Airlangga Bertemu Tim AS di Jakarta, Negosiasi Tarif Masuki Tahap Akhir
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan tim negosiasi Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Pertemuan itu membahas sejumlah isu dalam proses negosiasi tarif dagang.
Airlangga mengatakan dalam pertemuan itu, sejumlah isu yang menjadi perundingan kedua negara sudah rampung. Dengan demikian, proses negosiasi tarif resiprokal telah memasuki tahap akhir.
Baca Juga
Prabowo Siap Teken Tarif RI-AS, Tunggu Penyusunan Draf Perjanjian
"Tadi Under Secretary-nya baru saja ketemu di kantor khususnya negosiator mengenai agrikultur. Secara keseluruhan isu-isu sudah terselesaikan," kata Airlangga seusai menghadiri penyerahan bonus kepada peraih medali SEA Games Thailand 2025 di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Airlangga mengatakan, dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas upaya menyeimbangkan neraca perdagangan. Saat ini, perdagangan sektor pertanian Indonesia positif terhadap AS.
"Terkait migas juga nanti akan kita laksanakan sesudah perjanjian resiprokal tarif ditandatangani baru. Kita mulai bicara impor migas, cuma kan kemarin MoU impor sudah ditandatangani," katanya.
Airlangga mengatakan, tim negosiasi Indonesia akan terbang ke AS untuk merumuskan perjanjian atau legal drafting kedua negara pada Senin (12/1/2026) mendatang. Proses legal drafting diperkirakan akan berlangsung selama sekitar sepekan.
"Hari Senin tim akan berangkat ke Washington, dijadwalkan untuk legal drafting dalam waktu 5 - 7 hari," katanya.
Airlangga memastikan proses negosiasi tarif resiprokal ini tidak terpengaruh dengan konflik Amerika Serikat dan Venezuela. Ditekankan, konflik tersebut merupakan persoalan Amerika dengan Venezuela.
Baca Juga
API Minta Presiden Prabowo Lobi Trump agar Tarif Ekspor Tekstil ke AS Bisa 0%
"Tidak itukan geopolitik. Berbeda, itu wilayah backyard Amerika dan itu sudah menjadi persoalan sejak nasionalisasi Huga Chavez. Persoalannya panjang hanya saja setahun ke belakang eskalasi terjadi. Tapi tidak berkaitan dengan kepentingan ASEAN, karena ASEAN juga menjadi kepentingan, karena berada di regional Asia Pasifik juga," kata Airlangga.

