Usung “A Spirit of Dialogue”, WEF Ke-56 di Davos Soroti Kerja Sama Global di Tengah Fragmentasi Dunia
DAVOS, investortrust.id - World Economic Forum (WEF) akan menggelar Pertemuan Tahunan ke-56 di Davos, Swiss, pada 19–23 Januari 2026 dengan mengusung tema “A Spirit of Dialogue”. Tema ini mencerminkan urgensi membangun kembali dialog, kepercayaan, dan kerja sama global di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik, ketidakpastian ekonomi, serta percepatan perubahan teknologi..
WEF menyatakan, Davos 2026 akan mempertemukan para pemimpin dunia dari sektor bisnis, pemerintahan, masyarakat sipil, serta komunitas ilmiah dan budaya lintas generasi dan kawasan. Forum ini dirancang sebagai platform imparsial untuk pertukaran gagasan dan pencarian solusi atas tantangan global yang semakin kompleks.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri pertemuan ini. Ikut hadir sejumlah menteri ekonomi Kabinet Merah Putih, di antaranya Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani. Dari kalangan bisnis, akan hadir Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie dan WKUK Kadin Bidang Luar Negeri James Riady.
Baca Juga
Tema "A Spirit of Dialogue" menegaskan kembali semangat Davos yang telah dibangun lebih dari lima dekade, yakni keterbukaan, kolaborasi, dan dialog lintas kepentingan. Dalam situasi global yang ditandai oleh pergeseran aliansi, erosi kepercayaan, serta ketegangan geopolitik dan geoekonomi, WEF menilai dialog yang jujur dan inklusif menjadi prasyarat utama untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Diskusi Davos 2026 akan berfokus pada lima tantangan global utama. Pertama, kerja sama di dunia yang semakin penuh kontestasi, di mana norma internasional, keamanan, dan kedaulatan tengah diuji. Para pemimpin akan membahas kebutuhan akan mekanisme kolaborasi baru di tengah meningkatnya fragmentasi global.
Kedua, membuka sumber-sumber pertumbuhan baru. Inovasi teknologi, pengembangan modal manusia, dan integrasi global dipandang sebagai kunci menjaga pertumbuhan ekonomi, baik di negara maju maupun berkembang. WEF menyoroti potensi kecerdasan buatan generatif (generative AI) yang dapat menambah nilai triliunan dolar bagi ekonomi global, sekaligus mengingatkan risiko distorsi dan gelembung investasi jika tidak dikelola secara hati-hati.
Ketiga, investasi pada manusia menjadi agenda strategis. WEF mencatat transformasi teknologi, perubahan demografi, dan transisi hijau akan mengubah struktur pasar tenaga kerja secara signifikan. Laporan Future of Jobs 2025 menunjukkan satu dari empat pekerjaan berpotensi berubah sebelum 2030, sementara hampir 40% keterampilan saat ini diperkirakan menjadi usang.
Keempat, penerapan inovasi secara bertanggung jawab dan berskala besar. Davos 2026 akan membahas bagaimana AI, komputasi kuantum, bioteknologi, dan teknologi baru lainnya dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi dunia usaha dan masyarakat, dengan tetap berlandaskan prinsip etika, tata kelola, dan keberlanjutan.
Kelima, membangun kemakmuran dalam batas-batas planet. WEF menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak harus saling bertentangan. Investasi pada model ekonomi sirkular dan berbasis alam dinilai berpotensi menciptakan nilai ekonomi jangka panjang sekaligus mengurangi risiko ekologis yang kian meningkat.
Pertemuan Tahunan Davos 2026 juga akan digelar secara transparan dan inklusif, dengan lebih dari 200 sesi diskusi yang disiarkan langsung, kehadiran sekitar 400 jurnalis internasional, serta berbagai kegiatan publik dan komunitas lokal. Dengan pendekatan ini, WEF berharap Davos tidak hanya menjadi forum elite, tetapi juga ruang dialog global yang dapat diakses luas oleh publik.
Baca Juga
Kadin Indonesia Ingin Tampilkan Wajah Pemimpin Selatan-selatan di WEF
Melalui tema "A Spirit of Dialogue", WEF menegaskan di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, dialog yang terbuka dan kerja sama lintas sektor tetap menjadi fondasi utama untuk membangun kepercayaan, menjaga stabilitas, dan mendorong kemakmuran global yang inklusif dan berkelanjutan.
Di luar tema besar “A Spirit of Dialogue”, WEF Davos 2026 akan menjadi panggung diskusi intensif atas sejumlah isu strategis global yang saling berkelindan, mulai dari geopolitik, ekonomi, teknologi, hingga keberlanjutan lingkungan.
