat vital.
“Kepada negara-negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar, banyak di antaranya menolak terlibat dalam serangan ke Iran… kumpulkan keberanian yang sempat tertunda, pergilah ke Selat itu dan ambil saja. Lindungi jalur tersebut," ujar Trump.

