Uang Beredar Tumbuh Lebih Rendah pada Februari 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 tumbuh lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 10% secara tahunan (year on year/yoy).
Berdasarkan laporan BI, M2 pada Februari 2026 sebesar Rp 10.089,9 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan M2 pada Januari 2026 sebesar Rp 10.116,2 triliun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, M2 dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit.
“Tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 25,6% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 22,6% (yoy),” kata Deni dalam keterangan resmi, Jumat (27/3/2026).
Denny Prakoso mengungkapkan, penyaluran kredit pada Februari 2026 tercatat Rp 8.420,5 triliun, tumbuh 8,9% (yoy). Angka ini juga lebih rendah dibandingkan penyaluran kredit pada Januari 2026 yang tumbuh 10,2% (yoy).
Baca Juga
Berdasarkan jenis penggunaan, menurut Denny, kredit modal kerja (KMK) pada Februari 2026 tumbuh 3,7% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 4,7% (yoy).
“Perkembangan KMK dipengaruhi turunnya penyaluran kredit pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan, serta pertambangan dan penggalian,” tutur dia.
Di sisi lain, kredit investasi (KI) pada Februari 2026 tumbuh sebesar 20% secara tahunan. “Tapi, pertumbuhan ini tetap lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 22% (yoy),” ujar dia.
Denny menambahkan, kredit konsumsi (KK) pada Februari 2026 masih tumbuh 6,3% (yoy), di bawah pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 7,2% (yoy). Melambatnya pertumbuhan ini disebabkan perkembangan kredit kendaraan bermotor yang terkontraksi sebesar 7,9% (yoy).
Dia mengemukakan, kredit properti tercatat Rp 1.615,2 triliun atau tumbuh 13,7% (yoy). Angka ini di bawah pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 13,7% (yoy). Di sisi lain, penyaluran kredit kepada UMKM pada Februari 2026 mencapai Rp 1.484,9 triliun, terkontraksi 0,6%, melanjutkan kontraksi 0,5% (yoy) pada Januari 2026.
BI mencatat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) pada Februari 2026 sebesar Rp 9.449,1 triliun, tumbuh 9,2% (yoy). Angka ini melanjutkan pertumbuhan, meski melambat, dari bulan sebelumnya yang sebesar 10,8% (yoy).
Perkembangan DPK, kata Denny Prakoso, didorong seluruh komponen di antaranya giro, tabungan, dan simpanan berjangka. Giro tumbuh 17,6% (yoy), turun dari pertumbuhan Januari 2026 yang sebesar 19% (yoy).
Baca Juga
Adapun tabungan tumbuh 7,7% (yoy), lebih rendah dari Januari 2026 yang sebesar 8,8% (yoy). Sedangkan simpanan berjangka tumbuh 3,7% (yoy), di bawah pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 5,7% (yoy).
“Sejalan dengan itu, nasabah korporasi dan perorangan mengalami pertumbuhan yang lebih rendah, masing-masing 15,9% dan 2,4% (yoy),” ujar Denny.
BI mencatat uang primer pada Februari 2026 sebesar Rp 2.227,7 triliun, tumbuh 18,3% (yoy), naik dibandingkan pertumbuhan Januari 2026 yang sebesar 14,7% (yoy). Pertumbuhan ini didorong pertumbuhan giro bank umum di BI yang adjusted sebesar 33,6%, uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8%, uang kartal sebesar 15,8%, dan giro sektor swasta di BI sebesar 28,3% (yoy).
“Surat berharga yang diterbitkan BI dimiliki sektor swasta tercatat kontraksi sebesar 76,2% (yoy),” tutur dia.