WEF menyebutkan agenda Pertemuan Tahunan ke-56 ini dirancang untuk merespons dunia yang semakin terfragmentasi, penuh ketidakpastian, dan dipercepat oleh disrupsi teknologi. Diskusi difokuskan pada lima klaster tantangan global utama yang akan membentuk arah kebijakan dan strategi lintas sektor dalam beberapa tahun ke depan.
Topik pertama adalah kerja sama di dunia yang semakin penuh kontestasi. Para pemimpin dunia akan membahas bagaimana kolaborasi global dapat tetap terjaga di tengah pergeseran aliansi geopolitik, melemahnya kepercayaan antarnegara, serta meningkatnya rivalitas ekonomi dan teknologi. Asumsi lama tentang keamanan, kedaulatan, dan tatanan global dinilai tidak lagi sepenuhnya relevan, sehingga dibutuhkan mekanisme kerja sama baru yang lebih adaptif.
Agenda kedua menyentuh upaya membuka sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Di tengah perlambatan ekonomi global dan risiko fragmentasi pasar, inovasi teknologi, penguatan modal manusia, serta integrasi ekonomi lintas kawasan kembali diposisikan sebagai motor pertumbuhan. Peran kecerdasan buatan generatif (generative AI) menjadi sorotan utama, baik dari sisi potensi lonjakan produktivitas maupun risiko distorsi pasar dan pembentukan gelembung investasi.
Topik ketiga adalah investasi pada manusia. WEF menilai ketahanan tenaga kerja global menjadi isu krusial di era perubahan teknologi dan demografi yang cepat. Diskusi akan menyoroti kebutuhan besar akan reskilling dan upskilling, penciptaan lapangan kerja baru, serta kesiapan tenaga kerja menghadapi transformasi digital dan transisi hijau. Data WEF menunjukkan sebagian besar pekerjaan dan keterampilan saat ini akan mengalami perubahan signifikan sebelum 2030.
Baca Juga
Selanjutnya, Davos 2026 akan membahas penerapan inovasi secara luas dan bertanggung jawab. Selain AI, teknologi seperti komputasi kuantum, bioteknologi, dan energi bersih akan dikaji dari sisi bagaimana inovasi dapat diakselerasi dari laboratorium ke dunia nyata, tanpa mengabaikan aspek etika, tata kelola, keamanan, dan dampak sosial. Akses terhadap teknologi juga menjadi perhatian agar manfaat inovasi tidak hanya terkonsentrasi pada segelintir negara atau kelompok.
Topik kelima berkaitan dengan pembangunan kemakmuran dalam batas-batas planet. WEF menekankan pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak harus saling bertentangan. Diskusi akan mengarah pada pengembangan ekonomi sirkular, regeneratif, dan inklusif, termasuk bagaimana dunia usaha dan pemerintah dapat merespons krisis iklim, degradasi alam, serta risiko ekonomi yang menyertainya. Transisi menuju model bisnis ramah lingkungan dinilai menyimpan potensi nilai ekonomi jangka panjang yang besar.
Selain lima agenda utama tersebut, WEF Davos 2026 juga akan menjadi ruang dialog lintas isu seperti masa depan globalisasi, ketahanan rantai pasok, keamanan energi dan pangan, serta AI sebagai arena baru persaingan geopolitik. Seluruh diskusi diarahkan untuk menghasilkan pendekatan yang lebih praktis dan berorientasi solusi, bukan sekadar pertukaran gagasan normatif.
Dengan menghadirkan ribuan pemimpin dunia lintas sektor dan kawasan, Davos 2026 diharapkan tidak hanya menjadi forum refleksi global, tetapi juga ruang untuk merumuskan langkah konkret dalam membangun kembali kepercayaan, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan global yang inklusif dan berkelanjutan—sejalan dengan semangat dialog yang menjadi tema utamanya.
Presiden Prabowo Hadir
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri WEF Annual Meeting 2026 yang akan berlangsung di Davos, Swiss. Kehadiran Presiden menegaskan komitmen Indonesia memperkuat diplomasi ekonomi dan posisi strategisnya dalam percaturan global.
Presiden Prabowo akan memimpin delegasi Indonesia dalam forum global yang mempertemukan para kepala negara, pemimpin bisnis dunia, organisasi internasional, serta tokoh masyarakat sipil tersebut. WEF Davos 2026 akan fokus pada kerja sama global, pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, dan keberlanjutan.
