Risiko Geopolitik Global Tertinggi Pascapandemi, Defisit Fiskal RI dan Tekanan Pasar Kian Perlu Diwaspadai
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Sebuah kajian makro ekonomi terbaru yang dipublikasikan Selasa (17/3/2026) memaparkan bahwa risiko geopolitik global kini telah mencapai level tertinggi sejak pandemi, dipicu eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang terus memanas hingga pekan kedua Maret 2026.
Dalam sebuah laporan up date mingguan di pekan kedua Maret 2026, disebut bahwa konflik telah melampaui intensitas berbagai perang besar pascapandemi, termasuk perang Rusia-Ukraina pada 2022, dan menjadi ancaman geopolitik paling serius bagi pasar global saat ini.
Menurut kajian itu, pasar kini melihat konflik Iran-AS-Israel sebagai sumber utama disrupsi energi global jangka pendek. Ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz telah memperbesar kekhawatiran pasar atas pasokan energi, sehingga mendorong lonjakan harga komoditas, terutama minyak. Analisis ini mencatat harga minyak Brent melonjak 11,3% secara mingguan menjadi US$103,1 per barel pada pekan kedua Maret 2026, atau naik 69,5% sejak awal tahun. Lonjakan tersebut dinilai berpotensi memicu cost-push inflation global dan mempersempit ruang pelonggaran moneter di banyak negara.
Di Amerika Serikat, tekanan inflasi masih cukup tinggi dan belum kembali ke sasaran jangka panjang The Fed. Inflasi CPI AS tercatat stabil di 2,4% year on year pada Februari 2026, sementara inflasi PCE turun tipis ke 2,8% year on year pada Januari 2026, tetapi keduanya masih di atas target 2,0%.
Dalam situasi tersebut, ditambah kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah, pasar memproyeksikan Fed Funds Rate akan tetap ditahan di 3,75% pada rapat FOMC 18 Maret 2026 dengan probabilitas mencapai 99,2%. Bahkan, hingga akhir 2026 pasar hanya melihat peluang penurunan terbatas sebesar 25 basis poin ke level 3,50%.
Kondisi global itu berdampak langsung terhadap pasar keuangan internasional. Analisa ini juga mencatat volatilitas pasar obligasi global meningkat, tercermin dari kenaikan indeks MOVE, sementara persepsi risiko investasi global, yang diukur melalui CDS 5 tahun, juga naik di mayoritas negara. Mayoritas mata uang emerging markets terhadap dolar AS melemah seiring menguatnya ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi lebih lama.
DXY naik ke 100,36, sementara rupiah ikut melemah terbatas 0,22% secara mingguan pada pekan kedua Maret 2026. Bursa saham global juga serempak terkoreksi, diikuti kenaikan yield obligasi pemerintah 10 tahun di berbagai negara, mencerminkan repricing risiko dan meningkatnya kekhawatiran inflasi energi.
Di dalam negeri, tekanan global mulai bertemu dengan memburuknya persepsi terhadap risiko fiskal Indonesia. IHSG turun 5,91% secara mingguan ke level 7.137 pada pekan kedua Maret 2026, dengan seluruh sektor mengalami pelemahan. Penurunan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur, konsumsi siklikal, dan energi. Investor asing juga kembali mencatat net outflow sebesar US$0,09 miliar, berbalik dari posisi net inflow pada pekan sebelumnya. Kehati-hatian investor asing dipengaruhi kombinasi eskalasi geopolitik Timur Tengah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit fiskal Indonesia akibat lonjakan harga minyak.
Tekanan serupa tercermin di pasar obligasi domestik. Premi risiko Indonesia yang tercermin dari CDS 5 tahun naik 5,95 basis poin menjadi 92,46 pada pekan kedua Maret 2026. Sementara itu, yield SBN meningkat di seluruh tenor, dengan kenaikan paling tinggi pada tenor pendek seperti 1 tahun, 2 tahun, dan 5 tahun. BRI menilai kenaikan yield tersebut mencerminkan pasar yang mulai mengantisipasi kombinasi risiko eksternal dan potensi memburuknya postur fiskal domestik. Di saat yang sama, Bank Indonesia dinilai tetap menjalankan operasi moneter untuk menjaga stabilitas rupiah, tercermin dari naiknya yield SRBI di semua tenor dan outstanding SRBI yang masih berada dalam tren tinggi, meski sedikit turun menjadi Rp823,4 triliun pada data terakhir 6 Maret 2026.
Dari sisi domestik riil, daya tahan konsumsi rumah tangga masih ada, tetapi mulai dibayangi kehati-hatian yang lebih besar. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 127,0 pada Januari menjadi 125,2 pada Februari 2026, terutama akibat melemahnya komponen ekspektasi ekonomi ke depan. Meski demikian, indeks kondisi ekonomi saat ini justru masih naik, menunjukkan masyarakat masih menilai situasi ekonomi riil cukup baik, tetapi lebih waspada terhadap prospek jangka menengah. BRI juga menyoroti bahwa gap optimisme antara konsumen kelas menengah-bawah dan kelas atas masih lebar, mengindikasikan pemulihan daya beli belum merata dan masih lebih kuat ditopang kelompok menengah-atas.