Sejumlah menteri bidang perekonomian dijadwalkan mendampingi Presiden Prabowo dalam rangkaian agenda Davos. Di antaranya Rosan Roeslani yang akan memimpin agenda promosi investasi dan pertemuan bilateral dengan investor global. Pemerintah juga membuka peluang kehadiran menteri ekonomi lainnya, seiring padatnya agenda diplomasi dan pertemuan bisnis selama Davos.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam pernyataannya menegaskan Prabowo masih dijadwalkan menghadiri forum tersebut, yang akan mempertemukan kepala negara dan pemerintahan, pimpinan bisnis global, akademisi, dan pemimpin organisasi internasional. Sejumlah laporan media Indonesia juga menguatkan undangan kepada Presiden Prabowo sudah diterima dan masuk dalam agenda, meskipun detail kepastian kehadiran seperti sesi atau pertemuan mana yang akan diikuti masih menunggu konfirmasi final dari pihak terkait.
Dari kalangan dunia usaha nasional, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) turut ambil bagian dalam delegasi Indonesia. Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, dijadwalkan hadir di Davos untuk mendampingi agenda ekonomi Presiden serta memperkuat peran sektor swasta Indonesia di forum global tersebut.
Selain itu, Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kadin Bidang Luar Negeri, James Riady, juga ikut hadir dalam rangkaian kegiatan WEF Davos 2026. Kehadiran pimpinan Kadin ini mencerminkan sinergisitas antara pemerintah dan dunia usaha dalam memanfaatkan Davos sebagai platform strategis untuk memperluas jejaring global, menarik investasi, dan mendorong kerja sama lintas negara.
WEF Davos 2026 diperkirakan dihadiri sekitar 2.500–3.000 peserta dari lebih dari 120 negara, termasuk puluhan kepala negara dan pemerintahan, ratusan CEO perusahaan global, serta tokoh masyarakat sipil dan akademisi. Forum ini menjadi salah satu ajang paling berpengaruh dalam pembahasan arah kebijakan global dan ekonomi dunia.
Dengan kehadiran Presiden Prabowo, jajaran menteri, serta pimpinan Kadin Indonesia, partisipasi Indonesia di Davos 2026 diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam dialog global mengenai pertumbuhan ekonomi inklusif, transformasi teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Kehadiran ribuan peserta dari 120 negara menjadikan WEF Davos 2026 sebagai salah satu pertemuan global paling representatif dan berpengaruh di dunia. Para peserta datang dari lintas geografi, industri, dan generasi, mencerminkan spektrum kepentingan global yang luas.
Forum ini akan mempertemukan kepala negara dan pemerintahan, menteri dan pejabat tinggi negara-negara G7, G20, dan BRICS, serta pimpinan organisasi internasional. Selain itu, CEO dan pimpinan puncak perusahaan global, khususnya perusahaan mitra WEF, juga menjadi bagian penting dari Davos setiap tahunnya.
Tidak hanya sektor pemerintahan dan bisnis, Davos 2026 juga menghadirkan tokoh masyarakat sipil, pemimpin serikat pekerja, wirausaha sosial, pemimpin agama, akademisi, ilmuwan, serta tokoh budaya. Kehadiran mereka memperkaya diskusi dengan perspektif sosial, etika, dan kemanusiaan di tengah dinamika global yang kian kompleks.
Baca Juga
Di WEF Davos, Anindya Bakrie Ungkap Peluang Indonesia Menjadi Pemain Penting Kendaraan Listrik
WEF mencatat sekitar setengah dari pemimpin yang hadir berasal dari Global South, mencerminkan pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatnya peran negara-negara berkembang dalam percaturan global. Selain itu, para pemimpin muda, inovator teknologi, dan anggota komunitas Global Shapers turut berpartisipasi, membawa gagasan segar dan pandangan masa depan.
Dari sisi keterbukaan publik, Davos 2026 akan didukung oleh lebih dari 400 jurnalis internasional serta siaran langsung ratusan sesi diskusi melalui platform digital WEF. Dengan demikian, pertemuan ini tidak hanya menjadi forum tertutup elite global, tetapi juga ruang dialog yang dapat diakses publik secara luas.
Sebagai edisi ke-56, WEF Davos 2026 melanjutkan tradisi yang telah dibangun sejak lebih dari lima dekade lalu, ketika forum ini pertama kali digagas sebagai European Management Symposium. Seiring waktu, Davos berkembang menjadi platform utama dialog global untuk membahas isu geopolitik, ekonomi, teknologi, sosial, dan lingkungan secara terpadu.
Tema “A Spirit of Dialogue” menegaskan kembali posisi Davos sebagai ruang netral dan imparsial untuk membangun kembali kepercayaan, di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, serta disrupsi teknologi yang cepat.
Melalui kehadiran ribuan pemimpin dunia dan agenda yang berfokus pada kerja sama global, pertumbuhan ekonomi, investasi pada manusia, inovasi bertanggung jawab, dan keberlanjutan, WEF Davos 2026 diharapkan menjadi titik temu penting untuk merumuskan arah baru tata kelola global di tahun-tahun mendatang.