Baca Juga
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Tetap Naik
Sikap hati-hati itu tercermin pula dalam pola penggunaan pendapatan masyarakat. Porsi pendapatan yang dialokasikan untuk menabung naik menjadi 17,7% pada Februari 2026, melanjutkan tren kenaikan sejak akhir 2025. Sebaliknya, porsi konsumsi turun seiring melemahnya keyakinan konsumen. Kenaikan porsi menabung terjadi di seluruh kelompok pengeluaran, dengan gap antar kelas yang mulai menyempit. Kondisi ini berpotensi menopang likuiditas perbankan dan pertumbuhan dana pihak ketiga, namun sekaligus menandakan bahwa pemulihan konsumsi dan kredit ritel kemungkinan masih berlangsung bertahap.
Preferensi masyarakat dalam menempatkan dana juga menunjukkan sikap defensif. BRI mencatat emas dan tabungan/deposito masih menjadi instrumen pilihan utama konsumen untuk menabung dalam 12 bulan ke depan. Minat terhadap emas tetap tinggi di level 41,3% responden, sementara tabungan/deposito dipilih oleh 37,9% responden. Di sisi lain, mayoritas responden masih menyatakan tidak mungkin membeli rumah dalam 12 bulan mendatang, menandakan akumulasi aset jangka panjang masih belum menjadi prioritas utama rumah tangga.
Aktivitas konsumsi domestik masih tumbuh, meski mengalami normalisasi secara bulanan. Indeks Penjualan Ritel (IPR) turun 2,7% month to month pada Januari 2026 menjadi 223,6, setelah naik pada bulan sebelumnya, seiring berakhirnya periode libur Natal dan Tahun Baru. Namun secara tahunan, pertumbuhan penjualan ritel justru meningkat menjadi 5,7% year on year, dari 3,5% pada bulan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa walaupun permintaan musiman mulai normal, konsumsi rumah tangga secara tahunan masih tetap resilien. Hampir seluruh kelompok barang mengalami penurunan IPR secara bulanan, kecuali kelompok rekreasi dan budaya yang masih naik tipis, didorong berlanjutnya aktivitas hiburan dan wisata pada awal tahun.
Secara kewilayahan, mayoritas daerah mengalami normalisasi IPR secara bulanan, dengan penurunan signifikan di Manado dan Surabaya. Namun secara tahunan, sebagian besar wilayah masih mencatat pertumbuhan positif. Mayoritas wilayah kini berada di kuadran dengan level IPR relatif rendah tetapi momentum pertumbuhan masih kuat. Karena itu, perbankan dinilai masih memiliki ruang untuk melakukan ekspansi kredit secara selektif berdasarkan momentum konsumsi di masing-masing wilayah.
Di sisi fiskal, kajian BRI kembali menegaskan bahwa defisit APBN hingga Februari 2026 telah melebar signifikan menjadi Rp135,7 triliun atau 0,53% dari PDB, dari Rp30,7 triliun atau 0,13% PDB pada periode yang sama tahun lalu. Defisit ini menjadi yang terdalam untuk bulan Februari sejak 2017. Pelebaran terjadi karena realisasi belanja negara sebesar Rp493,8 triliun tumbuh jauh lebih cepat dibanding penerimaan negara yang mencapai Rp358,0 triliun. Penerimaan pajak memang naik kuat menjadi Rp245,1 triliun, terutama ditopang PPN dan PPnBM, tetapi penerimaan kepabeanan dan cukai turun menjadi Rp44,9 triliun, sementara PNBP juga terkontraksi ke Rp68,0 triliun.
Sementara itu, belanja Pemerintah Pusat melonjak menjadi Rp346,1 triliun per Februari 2026, naik 63,6% dibandingkan tahun lalu, dan menjadi realisasi belanja Februari terbesar sejak 2017. Akselerasi belanja ini menunjukkan stance fiskal yang relatif ekspansif pada awal tahun, sehingga dapat menopang ekonomi dalam jangka pendek. Namun ruang fiskal perlu dicermati karena percepatan belanja belum sepenuhnya diimbangi oleh penerimaan. Meski pembiayaan anggaran per Februari 2026 masih relatif terkendali di Rp164,2 triliun, lebih rendah dari tahun lalu, BRI mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan ke depan, terutama melalui tekanan subsidi energi.
Secara keseluruhan, paparan analisis ini menyebut ekonomi Indonesia saat ini berada dalam persimpangan antara daya tahan domestik dan tekanan global yang makin berat. Dari satu sisi, konsumsi rumah tangga, tabungan, dan aktivitas ritel masih menunjukkan ketahanan. Namun di sisi lain, lonjakan risiko geopolitik, naiknya harga minyak, terbatasnya ruang penurunan suku bunga global, pelemahan pasar keuangan, serta meningkatnya risiko fiskal domestik menjadi kombinasi tekanan yang harus diwaspadai. Bagi perbankan, implikasinya mencakup meningkatnya risiko pasar, keterbatasan ruang penurunan cost of fund, serta perlunya pengelolaan likuiditas dan kredit secara lebih hati-hati.

